LIFE AT TOMATO FAMILY: song
Showing posts with label song. Show all posts
Showing posts with label song. Show all posts

Thursday, July 14, 2011

Hold My Heart (Please...)
9:13 AM1 Comments
I never meant to be the one to let you down
If anything, I thought I saw myself going first
I didn't know how to stick around
How to see anybody but me be getting hurt

I keep remembering the summer night
And the conversation breaking up the mood
I didn't want to tell you you were right
Like the season changing, oh, I felt it too

Does anybody know how to hold my heart
How to hold my heart?
'Cause I don't want to let go, let go, let go too soon

I want to tell you so before the sun goes dark
How to hold my heart
'Cause I don't want to let go, let go, let go of you

I'm not the kind to try to tell you lies
But the truth is you've been hiding from it too
I see the end sneaking in behind your eyes
Saying everything no words could ever do

Does anybody know how to hold my heart
How to hold my heart?
'Cause I don't want to let go, let go, let go too soon

I want to tell you so before the sun goes dark
How to hold my heart
'Cause I don't want to let go, let go, let go of you

Is anybody listening?
'Cause I'm crying
Is anybody listening?

Does anybody know how to hold my heart
How to hold my heart?
'Cause I don't want to let go, let go, let go too soon

I want to tell you so before the sun goes dark
How to hold my heart
'Cause I don't want to let go, let go, let go of you 






Sara Bareilles
Read more

Monday, December 27, 2010

Dear Boyfriend... #3
11:52 PM0 Comments
Woah, 28!

Good morning, sweetheart, its 28!

Happy anniversary, ummm…. *count and think. Errr, its 7 months, I guess, hehe. Hopefully you enjoy your holiday with your fams, love me more, ihiy, and we will meet again soon, hiks.

Ahhh, started brain freeze prepared my exam, Its almost January. After that, I will go to your town as soon as possible to get work. Wish me luck, then. Always and everyday, I love you. *Kiss

Emmm, I love this song too much, this song is for you today.



There is no long distance about love, it always finds a way to bring hearts together no matter how many miles there are between them.
Read more

Sunday, November 28, 2010

Dear Boyfriend... #2
12:05 AM0 Comments
Ah, its 28th  again!!!
Yeah, I think may be you will be forget or don’t realize that this is 28th! But I just wanna say this:
“Happy anniversary 6 months!”
And I found a beautiful song. It’s a remake. But mmm its piano!

and my favourite words:

There ain't nothin' that I wouldn't do
Go to the ends of the earth for you
Make you happy, make your dreams come true
To make you feel my love




"If you can't have the best of what you want, learn to make the best of what you have." -Douglas Adams
And I will keep try to be the best.
Read more

Friday, November 19, 2010

My (Not Yet) Happy Ending #2
2:09 PM1 Comments
I’m just an ordinary girl, baby... :)

Last night, was a lil nightmare for me and him. Kita berdua terperangkap dalam percakapan tentang mantan, yang mana, sedikit membuat suasana berubah nggak nyaman sama sekali sampai akhirnya masing-masing dari kami jatuh tertidur dengan earphone masih nempel di telinga.

And becaused, I was a lil sleepy dan setengah sadar antara alam nyata dan enggak, jadi kira-kira percakapannya begini. Saya agak lupa kenapa bisa bahas soal mantan saya, tapi beginilah alur cerita selanjutnya setelah bahas si mantan.

Him     : “Kalo denger ceritamu setiap hari dan bilang, wah itu kayak mantanku yang A. Lain hari beda yang dibahas, kamu bilang itu kayak mantanku yang B, lain hari bakalan ada cerita soal mantan C, D ,E,F, bla bla bla. Ternyata mantan cowok kamu banyak juga, ya? Nggak takut dibilang gonta-ganti cowok?”

*sigh. Hey girls, punya mantan banyak itu salah ya?

Me       : “Oke, aku emang gonta ganti cowok. At least, cepetlah dapat pacar lagi.”

Him     : “Ciee, artis nih.”

Me       : “Bukan gitu, yank. Tapi emang salah ya gonta ganti cowok? Yang pasti setiap menjalin satu hubungan dengan cowok, aku nggak pernah selingkuh.”

Him     : “Iya, tapi kan orang – orang kadang mikirnya jelek.”

Me       : “Aku nggak peduli orang – orang. Aku nggak peduli mereka mau bilang apa soal aku. Yang penting keluargaku, sahabat, dan pacar aku tahu aku kayak gimana.”

*kami berdua terdiam sekian detik.

Him     : “ Ya, mungkin kalo soal pengalaman pacaran, kamu lebih berpengalaman dibanding aku.”

Me       : “Hey, maksudnya apa tuh? Pengalaman gimana? Ah kamu yank, coba kamu jadi aku, aku nggak minta lho mereka jatuh cinta sama aku terus nembak cewek nggak tegaan kayak aku. Aku nggak pernah nolak cowok, bukannya sok playgirl. Kadang, buat cewek, kenapa susah – susah nunggu orang yang kita sukai suka sama kita, sedangkan ada orang lain di luar sana yang suka sama kita dengan tulus?”

Him     : “Lah, terus, kamu sering jadian sama orang tapi kamu nggak suka ma dia gitu?”

Me       : “Nah, aku kan berusaha tapi waktu udah nerima dia. Kalo akhirnya nggak bisa ya udah kita diskusiin bareng, harus gimana. Mau lanjut jalan sama cewek yang ngga bisa balas perasaan dia atau putus. Kalo putus ya udah, kita temenan lagi. Untungnya sampe sekarang aku nggak pernah ada sejarah ketemu mantan musuh – musuhan. Emangnya ada yang salah dengan kita berusaha mencari yang terbaik buat diri kita sendiri. Kalo dibilang egois, manusia itu pasti egois. Dan aku cuma cewek biasa yank, aku nggak akan pernah berhenti mencoba. Kita nggak bakalan tahu gimana hasilnya kalo belum dicoba.”

Him     : “Iya, orang beda – beda sih. Kalo aku, mending yang pasti – pasti aja.”

Me       : “Gimana ya yank. Aku soalnya tipe orang yang ngga bisa nyerah gitu aja. Oke mungkin aku putus sama si A terus jadian sama si B. Tapi bukan berarti aku nggak sakit hati, aku nggak nangis, aku nggak ngerasa nyesek. Satu hal yang pasti, aku tuh nggak mau jadi kenangan buruk buat orang lain. Jadi ketika aku pacaran sama seseorang, aku selalu berusaha jadi yang terbaik buat orang itu, jadi ketika akhirnya putus, kita sama – sama  nggak saling benci. Kalo akhirnya enggak, aku tinggal terus menjaga posisiku untuk terus jadi orang yang terbaik di sisinya.”

*setelah tanggapan panjang itu, saya dan si pacar memutuskan berhenti ngomongin, dan kita balik lagi dengan topik – topik basa - basi sampe tertidur.

Hey, dear you, baby, nggak ada sebuah garansi dalam sebuah hubungan itu akan berjalan baik, mudah dan indah selamanya. Just as you know, babe, aku cuma cewek biasa. Aku cuma berusaha melakukan hal terbaik yang bisa aku lakukan untuk siapapun dan apapun, and off course for this relationship too.

Baby, I know, what kind of man that you are. Bukan karena aku peramal :D, but its easily come in my head and heart when I’m in love with you. Anyway, aku selalu berharap sebuah perjalanan selalu ada akhirnya. Dan aku berharap ini adalah pemberhentianku yang terakhir. Rasanya di pemberhentian ini aku bisa merasa aman dan nyaman, may be because there was a human like you inside.


This old song was amazing, it just like words that I can't tell to you everytime...
Hear it...

Read more

Monday, November 15, 2010

Dear Past.... :'(
11:10 PM0 Comments
Well, past, I know you are some kind a part of my life.
You and the people around you was amazing journey that I’ve ever had.
But past, please listened this song carefully….
So, you can let me be free….


It seems all of these words couldn't be further from the truth
How did I get here? What did I do?

Your eyes, telling me lies
And making me find myself
While you have your agenda, a life to pursue

So please,
Let me be free from you.
And please, let me be free
I can face the truth.

I'm blind to all of your colors
That used to be rainbow then
My eyes, where did they go to?
Why disappear?

It's hard to be all alone
I never got through your disguise
I guess I'll just go, and face all my fear

So please,
Let me be free from you
And please, let me be free
I can face the truth.

Put down your world
Just for one night
Pick me again

So please,
Let me be free from you
And please, let me be free
I can face the truth

(Secondhand Serenade-Pretend)
Read more

Wednesday, November 10, 2010

My (Not Yet) Happy Ending #1
11:58 PM0 Comments
The started….



Saya sama si pacar paling enggak udah hampir setengah tahun pacaran jarak jauh. Usia yang masih muda banget buat saya mengingat rekor pacaran terlama saya itu 3 tahun, itu pun nggak jarak jauh. Pacaran jarak jauh saya itu dua kali kalo dihitung sama yang sekarang. 


Tapi yang pertama diakhiri saya diselingkuhi waktu jalan setahun pacaran. Rada trauma juga sih, tapi gimana lagi, saya ngga bisa nyerah gitu aja, saya suka sama resiko, suka bagaimana passionnya, prosesnya, hingga kita tau itu harus berakhir atau berlanjut. Dan ngerasain gimana kita jatuh, berdiri, jatuh hingga berdiri lagi.

Walopun ini terbentang jarak, dan syukur banget deh belom terbentang waktu, saya selalu berharap setiap kali menjalin hubungan sama seseorang, siapapun dia adalah hubungan pacaran yang terakhir. Saya selalu bertanya-tanya apakah itu adalah The Last Stand, pemberhentian terakhir saya. Atau justru sebaliknya.

Tapi kalopun akhirnya enggak, dan Dia menghendaki saya masih harus melanjutkan perjalanan, saya nggak punya pilihan lain. I’m just an ordinary girl.

Saya orang yang open-minded, saya enggak pernah punya kriteria tertentu waktu pacaran sama seseorang. Kalo ditelusuri, dari pacaran main-main saya waktu SD sampai pacaran serius seperti sekarang, saya nggak pernah menjalin hubungan dengan orang yang punya ciri khas tertentu. Istilahnya random. Misal ada cewek yang suka sama cowok tinggi, cowok berkulit putih, cowok smart, dan laen-laen, -cowok dengan kriteria tertentu seperti itu. Saya enggak sama sekali.



Pastinya, bener kata Mario Teguh, orang baik akan mendapatkan orang baik pula. Saya bukannya sok baik atau gimana. Anyway, tapi jujur, saya nggak pernah tuh dapat cowok yang macem-macem. Kalo nakal-nakal khas cowok itu sih biasalah, kayak kebut-kebutan, cabut dari kelas, ngerokok, sesekali nyobain minuman alkohol buat seru-seruan, hal-hal yang nyerempet bahaya semacam itu. Kenakalan khas cowok di masa mudanya, wajarlah.

Btw, saya garis bawahi nyerempet ya. Bukan bahaya beneran macam nge-druggs, mabok-mabokan, free sex, clubbing sama orang-orang nggak jelas, bersyukur banget saya nggak pernah dideketin orang macem gitu. Bukan gaya hidup kaya gitu salah ya, karena buat saya, yang menentukan sesuatu itu benar atau salah, cuma diri kita sendiri. :)

Pacar saya ini aja saya kenalan lewat game online. Yeah, game online (*rolling eyes). Rasanya konyol banget, tapi begitulah kejadiannya. Saya itu diam-diam gamers, cuma beberapa orang yang tahu kalo saya suka begadang cuma karena maen game online, bahkan keluarga saya pun mikirnya saya ngehabisin waktu masih maen game The Sims, satu-satunya jenis game yang mereka tahu karena user interfacenya yang menarik banget untuk segala umur.


Di game, orang bisa berinteraksi sama orang walopun belum ketemu. Kayak chattingan, perang ngelawan musuh sama-sama, sampe ajang curhat sama-sama yang mungkin bikin kita tertarik satu sama lain. Tadinya cuma tukeran ym, fb, standarlah, sampe nomor telepon. Dari cuma curhat, ngobrol serius, dengerin musik yang sama, ngebagi cerita lucu, konyol-konyolan nggak jelas, saling kasih semangat, saya akhirnya bisa jatuh cinta beneran sama dia. Anyway, kita bahkan belum ketemu secara langsung, pasti dan lama. Konyol kan?

Jaman sekarang, orang bisa dengan mudah jatuh cinta cuma karena kita nyaman ngobrol padahal jelas-jelas belum ketemu, nggak kayak jaman dulu. Apalagi sekarang udah dipermudah dengan adanya jejaring sosial, kita bisa liat orang itu seperti apa, cuma dengan liat akun yang dia miliki, komentar teman-temannya, foto-fotonya atau apapun yang kita masukkan sebagai biografi di akun kita.

Tapi, bener kata Raditya Dika di bukunya Marmut Merah Jambu, kenal seseorang lewat dunia maya seperti tebak-tebakan buah manggis. Kita bener-bener ngga bisa percaya akun itu seratus persen berisi informasi yang benar. Semua orang bisa membuat image dia sendiri dengan tulisan. Kita bahkan bisa menyembunyikan sifat-sifat asli kita karena kita cuma bisa mengandalkan satu hal, tulisan tulisan itu. Tulisan nggak pernah bisa mewakili segalanya.

Saya sama si pacar juga sadar hal itu. Hubungan kayak gini, gak ada interaksi langsung bahkan sampai selama setengah tahun lebih mengenalnya, itu nggak cukup. Nggak pernah cukup. Kita putuskan, kita harus ketemu. Saya harus bisa jatuh cinta sama hal lain dalam diri dia. Bukan cuma tulisan dan suara di telepon.

Saya ingin jatuh cinta juga sama cara dia ketawa, cara dia berjalan, cara dia mungkin memandang saya, cara dia makan, bahkan hingga keburukannya seperti mungkin ngupil, kentut sembarangan sampai cara dia marah atau cemburu. Saya tetep pengen jatuh cinta dengan normal.

Namun jika akhirnya dia enggak sebegitu interest dengan kita nggak seperti ketika dia di dunia maya, kita harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Karena selama ini kita hanya hidup lewat bayang-bayang. Ibaratnya, kita kayak jatuh cinta sama bayangan kita sendiri, dia ada, dia mengikuti kita, dia merasakan kita ada, dan kita bisa merasakan dia ada, tapi kita nggak bisa menyentuhnya. :)

Anyway, saya yakin, kamu pernah mengalami cyber love, cinta dunia maya. Ada ribuan orang di dunia ini yang sama kayak saya. Saya di sini cuma berdoa, saya cuma berusaha menemukan orang yang tepat, kalo akhirnya dialah orang yang tepat itu, saya akan membagi apapun dalam hidup saya sama dia entah sampai nanti. Tapi kalo ternyata enggak, saya akan coba menerima kenyataan. Well, kita kadang harus bertemu orang yang salah dulu, banyak sekali orang yang salah, untuk sampai bertemu orang yang benar.

Untuk sampai ke sana, ada ribuan jalan harus dilewati, nggak gampang. Bahkan kadang kita harus dihantui rasa curiga, kekecewaan, ketidakpedulian, tangis, segala bentuk yang bersifat emosional sampai tawa dan kebahagiaan.  Tapi begitulah manusia, kadang udah sampai mati rasa, kita nggak pernah ngerasa kapok untuk mencari sesuatu yang kita inginkan.

Saya nggak percaya sama orang yang bilang udah nggak mau ngerasain jatuh cinta. Its beauty you know, bahkan hingga rasa sakitnya kalo kamu kenang bertahun-tahun lagi dari sekarang. Saat itu, saat ketika kamu udah merasa forgive and forget, justru bisa membuat kamu tertawa-tawa.

At least, setiap orang pengen punya kisah happy ending. Saya juga. Kamu juga pastinya. Ayo kita berjuang sama-sama mencari ending itu. Gimanapun caranya.

Cause if one day you wake up and find that you're missing me
And your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thinking maybe you'll come back here to the place that we'd meet
And you'll see me waiting for you on our corner of the street
So I'm not moving, I'm not moving
(The Script-The man who can’t be moved)
Read more

Wednesday, September 22, 2010

I am awake in the infinited cold
7:52 AM 3 Comments
Pagi ini, saya bangun pukul lima dan nggak bisa tidur lagi padahal saya tidur hampir jam setengah 2 pagi ngobrol sama cowok saya. Sebuah sms dari sahabat saya, Ridho, langsung membuat saya terduduk di tepi tempat tidur saya. Speechless.

Saya lihat tanggalan. Astaga, waktu berlalu cepet banget. Dan saya terlena dengan liburan saya. Setelah kemaren saya itu bener-bener punya semangat ngerjain. Sekarang kemana semangat ngerjain skripsi saya lagi?

Saya liat diri saya di cermin. Rambut panjang saya masih acak-acakan, muka kucel dan bau. Tapi Sms Ridho berhasil membuat saya miris pada diri saya sendiri. Kayaknya dulu saya sama dia janjian wisudaan bareng, tapi akhirnya dia duluan yang dipanggil sidang skripsi. Saya bener-bener miris ketika dia minta doa. Sms itu nadanya bener-bener seakan-akan nanyain saya, “kapan giliranmu?”

September sudah mau berakhir, dear. Saya harus bangun, dan berjuang. Mungkin sementara saya ngga posting blog dulu. Banyak banget yang harus saya kerjakan. Masukin lamaran saya ke majalah, setelah temen saya minta saya mengisi lowongan field reporter di majalahnya. Saya harus ngumpulin uang buat perjalanan saya bulan Desember nanti. Dan untuk ke Desember saya harus sidang skripsi November. Saya harus bisa dapat jadwal sidang bulan November, mentok-mentoknya bulan Desember. Saya ngga mau mundur lagi. Ini adalah sebuah pembuktian ironis pada Ayah saya yang sok itu.

Well, blog, kalo nanti saya datang lagi, mungkin kamu udah bulukan, dipenuhi sarang laba-laba bahkan berantakan banget. Saat itu saya janji blog, saya harus sudah mau sidang skripsi. Love, you.
xoxo.

NB: Goodluck for my bestfriend, Ridho dan Victor. I’ll be runaway to hold you. Soon.



Dear God....
There's a song that inside of my soul
Its the one that I've tried to write over and over again
I'm awake in the infinite cold
but You sing to me over and over and over again
So I lay my head back down
And I lift my hands and pray to be only Yours
I pray to be only Yours
I know now You're my only hope


Ohya....
btw, saya ada titipan buat nge post :

CERPEN COMPETITION

SO, JUST JOIN WITH US....
kembangkan bakat menulismu hehehehehhehe :)
Good Luck then for everybody of you....
Read more

Thursday, September 16, 2010

Love you lately... :(
8:08 PM0 Comments
Buat sahabat saya, lagu Lionel Richie- Hello, pas banget lho:

Hello! 
Is it me you're looking for? 
Because I wonder where you are 
And I wonder what you do 
Are you somewhere feeling lonely? 
Or is someone loving you? 
Tell me how to win your heart 
For I haven't got a clue 
But let me start by saying I love you

Oke. Postingan agak panjang! Soalnya saya habis dicurhati sahabat cewek saya via messenger. Waktu dia curhat, sahabat saya yang lain, Reynaldi, yang lagi chatting ma saya juga, langsung bilang: “Pasti bentar lagi ada postingan baru. Uhuy.” 

Saya ketawa. Bener yang dia bilang. Curhatan temen saya itu emang bisa dibikin topik baru buat di posting. Tapi saya ngga enak juga kalo belom izin sama yang punya cerita. Jadi setelah berargumen untuk ngga sebut nama asli, yeah, saya pun posting cerita ini. Thanks, for sharing with me, girl!

Sahabat cewek saya, sebut aja namanya Dinda, lagi bingung sama perasaannya. Pertama, dia udah 5 tahunan pacaran sama cowoknya (Wow, 5 tahun, menurut saya, angka yang besar banget untuk sebuah hubungan pacaran). Tapi, dia juga deket sama cowok lain. Kalo deket sama cowok lain sebagai sahabat, saya juga banyak (Iye, info ngga penting!). Tapi, kalo saya liat keknya si Dinda interest sama cowok ini.
Jangan suka meremehkan sesuatu. Sekecil apapun. Bisa saja, ada orang lain yang  berusaha merebut sesuatu yang menjadi milik kita. Maka, jaga apa yang kamu punya sebaik-baiknya.
Saya sebut cowok si Dinda dengan nama Abi dan cowok laennya adalah Beni (Sebenernya saya mau kasih nama samaran A dan B, tapi si Dinda keknya bakalan marah-marah. Akhirnya saya modifikasi A dan B itu jadi Abi dan Beni. :D).

Dua cowok ini tipikalnya beda banget. Tapi kalo saya liat, mereka sama-sama tumbuh di keluarga yang agamanya kuat banget (Dari sini kita tau, tipe cowok pertama Dinda: Agama diri sendiri/ keluarganya kuat.) terus sama sama pake kacamata (Jadi ini tipikal cowok kedua Dinda, harus pakek kacamata) àSumpah saya baca, kok saya Sotoy banget ya, wkwkwkwkkw.

All right. Kita mulai dengan Abi. Hmmm saya sampe buka facebooknya buat ngira-ngira orangnya kaya apa (Finally, sok tau aja deh, bodo amat). Abi tipe cowok yang dewasa banget. Kata Dinda, dia udah sering banget diem-diem main hati sama cowok lain. Tapi kalo Abi sampe tau, dia bukannya mutusin ato gimana, dia selalu tetep ada di sana buat Dinda. Dia selalu berusaha ngebuktiin kalo dia yang terbaik. Kaya seakan-akan bilang: “Silahkan berpaling sama cowok lain, tapi apa iya ada yang lebih baik daripada gue?”

Dan Abi, meskipun mukanya standar (Sorry ya Din, aku jujur banget, wkwkwkwk.). Tapi kayaknya dia orang yang baik banget. Setia pula (Setahu saya, kesetiaan cowok-cowok itu muncul kalo dia mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya. Tapi, pertanyaan saya sekarang, kapan mereka mendapatkan sesuatu yang menurut mereka terbaik?). Mungkin ya, di sini, berarti menurut Abi, Dinda yang sekarang saat ini terbaik buat dia.

Sekarang, orang seperti apakah Beni? Hmmm. Saya kenal juga dengan si Beni. Jauh lebih lama daripada Dinda malah. Sebenernya kita bertiga (Saya, Dinda dan Beni) ketemu di sebuah game online dan kebetulan kita satu guild(*Guild = sebuah komunitas di game online yang anggotanya bergabung berdasarkan tujuan tertentu.).

Jadi, in a fact, saya, Dinda dan Beni sama-sama belom pernah ketemu secara langsung. Kita ketemu di dalam game doang. Akhir-akhir ini kami semua udah saling bagi-bagi messenger sih, jadi tetep bisa keep in touch walo pas lagi ngga maen gamenya. Guild saya kebetulan orangnya seru-seru dan ngga pada kejar level game. Jadi lebih ke cari temen dan sahabat. Thats why I love them...

Back to Beni. Beni ini sukanya godain cewek di mana-mana (Sorry, Din, it’s a fact…). Beda banget sama si Abi kayaknya. Saya aja sering digodain via messenger. Tapi at least, satu-satunya cewek yang dipuji sama Beni sampe bilang: “Subhanallah…” (Setau saya itu ungkapan buat orang Muslim kalo mengagumi sesuatu. Btw, kalo saya salah, bilang ya…) itu cuma si Dinda. Yang ditelepon malam-malam, sampe curhatan Dinda terhenti sama saya, itu lagi-lagi cuma Dinda. Saya tau, kayaknya Beni interest juga sama Dinda.
Cinta diem diem itu seru, apalagi bagian sembunyi-sembunyinya. Tapi sifatnya selalu temporary saja.
Dinda dihadapkan pilihan yang sulit. Beni gencar banget ndeketin. Dan I think, Dinda ngga bisa bilang engga untuk Beni. Mungkin aja, di antara cowok-cowok laen yang pernah sama Dinda, Beni bisa aja jadi godaan terberat buatnya.

Kalo saya liat ya, ini semua tergantung sama orangnya. Kaya saya, saya itu tipe setia (Sial, nggak promosi! Saya cuma jujur. Wkwkwkwk). Beneran. Saya itu bisa jatuh cinta sama orang cuma karena dia menemani saya setiap hari dan kasih cerita lucu buat saya. Tapi kalo waktu itu saya masih ada cowok, saya ngga akan melangkah lebih jauh. Cukup mengagumi saja. Saya coba bikin batas-batas buat diri saya sendiri. Soalnya menurut saya, yang tau batas-batas diri kita itu, ya, cuma kita sendiri kan? Siapa lagi coba?

Soalnya, gini ini jeleknya manusia. Mereka ngga akan pernah puas sama apa yang didapatkan. Cuma, tinggal gimana kita mensyukuri apa yang udah kita punya. Dan saya tau, mensyukuri itu ngga gampang. Kadang, manusia ngerasa apa yang dipunya orang itu menarik daripada punya sendiri. Padahal, coba dekati. Bisa aja justru yang kalian punya sekarang, jauh, jauh lebih dari cukup. Kalian mau minta seperti apa lagi, kalian selalu meminta, dan terus meminta, tapi apakah kalian pernah memberi? Cobalah berpikir dari sisi orang lain sekali-kali.

Dinda secara terang-terangan bilang kalo kejadian ini nggak cuma sekali aja dalam 5 tahun. Makanya saya cuma nanya sama Dinda: “Apa Beni worth-it untuk menggantikan posisi Abi? Apa ada yang bisa mengerti kamu selain Abi? Apalagi kalian selama ini cuma deket via game, telepon, sms dan messenger.”

Kalo jawabannya iya, saya pikir, ada baiknya kamu ngomong sama Abi. Kejujuran itu pasti sakit. Tapi menurut saya lebih sakit kalo Abi tau sendiri atau dari orang lain (Apalagi tau dari tempat yang namanya fb).

Kalo nggak. Mungkin saya pikir kamu sedang dalam keadaan seperti ini, Dinda: “You are thinking that you are falling in love, You are just not really falling in love at all.” Alias Dinda cuma berpikir jatuh cinta, tapi nggak jatuh cinta beneran. Dia cuma jatuh cinta pada apa yang ngga dipunya Abi pada sosok Beni. Tapi hey, girls, nobody is perfect. And that’s why God created people, different each other. And we are, tried to completing each other as one. So take it easy girl, saya tau kamu sudah dewasa untuk mengambil sebuah keputusan.
Love is timeless. Just the human that make it fragile and unfaithfull.

Read more

Tuesday, September 14, 2010

You took a chance to Loving me, but you trashed me away....*Eps.3* THE END
1:15 AM0 Comments
postingan agak panjang lagi...

"Let me go let me walk away, walk away baby
 I can't stay let me walk away, walk away baby
 I'll be fine, I will recover
 And I will learn to love another
 Sometimes goodbye is the hardest thing to say
 So I'll walk away"

Saya nemu lagu itu waktu jalan ke mall, mampir ke toko cd musik, nemu cd barunya Martina Mcbride, trus saya coba setel, saya dengar satu-satu. Pas di track ini, saya berhenti, trus saya ulang lagi. Judulnya walk away. Keknya pas banget buat posting episode ketiga dari “You took a chance to falling love with me, but you trashed it away…”. By the way, akhirnya saya nggak jadi beli cdnya. Tapi malah sepupu saya yang beli. Yo wes, saya copy paste satu album trus saya denger lagi walk away, sambil melanjutkan postingan saya yang ketiga.

By the way, agak sedih juga malam ini. Ini malam terakhir saya dengan sepupu-sepupu cewek saya, soalnya mereka besok udah mulai kembali ke habitatnya. Liburan lebaran udah selesai. Gila, cepet banget ya. Kayaknya baru kemaren saya ngucapin Minal Aidzin sama kalian.

Nggak ada malam perpisahan. Mereka semua tertidur di tempat masing-masing. Semuanya capek habis jalan-jalan sendiri-sendiri hari ini. Cuma saya doang yang masih bertahan, di tengah kantuk, rasa capek dan rasa ingin menyelesaikan postingan saya. Hari rabu saya udah mulai sibuk lagi sama skripsi. Damn, kembalikan liburanku padaku!!!!

Oke, cukup basa-basinya. Menurut saya biar kalian ngga kejebak sama hubungan kayak gini, ada sedikit saran hasil sharing, saya ngga mau bilang tips, soalnya saya ngga ahli juga dalam urusan cinta-cintaan nggak jelas. Here we go!
  1. Dari awal, bedakanlah sebuah hubungan. Hubungan pacaran sama sahabatan itu jelas beda banget. Bahkan isi sms, isi obrolan telepon, isi pembicaraan kalo lagi berduaan, itu beda banget. Hey, kalo niat dari awal sahabatan, pasti juga jadi sahabat. Salah satu atau dua-duanya harus membuat jalur, di mana ketika kalian melewati jalur itu, ngga ada yang harus merasa tersakiti satu sama lain. Kalo sahabat pasti setulus kalimat di lagu I’ll stand by you nya The Pretenders, kaya gini:
“When you’re standing at the crossroads. Don’t know which path to choose. Let me come along. ‘Cause even if you are wrong.”
Bedanya sahabat, dia ada di sana untuk selamanya. 
  1. Kalo udah terlanjur, tegaskanlah hubungan kalian, siapapun, yang udah menyadari duluan ini salah. Sindir-sindir, kasih clue, kasih argument dengan mencontohkan orang lain, dan ujung-ujungnya tanyalah pada dia: “Kalo kita berdua sebenernya ngapain?” Ada dua kemungkinan. Siapkan hati kalian lebih dulu. Siap jatuh cinta, siap kehilangan juga ‘kan? Kemungkinan pertama, dia jawab kaya gini: “ Kamu maunya kaya gimana? Kamu tau kan, selama ini ak sayang sama kamu, bla bla bla bla…” Okey, happy ending stories kalo gitu. Nyeseknya kalo dia jawab kaya gini; “Aku sukanya kaya gini aja…,” hmmm. Helloooo? Kaya gini gimana? Emang ada apa di kaya gini antara kita? Kalo gini sih, udah jelas. Dia sendiri ngga tegas. Just take it, or leave it. Masih banyak cowok/cewek, dear. Kamu berhak untuk bahagia. Dengan siapapun. Pasti ada seseorang, untukmu.
Dengar lagu Avril yang judulnya My Happy Ending deh, saya suka kata-katanya yang ini:

Kamu, berhak bahagia. Dengan siapapun itu.
“It's nice to know that you were there. Thanks for acting like you care. And making me feel like I was the only one. It's nice to know we had it all. Thanks for watching as I fall. And letting me know we were done. You were everything, everything that I wanted. We were meant to be, supposed to be, but we lost it. And all of the memories, so close to me, just fade away. All this time you were pretending. So much for my happy ending.”

  1. Kalo ternyata kamu cuma nomor sekian dari sekian cewek/cowok, jangan pergi dulu. Saya pernah dapat kata-kata bagus dari kaskus, kaya gini:
“If you play a game to me, I play a game too.”

Yup. Jelas banget. Kalo dia mempermainkan kita doang. Jangan tinggalkan dulu. Mainkan juga perasaannya. Kalo perlu sampe dia jatuh cinta beneran. Jahat memang. Tapi berilah pelajaran secukupnya sama dia. Secukupnya saja. Sampai dia mengerti. Setelah itu pergi, dan cari cinta yang lain. Kalo perlu, pamerkan di depan dia. I know, its hurt. Tapi kita manusia normal, kita harus melindungi perasaan dan hati kita yang cuma satu-satunya ini. Siapa lagi yang mau melindungi? Kalo bukan diri kita. Kaya lagu Carrie Underwood di Someday When I Stop Loving You:

“I'll move on baby just like you. When the desert floods and the grass turns blue. When a sailing ship don't need a moon. It'll break my heart but I'll get through. Someday when I stop loving you
Kamu, berhak untuk bernapas lega.

  1. Banyak beramal, berdoa dan jangan tinggalkan orang-orang yang kamu sayangi. Ini sih klise dari orangtua saya, wkwkwkwkwk. Yup, kalo saya sedih, Tante saya selalu menghibur bilang kaya gitu. Dulu saya geli, ngga jadi sedih. Tapi sekarang, saya rasa itu bener banget.
Waktu beramal, biasanya sama orang kurang mampu, kita malah jadi sadar betapa beruntungnya kita. Patah hati doang sih ngga sebanding sama penderitaan mereka. Mereka bisa survive, bisa ketawa-tawa, bisa tegar, padahal mereka serba kekurangan. Sedangkan kita? Just thinking about it, guys. You are lucky, more than that you know.
Berdoa? Well, Tuhan itu sbeenarnya adil. Cuma keadilannya itu selalu ngga diliat manusia dari berbagai sisi. Kadang itu yang bikin kita nggak percaya lagi sama Dia. Kalo kalian patah hati sekarang misalnya, mungkin saja suatu saat nanti kalian akan dapat gantinya yang lebih baik. Sedangkan orang yang udah menyakiti kalian, bisa aja malah belum nemu-nemu jodohnya. Be positive then. Saya tau, kamu bisa.
Jangan tinggalkan orang-orang yang kamu sayangi. Banyak banget itu kan. Ada keluarga, sahabat, kerabat, dan laen-laen. Mereka selalu ada buat kita kok. Hanya saja sometimes, butuh mata lain untuk melihatnya. J
Thats why I love bestfriend so much. And its hard to find them.

Read more

Sunday, September 5, 2010

The Cosmological Coincidence of Raditya Dika
7:52 AM 2 Comments
“And I know that it's a wonderful world
But I can't feel it right now
Well I thought that I was doing well
But I just want to cry now
Well I know that it's a wonderful world
From the sky down to the sea
But I can only see it when you're here, here with me

James Morrison – Wonderful World

Saya baca buku Raditya Dika yang keempat, judulnya Marmut Merah Jambu. Saya terhenti di bab “How I Meet You, Not Your Mother”. Bukan, saya bukan concerned sama kisah cinta dia sama Sherina. Tapi tentang ideologi The Cosmological Coincidence, yang dia tulis.
Baca deh, ngga nyesel. Banyak pelajaran cinta di dalamnya. Hehe.

Saya, dan seorang cowok, mengalaminya hari ini. Berhari-hari bersama-sama, berbulan-bulan membagi apa saja, nonton bareng via messenger, mendengarkan lagu lewat sharing video, smsan, semunya, ternyata ngga cukup untuk membangun sebuah kesepakatan dengan alam. Dengan takdir. Dan di antara itu semua, dengan yang memiliki mereka, Tuhan.

Masih belum mengerti?

Saya mau review sebentar apa sih The Cosmological Coincidence menurut Raditya Dika? Hmmm…. Karena novelnya udah ngga saya bawa, saya akan kasih tau kalian dengan bahasa saya sendiri. J

The Cosmological Coincidence adalah keadaan di mana alam mengatur semua yang kamu lakukan hari itu. Intinya sih gitu kalo saya baca. Mungkin hampir sama dengan takdir. Apapun itu, semuanya yang punya bukan saya, dia atau kamu. Yang punya kewenangan untuk mengaturnya adalah Dia, yang menciptakan kita semua.
bahkan batu-batu bertabrakan pun, alam yang mengaturnya sedemikian rupa.

Tapi Radit, dengan bahasa cintanya, mengartikan lebih ke tentang pertemuan antara seseorang yang satu dan seseorang lainnya, nggak ada yang kebetulan, semuanya diatur oleh alam. Kalo kamu belum saatnya bertemu dengan orang itu, sedekat apapun kalian, nggak akan dipertemukan. Tapi kalo kalian ditakdirkan ketemu, sepasang sahabat lama pun bisa ketemu hanya karena duduk bersebelahan di Times Square, meskipun, Times Square itu ada di New York atau New Delhi sekalipun, dan menikmati kopi yang sama.
Ayah dan anak, terpisah bertahun-tahun, duduk di satu kursi yang sama, tapi sama-sama ngga tau mereka berbagi kursi satu sama lain.

Saya setuju banget sama Radit. Dan ini kejadian yang terjadi pada saya hari ini. Cowok yang deket sama saya sekarang, tinggal bermil-mil jauhnya di Jakarta. Saya, di Semarang. Saya, juga punya rumah di Jakarta. Ayah dan Ibu baru saya menetap di sana. Dia, juga punya saudara di Semarang. Dan karena ini mau lebaran, kami diatur oleh alam sedang berada di satu titik yang sama. Kota Semarang.

Dia, dengan keluarganya singgah sebentar ke kota ini, sebelum bertolak ke kampung halamannya di Surabaya. Saudaranya tinggal cuma beberapa kilometer dari pusat kota, Simpang Lima. Tempat di mana saya, dan adik sepupu saya, si Otong, sedang hunting frame kacamata dari satu spot ke spot lainnya hari ini. Kami berjuang melewati manusia-manusia haus diskon yang mencari-cari barang-barang untuk berlebaran. Kalo bukan karena frame kacamata, saya memilih makan di Pisa Caffe di jalan Diponegoro, daripada mendaftar waiting list di Pizza Hut Simpang Lima. (Sumpah naik escalator aja kami berdua harus antri.)

Dan dia, finally, dengan keluarganya pergi ke luar, dan makan malam dengan jarak yang sepersekian kilometer lagi lebih dekat dengan saya. Kami smsan, mencari celah untuk ketemu. Adik saya, Otong, sebenernya bersedia menemani saya. Tapi, kalian tau kan, pergi bareng keluarga, ngga pernah gampang untuk menyelinap keluar rombongan. Dan dia, sepertinya kesusahan banget untuk mencari celah itu.

Saya dan dia, biasanya dengan jarak sejauh itu (Jakarta-Semarang), selalu cari cara gimana biar ngerasa deket. Sekarang dengan jarak sedekat ini, entah kenapa saya ngerasa jauh. Hahaha, kayak lagu aja. Tapi pernah ngga sih kalian ngerasa kayak gini? Sedekat itu, mungkin cuma dibatasi satu seberang jalan dan satu bangunan, atau bahkan satu tembok, tapi kalian ngga melihat satu sama lain?
Kepisah tembok, satu gedung, beda lift doang.

Inilah The Cosmological Coincidence. Saya dan dia belom ditakdirkan oleh alam untuk ketemu. Padahal jelas-jelas di bawah langit yang sama. Hawa panas yang sama. Keriuhan orang-orang yang sama. Lampu-lampu jalanan yang sama. Mungkin saja, orang yang melewati dia, juga melewati saya. Atau jalan yang saya lewati, kemudian dia lewati juga.

Kata sahabat saya, Nova, (Hey, saya buka sms kamu lagi untuk mengutip, Va!) yang lebih dulu membaca Marmut Merah Jambu, kaya gini:

“Gila, padahal, cuma beda beberapa meter doang. Dunia memang aneh. Mungkin saja alam semesta belom berkonspirasi untuk mempertemukan kalian sekarang. Just waiting, dear.”

Saya mau menunggu. Sampai alam berkonspirasi mempertemukan kami. Entah kami tidak rencanakan, seperti ketemu di sebuah desa antah berantah, bertabrakan, buku-buku kami jatuh (kayak sinetron ya?) wkwkwkwkwkw. Atau mungkin di peron stasiun, menuju ke kota Yogyakarta, ditemani pengamen jalanan. Atau sebuah toko musik kecil di salah satu sudut mall, ketika saya sedang memilih cd, dan menemukan cd Lady Antebellum, band country kesukaan kami, tinggal satu, dan dia yang membelinya. (Betewe, adik saya suka versi yang terakhir, saya pun juga.)

Dan yang kami rencanakan, akhir tahun ini, menemani saya dan menghabiskan waktu di Dufan bersama teman-teman kaskus saya yang sedang heboh merencanakan gathering di sana. Atau maju lagi di bulan Oktober, kalau alam berkonspirasi memenangkan kami berdua masing-masing tiket ke Singapura, di mana itu hadiah utama sebuah event perlombaan edit pictures yang kami berdua sama-sama ikuti.

Saya, dan dia, sama-sama ngga tau. Kalau saya percaya doa, saya berdoa untuk itu. Dan dia, yang ngga percaya doa, dan lebih mempercayai keberuntungannya, mungkin dia berharap menghabiskan keseluruhan keberuntungannya tahun ini di antara hari-hari itu.

Someday, my dear.

Read more