Friday, September 29, 2017

Kenapa Baby Kelana Gak Punya Instagram?

Bukan cuma temen-temen gue, tp tnyata banyak banget mak-mak sosmed masa kini yang udah kerajinan bikinin anaknya instagram. Gak cm instagram, ponakan gw sendiri malah punya akun facebook. Terus adek sobat gw sendiri adalah seorang selebgram. FYI, mereka masih di bawah 5 tahun loh dan followersnya juga ngalahin gw.

Fenomena ini salah nggak sih? Hmmm, gw sih nggak bisa bilang salah atau benar. Tapi gw pribadi adalah salah seorang yg enggan bikinin anak gw sosmed apapun. Biarlah nanti jika dia mengenal gadget dia sendiri yang buat dan bertanggung jawab sama kehidupan sosmednya.

Jadi akhirnya baby Kelana wara wiri di postingan akun sosmed emaknya. Sama sekali nggak punya akun sendiri. Tapi biarlah, because its doesnt matter at all. Kenapa sih nggak dibikinin sendiri aja? Ini kan akun emaknya, masa isinya anaknya semua (akhir-akhir ini gw jarang posting soal gw malahan).
Well, these were the reason that makes me still didnt want to make it:

1.       BANYAK BANGET PEDOFILIA BERKELIARAN DI DUNIA MAYA

Duh, gw dibilang parnoan sih sama sepupu gw? Kata dia, sepanjang akun sosmednya di private it doesnt matter. Masalahnya gw baru beranak 1 kan, apalah gw ini jika dipostingan akun baby Kelana terlalu nampak seksi dan mengundang para PENJAHAT tsb untuk mengambil foto tanpa izin, menyebarluaskan, disalahgunakan, dsb. MESKIPUN itu sudah di private account dan mereka ternyata menyamar menjadi salah satu followers.

Menurut gw, misalkan elo bikin akun sosmed pun buat anak lo, paling enggak private akun lo jangan public, jadi lo bisa memilih mana yang pantes gw approved mana yang akun gajebo.
Gw sih no comment ya dengan maraknya selebgram anak-anak di zaman sekarang, back to their own parents sih ya. Kalo gw sih engga dululah mengeksploitasi anak gw di sosmed.

2.       NO TIME
Yeah, selain jadi IRT, gw ada blog yang harus gw isi, akun artikel di sebuah media yang mesti gw kelola, online shopping gw dan juga akun sosmed gw sendiri yang mesti gw urus. Even gw eksis di sosmed gw, gw kayaknya udah bener-bener no time untuk ngurus akun lain selain online shop gw.

3.       PUNYA INSTAGRAM (SOSMED) ATAU ENGGAK ADALAH HAK SETIAP ORANG

So, menurut gw, ada beberapa orang yang enggak pakek sosmed (contohnya lakik gw) dia sama sekali nggak punya sosmed selain facebook. Itu pun udah ga pernah diurusin sama dia. Dan setiap kali gw tanya kenapa nggak bikin (instagram misalnya), jawabannya simpel: MALES. Yaaa, for some people socmed isnt a big deal. Jadi gw pikir anak gw juga berhal untuk menentukan sendiri dia perlu sosmed atau enggak.

4.       MENGHINDARI MASALAH HUKUM

Jadi, setau gw, kalo di Amrik sana, ada seorang remaja (anak) belum cukup umur membuat sebuah sosmed, dia kena pasal. Dan yang ditindak itu bukan si anak, tapi ortunya. Itulah kenapa misalkan, kaya artis-artis gitu yang anaknya pada punya sosmed, pasti ditulis “Akun di managed oleh ortu” supaya si anak nggak kena hukum karena punya akun sosmed di usianya yang bahkan belum ada 5 tahun.

So, kalo kalian bilang gw idealis. Yeah, mungkin. Bekos gw skrg adalah a new mum for a tiny little baby in this mean world. Orang-orang bisa dengan mudahnya menjudge elo hanya karena foto. I dont want my baby hear the worst word, paling enggak sampai dia cukup mengerti dan bisa menjaga emosinya untuk nggak marah hanya gara-gara orang bilang: “Kamu jelek ya, kamu hitam ya, kamu gendut ya, kamu kurang makan ya?” endesbre, endesbbre endesbre.



Wednesday, September 13, 2017

Tahu Baxo Bu Pudji Khas Kota Ungaran yang Melegenda


Menikmati kelezatan Tahu Baxo Bu Pudji Khas Kota Ungaran membuat gue selalu teringat pada usaha rintisan Bu Pudji dari nol, saat Tahu Baxo tersebut masih dalam bentuk gerobak dan cuma mangkal di beberapa lokasi yang ramai di Kota Ungaran, sebuah kabupaten di dekat Ibukota Provinsi Jawa Tengah, Semarang. Itulah kenapa Tahu Baxo ini sekarang juga dikenal sebagai oleh-oleh alternatif lain dari kota Semarang, selain bandeng, wingko babat dan juga lumpia.

http://www.semarangcoret.com/2016/01/berburu-tahu-baxo-bu-pudji-di-ungaran.html

Saat itu, gue masih SMP kelas 1, sekitar tahun 2000-an. Gue bersekolah di salah satu SMP Negeri favorit di Kota Ungaran yang memang terletak di tepi jalan raya utama kota tersebut. Setiap siang menjelang sore, mas-mas penjual tahu baso tersebut rajin mangkal di depan sekolah kami, lengkap dengan gerobak yang sudah dilengkapi tahu baso siap goreng, penggorengan, minyak dsb. Gue masih inget saat itu harga 1 buah tahu baso hanya dibanderol Rp 250,- saja. Gue juga inget banget, uang saku gue yang cuma seribu rupiah, bisa mendapatkan 4 buah tahu baxo yang lezat, cocok untuk pengganjal perut saat istirahat atau sebelum kegiatan ekstrakulikuler. Tapi meskipun hits saat gue SMP, ternyata Bu Pudji merintis usahanya dari tahun 1996, saat gue bahkan masih SD.

Tahun 2003, gue yang sudah menjadi siswi SMA di salah satu SMA Negeri favorit kota tersebut juga, yang hanya berjarak 500 meter dari sekolah SMP gue, tahu baxo tersebut masih gue temui dengan menggunakan gerobak. Kali ini si mas-mas rajin pindah-pindah tempat, dari lokasi di mantan SMP gue, kemudian ke depan SMA gue (di sini si mas-mas tersebut mangkal agak lama, soalnya SMA gue bersebelahan sama Masjid Agung Istiqomah, masjid raya terbesar di kota Ungaran saat itu yang lumayan rame hiruk pikuk kegiatan islaminya, termasuk sekolah TK/SD yang berada di dalamnya, ceramah yang diikuti jamaah dan jauh lebih ramai ketika sholat jumat tiba).

Tentunya, tahun berganti harga yang dibanderol untuk buah tahu baso pun meningkat. Hal ini wajar, karena beliau memakai olahan daging sapi yang banyak. Berbeda dengan tahu baso di pasaran yang lebih banyak tepung patinya. Seingat gue, saat itu sudah mulai menginjak Rp 500,- per tahunya. Dan ketika gue naik kelas ke kelas 2, harganya menyesuaikan menjadi Rp 750,-.

FYI aja, keluarga gue lumayan sering memborong tahu baso Bu Pudji untuk acara arisan, pengajian dan bahkan hanya untuk sekedar santap sore, saat kami sekeluarga berkumpul menonton tv.

Menjelang gue kelas 3, gue udah fokus dengan ujian akhir, sehingga gue lebih banyak menghabiskan waktu gue di dalam kelas, dan gue menjadi kurang up date mengenai tahu baxo favorit gue ini. Meskipun di rumah terkadang keluarga gue masih menyajikan tahu baxo tersebut untuk menemani gue belajar. Saat itu, gue dengar Bu Pudji telah berhasil membangun gerai pertamanya sekitar 1 km dari rumah gue. Sehingga konsumen dan pelanggan tetapnya tidak perlu pesan ke rumah beliau (sebelumnya seperti itu) jika ingin membeli dalam jumlah sedikit maupun banyak.

Saat gue kuliah di kota tetangga, sebuah universitas swasta di kota Salatiga, gue kadang ditanya teman-teman kuliah gue, apakah gue dekat dengan gerai jual Tahu Baso Bu Pudji. Gue heran, mereka yang berasal dari daerah lain mengenal tahu baxo kota gue dan bahkan tertarik untuk membelinya dengan menitipkan uangnya ke gue. 

Saat itu gue lumayan sering dititipin tahu baso ini oleh mereka. Seingat gue pula, saat tahun 2006-2007, tahu baso Bu Pudji semakin terkenal. Setiap gue mendatangi gerainya, banyak bus-bus wisata dari berbagai kota mampir untuk memborong tahu baso Bu Pudji. Antrian pun tak terelakkan. Bahkan saat itu pernah dibatasi per satu orang pembeli hanya boleh membeli 2 dus saja karena antrian yang mengular.

Insting bisnis Bu Pudji tak berhenti, beliau mulai menjajakan oleh-oleh khas dari daerah lain yang ikut diletakkan di dalam gerainya, agar pembeli bisa memperoleh alternatif lain selain tahu baxo saja sebagai oleh-oleh. Selain itu, beliau juga menambahkan sedikit area tambahan untuk kedai mie baso kecil-kecilan dengan bahan baku yang hampir sama dengan tahunya, di dalam gerai tersebut.

Saat gue lulus kuliah dan keluarga gue pindah ke Jakarta, sekitar tahun 2010, Bu Pudji beberapa kali pindah lokasi untuk memperluas bisnisnya (masih di kota Ungaran), karena lokasi yang lama sudah tidak memungkinkan dalam hal parkir dan kenyamanan. Saat itu harga tahu baxo Bu Pudji sudah menjadi Rp 2,000 per tahunya. Hal yang lumrah mengingat harga bahan bau utamanya yaitu daging sapi, mengalami peningkatan yang cukup tajam.

https://ksmtour.com/pusat-oleh-oleh/oleh-oleh-khas-semarang/tahu-bakso-pudji-meski-sederhana-namun-lezat.html


Sampai hari ini, 7 tahun kemudian, gue masih terkadang menitip tahu baxo lewat bokap gue, yang kadang masih ada urusan di kota lama gue. Dalam kepengurusan traveling-nya yang lumayan sering bokap gue mengandalkan banyak online booking salah satunya adalah LADITA TOUR untuk mengatur akomodasinya. Di web ini gampang banget untuk semua traveler yang ingin booking pesawat, hotel bahkan rental mobil.

http://www.laditatour.com/
Kalopun setiap traveling, beliau gak sempet beliin keluarganya oleh-oleh, gue sekeluarga mengandalkan online shipping salah satunya di OMIYAGO, sebuah portal oleh-oleh dari banyak sekali daerah di Indonesia. Jadi kalo gue lagi kangen masakan daerah gue, gue tetap bisa menikmatinya. Dan Tahu Baxo Bu Pudji juga ada lho di OMIYAGO, so kalo bokap gak sempat buat beliin gue sebagai salah satu Oleh-oleh Indonesia favorit gue ketika pulang, gue masih bisa order lewat webnya.

http://www.omiyago.com/id/