Saturday, November 13, 2010

Fams, The Important things of Life

Saya itu lebih dekat sama sodara-sodara sepupu, dibanding keluarga inti saya sendiri. Aneh ya? Yup. Soalnya dari kecil saya jarang banget ngabisin waktu sama keluarga inti saya. Mentok-mentok sama kakak perempuan saya, tapi itu pun udah jarang banget sekarang, becaused she was getting married and build her own small family with her husband.

Dari kecil, saya udah nggak tinggal sama si Bapak, sejak Ibu saya pergi dipanggil sama Dia, our Owner of Life. Kakek nenek saya penganut Kejawen yang taat, dan baru mengenal agama Muslim di masa-masa akhir usia mereka. Tapi, meskipun begitu, mereka masih aja menjalani dan mempercayai hal-hal berbau Kejawen macam keris, perhitungan hari berdasarkan weton, tanggal lahir dan bla bla bla lainnya yang nggak make sense buat saya sekarang.

Anyway, itulah yang membuat saya tinggal sama si Eyang Putri dan Eyang Kakung sejak saat itu, -begitulah cara saya panggil Kakek dan Nenek saya, like the other Javanesse peoples called their Grandpa and Grandma.

Yeah, I’m a trully javanesse people, btw. And you can see it on how I spoke, I told to anybody, and my face, fisically. Eyang, percaya bahwa hari weton saya dan si Bapak yang kebetulan sama itu nggak bisa digabungin dalam satu rumah, karena kita bakalan sering berantem dan beda pendapat. Saya nggak percaya sih, tapi kenyataannya, emang saya sama si Bapak nggak pernah nyambung kalo ngomong bareng.

That’s why, saya lebih deket sama sodara sepupu-sepupu saya. Biasa, rumah Eyang adalah rumah berkumpul semua anak, menantu dan cucu-cucunya. Kakak saya pendiam dan saya hyperaktif. Selain itu, jarak usia kita berdua lima tahun, cukup jauh buat kita berdua untuk hidup di jaman yang berbeda. Ibaratnya, waktu saya SMP saya udah kenal Handphone butut Nokia 3210, yang motonya begitu kecil begitu cerdas itu, sedangkan waktu kakak saya SMP, dia masih sibuk ikut korespondensi, surat menyurat sama apa yang disebutnya sebagai sahabat pena, orang yang dikenalnya lewat majalah, or whatever.

Tapi, walo saya tinggal sendiri di rumah terpisah, sepupu-sepupu saya masih suka datang, apalagi mereka yang harus kuliah di kota-kota terdekat. Kita ngobrol nggak jelas sampai malam, karokean, curhat-curhatan sampe jadi bahan ledekan, jalan-jalan keliling-keliling sambil cari makanan di emperan, kegiatan favorit saya dan sepupu-sepupu kalo sepanjang hari itu nggak ada kerjaan. Dan hari saya kembali bakalan sepi ketika mereka pulang.

Bencana Merapi membuat salah satu sepupu saya yang kuliah di Jogja ngungsi ke rumah. Udah beberapa hari dia menemani saya. Kita makan bareng, internetan, ngegosip, jalan ke mall, apapun yang dilakuin orang kurang kerjaan seperti kami. Dan rumah saya mendadak rame ketika akhirnya sepupu saya yang kuliah di Undip datang dan ikut-ikutan gabung bareng kami. Semalaman kami ngobrol bareng, paginya, sepedaan keliling kota dan berakhir makan di emperan alun-alun kota menikmati es buah dan jajanan pasar.

Saya masih bersyukur banget, walopun si Bapak cuek dan selalu aja nggak pernah punya kesan peduli sama saya, saya masih punya mereka. The cousins. Enggak tau kenapa, tapi nyenengin aja ngabisin waktu sama mereka. Mereka adalah bagian dari hidup saya, kenakalan-kenakalan remaja kami yang hampir sama, memiliki darah keluarga yang sama, sama-sama hidup di perantauan dan rumah ini selalu jadi tujuan mereka untuk pulang.

How old are you may be, fams is the most important things of life. I know, maybe I’m not having a perfect family, like yours, a perfect Dad that always be there read his newspaper and drink the beer and also pick up you from your school, a beautiful Mom with her amazing food for dinner and always be there when you told how you broke your day, boyfriend, bestfriend or whatever, anything about your drama of life. Or may be a sister that shared with you her clothes, her first kiss, her experienced of make up, fashion or everything about the girls things. Or a brother, that help you learn how drive a car or cycle, fight for you when someone else makes you cry, pick you up from your dates with a boyfriend, something like that. Yeah, I don’t have it.



Tapi, saya tahu, Dia itu selalu adil. Hanya mungkin Dia mengatakannya pada satu orang dengan orang lainnya dengan berbeda cara. Dia mengganti semua itu dengan kehadiran orang-orang lain yang selalu ada di samping saya. The cousins, the other parents that I called Mom and Dad, bestfriends, boyfriend that one come and one go, pets, everyone in my life. Yang datang dan pergi dengan tujuan mereka masing-masing. Saya selalu percaya orang dipertemuin dengan orang yang satu, pasti ada tujuannya. Mereka membuat hidup kita berwarna. Sometimes, dari mereka kita belajar hal-hal yang membuat kita bisa tetap menjalani hidup.

So, whoever you are, dear. Bersyukurlah jika kamu masih punya keluarga yang lengkap. Manfaatkan waktumu sebaik-baiknya saat kamu masih punya kesempatan itu. Kalopun enggak, saya yakin ada harta-harta lain dalam kehidupan ini yang belum kamu sadari adalah sesuatu yang berharga sekali.

Oke times up, saya harus lanjut ngerevisi skripsi. Thanks for the days, cousins. :)


And, oh yeah, congratulations for your big day, honey. Sometimes, I wish I could be there, watch you with your best clothes, giving you the congratulations speech :D, but you know I can’t do that for some reasons. And you know I love you too much. :)  

No comments: