Wednesday, November 10, 2010

My (Not Yet) Happy Ending #1

The started….



Saya sama si pacar paling enggak udah hampir setengah tahun pacaran jarak jauh. Usia yang masih muda banget buat saya mengingat rekor pacaran terlama saya itu 3 tahun, itu pun nggak jarak jauh. Pacaran jarak jauh saya itu dua kali kalo dihitung sama yang sekarang. 


Tapi yang pertama diakhiri saya diselingkuhi waktu jalan setahun pacaran. Rada trauma juga sih, tapi gimana lagi, saya ngga bisa nyerah gitu aja, saya suka sama resiko, suka bagaimana passionnya, prosesnya, hingga kita tau itu harus berakhir atau berlanjut. Dan ngerasain gimana kita jatuh, berdiri, jatuh hingga berdiri lagi.

Walopun ini terbentang jarak, dan syukur banget deh belom terbentang waktu, saya selalu berharap setiap kali menjalin hubungan sama seseorang, siapapun dia adalah hubungan pacaran yang terakhir. Saya selalu bertanya-tanya apakah itu adalah The Last Stand, pemberhentian terakhir saya. Atau justru sebaliknya.

Tapi kalopun akhirnya enggak, dan Dia menghendaki saya masih harus melanjutkan perjalanan, saya nggak punya pilihan lain. I’m just an ordinary girl.

Saya orang yang open-minded, saya enggak pernah punya kriteria tertentu waktu pacaran sama seseorang. Kalo ditelusuri, dari pacaran main-main saya waktu SD sampai pacaran serius seperti sekarang, saya nggak pernah menjalin hubungan dengan orang yang punya ciri khas tertentu. Istilahnya random. Misal ada cewek yang suka sama cowok tinggi, cowok berkulit putih, cowok smart, dan laen-laen, -cowok dengan kriteria tertentu seperti itu. Saya enggak sama sekali.



Pastinya, bener kata Mario Teguh, orang baik akan mendapatkan orang baik pula. Saya bukannya sok baik atau gimana. Anyway, tapi jujur, saya nggak pernah tuh dapat cowok yang macem-macem. Kalo nakal-nakal khas cowok itu sih biasalah, kayak kebut-kebutan, cabut dari kelas, ngerokok, sesekali nyobain minuman alkohol buat seru-seruan, hal-hal yang nyerempet bahaya semacam itu. Kenakalan khas cowok di masa mudanya, wajarlah.

Btw, saya garis bawahi nyerempet ya. Bukan bahaya beneran macam nge-druggs, mabok-mabokan, free sex, clubbing sama orang-orang nggak jelas, bersyukur banget saya nggak pernah dideketin orang macem gitu. Bukan gaya hidup kaya gitu salah ya, karena buat saya, yang menentukan sesuatu itu benar atau salah, cuma diri kita sendiri. :)

Pacar saya ini aja saya kenalan lewat game online. Yeah, game online (*rolling eyes). Rasanya konyol banget, tapi begitulah kejadiannya. Saya itu diam-diam gamers, cuma beberapa orang yang tahu kalo saya suka begadang cuma karena maen game online, bahkan keluarga saya pun mikirnya saya ngehabisin waktu masih maen game The Sims, satu-satunya jenis game yang mereka tahu karena user interfacenya yang menarik banget untuk segala umur.


Di game, orang bisa berinteraksi sama orang walopun belum ketemu. Kayak chattingan, perang ngelawan musuh sama-sama, sampe ajang curhat sama-sama yang mungkin bikin kita tertarik satu sama lain. Tadinya cuma tukeran ym, fb, standarlah, sampe nomor telepon. Dari cuma curhat, ngobrol serius, dengerin musik yang sama, ngebagi cerita lucu, konyol-konyolan nggak jelas, saling kasih semangat, saya akhirnya bisa jatuh cinta beneran sama dia. Anyway, kita bahkan belum ketemu secara langsung, pasti dan lama. Konyol kan?

Jaman sekarang, orang bisa dengan mudah jatuh cinta cuma karena kita nyaman ngobrol padahal jelas-jelas belum ketemu, nggak kayak jaman dulu. Apalagi sekarang udah dipermudah dengan adanya jejaring sosial, kita bisa liat orang itu seperti apa, cuma dengan liat akun yang dia miliki, komentar teman-temannya, foto-fotonya atau apapun yang kita masukkan sebagai biografi di akun kita.

Tapi, bener kata Raditya Dika di bukunya Marmut Merah Jambu, kenal seseorang lewat dunia maya seperti tebak-tebakan buah manggis. Kita bener-bener ngga bisa percaya akun itu seratus persen berisi informasi yang benar. Semua orang bisa membuat image dia sendiri dengan tulisan. Kita bahkan bisa menyembunyikan sifat-sifat asli kita karena kita cuma bisa mengandalkan satu hal, tulisan tulisan itu. Tulisan nggak pernah bisa mewakili segalanya.

Saya sama si pacar juga sadar hal itu. Hubungan kayak gini, gak ada interaksi langsung bahkan sampai selama setengah tahun lebih mengenalnya, itu nggak cukup. Nggak pernah cukup. Kita putuskan, kita harus ketemu. Saya harus bisa jatuh cinta sama hal lain dalam diri dia. Bukan cuma tulisan dan suara di telepon.

Saya ingin jatuh cinta juga sama cara dia ketawa, cara dia berjalan, cara dia mungkin memandang saya, cara dia makan, bahkan hingga keburukannya seperti mungkin ngupil, kentut sembarangan sampai cara dia marah atau cemburu. Saya tetep pengen jatuh cinta dengan normal.

Namun jika akhirnya dia enggak sebegitu interest dengan kita nggak seperti ketika dia di dunia maya, kita harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Karena selama ini kita hanya hidup lewat bayang-bayang. Ibaratnya, kita kayak jatuh cinta sama bayangan kita sendiri, dia ada, dia mengikuti kita, dia merasakan kita ada, dan kita bisa merasakan dia ada, tapi kita nggak bisa menyentuhnya. :)

Anyway, saya yakin, kamu pernah mengalami cyber love, cinta dunia maya. Ada ribuan orang di dunia ini yang sama kayak saya. Saya di sini cuma berdoa, saya cuma berusaha menemukan orang yang tepat, kalo akhirnya dialah orang yang tepat itu, saya akan membagi apapun dalam hidup saya sama dia entah sampai nanti. Tapi kalo ternyata enggak, saya akan coba menerima kenyataan. Well, kita kadang harus bertemu orang yang salah dulu, banyak sekali orang yang salah, untuk sampai bertemu orang yang benar.

Untuk sampai ke sana, ada ribuan jalan harus dilewati, nggak gampang. Bahkan kadang kita harus dihantui rasa curiga, kekecewaan, ketidakpedulian, tangis, segala bentuk yang bersifat emosional sampai tawa dan kebahagiaan.  Tapi begitulah manusia, kadang udah sampai mati rasa, kita nggak pernah ngerasa kapok untuk mencari sesuatu yang kita inginkan.

Saya nggak percaya sama orang yang bilang udah nggak mau ngerasain jatuh cinta. Its beauty you know, bahkan hingga rasa sakitnya kalo kamu kenang bertahun-tahun lagi dari sekarang. Saat itu, saat ketika kamu udah merasa forgive and forget, justru bisa membuat kamu tertawa-tawa.

At least, setiap orang pengen punya kisah happy ending. Saya juga. Kamu juga pastinya. Ayo kita berjuang sama-sama mencari ending itu. Gimanapun caranya.

Cause if one day you wake up and find that you're missing me
And your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thinking maybe you'll come back here to the place that we'd meet
And you'll see me waiting for you on our corner of the street
So I'm not moving, I'm not moving
(The Script-The man who can’t be moved)

No comments: