Saturday, September 4, 2010

When You Walk Away, I Count the Steps that You Take....

Saya itu bingung sama perasaan saya sendiri. Kemaren saya bisa bilang sama sahabat-sahabat saya kalo saya udah ngga papa. Nyatanya, ketika kemaren saya ketemu lagi sama mantan saya, perasaan saya mendadak kacau. Bukan karena saya masih ada perasaan atau apa. Tapi kemaren mantan saya bilang, dia akhirnya keterima kerja di Jakarta, dan bakalan berangkat tanggal 15 bulan ini.

Saya ikut senang. Dengan sok tahu (seperti yang biasa saya lakukan), saya kasih nasehat-nasehat sedikit buat dia. Actually, as a bestfriends, off course. Habis gitu, saya cepet-cepet pergi karena ada janji buka bareng sama sahabat-sahabat saya, si Monna, Nova dan Ferry.

Acara buka bareng awalnya lancar-lancar aja, sampai mantan saya sms lagi. Ada barang yang ketinggalan. Akhirnya kita sepakat ketemu lagi walopun posisinya saya masih sama sahabat-sahabat saya.

Ketika dia datang, kita semua bercandaan bareng. Dia orang yang baik dan ramah, dan itu nggak pernah berubah sama sekali. Setelah menyelesaikan urusan dengan saya, dia pamit pulang. Pas saat itu, saya melihat dia dan motornya pergi, saya baru tahu, dia bawa helm 1 lagi. Helm yang biasa dia bawakan kalo dia menjemput saya. Dan kebiasaaan itu masih dia lakukan. Padahal saya jelas-jelas ngga minta jemput. Perasaan saya mulai nggak beres. Dan saya fokuskan untuk memakan roti bakar saya yang udah mulai dingin.

Ketika dia berlalu pergi, saya ngerasa perasaan saya langsung nggak karu-karuan. Apalagi mendapati kenyataan itu kemungkinan itu adalah saat-saat terakhir saya bertemu dengan dia. Dan kita ngga akan ngerti, kapan kita dipertemukan lagi. Dan pada saat dipertemukan lagi itu pun, saya sudah seperti apa, dia sudah seperti apa.
Sampai di rumah, entah kenapa saya buka folder lama foto saya sama dia. Saya ngga berusaha buat menghapus, karena ketika saya ambil foto-foto itu, ada beberapa even yang selalu berbarengan dengan foto teman-teman lainnya. Dan tau nggak, saya menangis.
Saya malu banget. Apalagi ngga tau kenapa, Monna menelepon. Dia nanya alamat website sama saya. Dengar nada suara saya, Monna tau, saya menangis. Dan dari semua yang dia bilang sama saya, saya paling ingat dengan kata-katanya yang ini:

“Kamu, wajar untuk menangis. 3 tahun itu waktu yang lama. Kamu ngga bisa melupakan gitu aja, itu wajar. Meskipun nanti kamu sama orang laen, atau menjalin hubungan yang lebih lama lagi pun, ini nggak akan pernah kamu lupakan. Karena itu adalah jalan hidup kamu. Dia yang menentukan perubahan yang ada dalam hidupmu. Bagaimana bisa kamu paksa diri kamu untuk melupakan sesuatu yang mempengaruhi hidupmu selama 3 tahun? Jadi, menangislah. Untuk hari ini saja. Dan berdoa, dia menemukan orang lain yang pastinya lebih baik atau sama baiknya denganmu.”

Saya sadar. Kalo kita kenal orang 1 hari, belum tentu dia mempengaruhi hidup kita selama satu hari itu. Tapi ketika kamu mengenal orang selama 3 tahun. Kamu seperti membuat sebuah buku cerita. Dan di dalam buku cerita itu, dibagi dalam banyak bagian.

Ketika kamu bertemu, ketika kamu mulai pacaran, ketika kamu bertengkar, ketika kamu saling mendukung, ketika kamu menghabiskan semalam suntuk hanya untuk menelepon, ketika kamu mengenalnya lebih jauh, ketika kamu dan dia berandai-andai memiliki sebuah masa depan, ketika menyadari jalan tak lagi sama, dan ketika memutuskan untuk berpisah. Dan ini adalah bagian terakhir dari buku saya. Ketika saya berusaha untuk bangkit dan berjalan lagi. Meskipun sulit, dan merangkak menyelesaikan buku ini.

Ya, saya harus menyelesaikannya. Karena kamu tahu, you can write a new book, if you haven’t finished the one. And I’m sorry, ini adalah akhir cerita saya. Nggak akan ada lagi tentangmu di sini. Saya cuma berharap, ketika kita nanti bertemu lagi, kamu, dan aku, adalah sepasang sahabat lama, yang saling bertukar cerita, dan membagi pengalaman-pengalaman kita saat kita menyusuri jalan kita sendiri-sendiri ini.


Kamu, aku, adalah bagian dari buku itu. Tapi sudah selesai sekarang. Aku harus menulis bukuku sendiri lagi, kamu juga. Dan apapun itu, buku kita adalah sebuah buku yang bagus. Buku yang indah untuk dibacakan kepada orang lain.

Kamu dan aku, bukan bagian dari masa lalu siapapun. Tapi kamu adalah bagian dari hidupku. Membuatku seperti ini, sekuat ini, setegar ini. Di manapun kamu, apapun yang kamu lakukan, bersama siapapun nantinya, aku harap kamu bahagia. *sighs.

"The time has come,
For closing books and long last looks must end,
And as I leave,
I know that I am leaving my best friend,
A friend who taught me right from wrong, 
And weak from strong,
That's a lot to learn,
What, what can I give you in return?"


lulu-To Sir with Love

be happy, promised me.

4 comments:

atanotonogoro said...

astagfirullah huaaaaa ini aku banget. aku juga ngerasain ini. susah rasanya ngelupain seseorang yang pernah kita sayangi dengan tulus. semangat yaa :')

m e g g i e said...

@ata hahaha iya...
survivelaaa...
padahal saya udah ada cowo lain mengisi hari2 saya, at least tetep 3 tahun itu susah banget buat dilupain, hehehhe....

said...

entah kenapa, aku suka banget baca postingan mu yang ini meg..
ada samting yang menyeruak..
hehe..
smangat meg..

m e g g i e said...

@mbak nana: wogh, dibaca temenku....
wkwkwkkwkwkkw...
jadi agak gimana2...
makasi mbak nana udah baca...
follow to ya, wkwkwkwkwk...