Sunday, September 5, 2010

The Cosmological Coincidence of Raditya Dika

“And I know that it's a wonderful world
But I can't feel it right now
Well I thought that I was doing well
But I just want to cry now
Well I know that it's a wonderful world
From the sky down to the sea
But I can only see it when you're here, here with me

James Morrison – Wonderful World

Saya baca buku Raditya Dika yang keempat, judulnya Marmut Merah Jambu. Saya terhenti di bab “How I Meet You, Not Your Mother”. Bukan, saya bukan concerned sama kisah cinta dia sama Sherina. Tapi tentang ideologi The Cosmological Coincidence, yang dia tulis.
Baca deh, ngga nyesel. Banyak pelajaran cinta di dalamnya. Hehe.

Saya, dan seorang cowok, mengalaminya hari ini. Berhari-hari bersama-sama, berbulan-bulan membagi apa saja, nonton bareng via messenger, mendengarkan lagu lewat sharing video, smsan, semunya, ternyata ngga cukup untuk membangun sebuah kesepakatan dengan alam. Dengan takdir. Dan di antara itu semua, dengan yang memiliki mereka, Tuhan.

Masih belum mengerti?

Saya mau review sebentar apa sih The Cosmological Coincidence menurut Raditya Dika? Hmmm…. Karena novelnya udah ngga saya bawa, saya akan kasih tau kalian dengan bahasa saya sendiri. J

The Cosmological Coincidence adalah keadaan di mana alam mengatur semua yang kamu lakukan hari itu. Intinya sih gitu kalo saya baca. Mungkin hampir sama dengan takdir. Apapun itu, semuanya yang punya bukan saya, dia atau kamu. Yang punya kewenangan untuk mengaturnya adalah Dia, yang menciptakan kita semua.
bahkan batu-batu bertabrakan pun, alam yang mengaturnya sedemikian rupa.

Tapi Radit, dengan bahasa cintanya, mengartikan lebih ke tentang pertemuan antara seseorang yang satu dan seseorang lainnya, nggak ada yang kebetulan, semuanya diatur oleh alam. Kalo kamu belum saatnya bertemu dengan orang itu, sedekat apapun kalian, nggak akan dipertemukan. Tapi kalo kalian ditakdirkan ketemu, sepasang sahabat lama pun bisa ketemu hanya karena duduk bersebelahan di Times Square, meskipun, Times Square itu ada di New York atau New Delhi sekalipun, dan menikmati kopi yang sama.
Ayah dan anak, terpisah bertahun-tahun, duduk di satu kursi yang sama, tapi sama-sama ngga tau mereka berbagi kursi satu sama lain.

Saya setuju banget sama Radit. Dan ini kejadian yang terjadi pada saya hari ini. Cowok yang deket sama saya sekarang, tinggal bermil-mil jauhnya di Jakarta. Saya, di Semarang. Saya, juga punya rumah di Jakarta. Ayah dan Ibu baru saya menetap di sana. Dia, juga punya saudara di Semarang. Dan karena ini mau lebaran, kami diatur oleh alam sedang berada di satu titik yang sama. Kota Semarang.

Dia, dengan keluarganya singgah sebentar ke kota ini, sebelum bertolak ke kampung halamannya di Surabaya. Saudaranya tinggal cuma beberapa kilometer dari pusat kota, Simpang Lima. Tempat di mana saya, dan adik sepupu saya, si Otong, sedang hunting frame kacamata dari satu spot ke spot lainnya hari ini. Kami berjuang melewati manusia-manusia haus diskon yang mencari-cari barang-barang untuk berlebaran. Kalo bukan karena frame kacamata, saya memilih makan di Pisa Caffe di jalan Diponegoro, daripada mendaftar waiting list di Pizza Hut Simpang Lima. (Sumpah naik escalator aja kami berdua harus antri.)

Dan dia, finally, dengan keluarganya pergi ke luar, dan makan malam dengan jarak yang sepersekian kilometer lagi lebih dekat dengan saya. Kami smsan, mencari celah untuk ketemu. Adik saya, Otong, sebenernya bersedia menemani saya. Tapi, kalian tau kan, pergi bareng keluarga, ngga pernah gampang untuk menyelinap keluar rombongan. Dan dia, sepertinya kesusahan banget untuk mencari celah itu.

Saya dan dia, biasanya dengan jarak sejauh itu (Jakarta-Semarang), selalu cari cara gimana biar ngerasa deket. Sekarang dengan jarak sedekat ini, entah kenapa saya ngerasa jauh. Hahaha, kayak lagu aja. Tapi pernah ngga sih kalian ngerasa kayak gini? Sedekat itu, mungkin cuma dibatasi satu seberang jalan dan satu bangunan, atau bahkan satu tembok, tapi kalian ngga melihat satu sama lain?
Kepisah tembok, satu gedung, beda lift doang.

Inilah The Cosmological Coincidence. Saya dan dia belom ditakdirkan oleh alam untuk ketemu. Padahal jelas-jelas di bawah langit yang sama. Hawa panas yang sama. Keriuhan orang-orang yang sama. Lampu-lampu jalanan yang sama. Mungkin saja, orang yang melewati dia, juga melewati saya. Atau jalan yang saya lewati, kemudian dia lewati juga.

Kata sahabat saya, Nova, (Hey, saya buka sms kamu lagi untuk mengutip, Va!) yang lebih dulu membaca Marmut Merah Jambu, kaya gini:

“Gila, padahal, cuma beda beberapa meter doang. Dunia memang aneh. Mungkin saja alam semesta belom berkonspirasi untuk mempertemukan kalian sekarang. Just waiting, dear.”

Saya mau menunggu. Sampai alam berkonspirasi mempertemukan kami. Entah kami tidak rencanakan, seperti ketemu di sebuah desa antah berantah, bertabrakan, buku-buku kami jatuh (kayak sinetron ya?) wkwkwkwkwkw. Atau mungkin di peron stasiun, menuju ke kota Yogyakarta, ditemani pengamen jalanan. Atau sebuah toko musik kecil di salah satu sudut mall, ketika saya sedang memilih cd, dan menemukan cd Lady Antebellum, band country kesukaan kami, tinggal satu, dan dia yang membelinya. (Betewe, adik saya suka versi yang terakhir, saya pun juga.)

Dan yang kami rencanakan, akhir tahun ini, menemani saya dan menghabiskan waktu di Dufan bersama teman-teman kaskus saya yang sedang heboh merencanakan gathering di sana. Atau maju lagi di bulan Oktober, kalau alam berkonspirasi memenangkan kami berdua masing-masing tiket ke Singapura, di mana itu hadiah utama sebuah event perlombaan edit pictures yang kami berdua sama-sama ikuti.

Saya, dan dia, sama-sama ngga tau. Kalau saya percaya doa, saya berdoa untuk itu. Dan dia, yang ngga percaya doa, dan lebih mempercayai keberuntungannya, mungkin dia berharap menghabiskan keseluruhan keberuntungannya tahun ini di antara hari-hari itu.

Someday, my dear.

2 comments:

riesta said...

LDR ya????
sabaaar,,,ada saatnya kalian bisa ktemu kok...
aku juga uda 2 taun lebih jalanin yg namanya LDR...

m e g g i e said...

@riesta: agh, baru liat maap yaaa....
hehhe iya....
makasih....