Tuesday, September 7, 2010

You Are Too Closest to Heaven, that I'll ever be....

Lagi. Berita duka masuk ke inbox saya. Ayah teman baik lama saya, Sanaiskara Wening Pramuditya, yang biasa saya panggil Chika, dipanggil Yang Maha Kuasa. Innalillahi Wainnalillahi Rojiun. Yang tabah ya, Chik. Kita semua, mau nggak mau akan mengalami hal kayak gini. Inilah yang saya bilang bagian dari The Cosmological Coincidence (lagi).

Dan mendadak saya, jadi ingat banyak orang di sekitar saya yang sudah datang dan pergi.
*sighs.

Kadang manusia itu aneh. Mereka seakan terpuruk banget waktu putus cinta, ditinggal selingkuh, ditinggal merantau, pokoknya ditinggal pergi orang ke belahan dunia lain. You know, seakan-akan, langit runtuh di kepala mereka.

Di antara semua itu, rasa sedih kalian masih lebih ringan tau, dibanding ditinggal pergi orang yang kita sayangi selama-lamanya.

Bukannya sok tau, atau sok pengen dikasihani. Tapi saya udah mengalaminya berkali-kali. Saya sampai takut kalo hati saya lama-lama mati, ngga bisa ngerasain apa-apa lagi.

Makanya, saya ngga pernah sedih-sedih banget waktu putus cinta atau gagal. Orang bisa lihat saya kejam. Hey, saya juga menangis kali. Tapi ngga di depan kalian. Saya ngga mau keliatan terpuruk. Karena saya, udah pernah mengalami yang lebih parah. Dan itu, seperti sebuah kekuatan entah dari mana, yang selalu bikin saya kuat dari hari ke hari.
kata Dewa di lagunya sih, menangislah bila harus menangis, karena kita semua manusia....
Seperti Chika, saya kehilangan Ibu saya waktu umur 3 tahun. Kalo Chika, dia masih bisa merasakan kehangatan Ayahnya sampai umur 22 tahun, saya bahkan seperti nggak kenal dengan Ibu saya. Saya pernah tanya kan di posting saya sebelumnya, apa yang bisa dirasakan kalau saya hanya bisa mengenal Ibu saya selama 3 tahun? Saya masih kecil banget. Memori saya masih terbatas. Saya bahkan belum bisa ngomong lancar.

Saya menyayanginya cuma lewat foto, cerita masa lalu dari orang-orang, jejak langkah, melihat kemiripan di sosok kakak saya, sampai hanya dari melihat kesendirian ayah saya selama bertahun-tahun. Dan perasaan kehilangan saya, selalu muncul, waktu ngeliat sepupu saya bertengkar dengan saya, dan dia dibela mati-matian oleh Ibunya. Saya selalu berpikir, siapa yang membela saya? Tidak ada.

Ketika saya jatuh cinta pertama kali, kalian bisa sharing dengan Ibu kalian ketika di dapur menyiapkan makan malam atau saat mau tidur untuk minta pendapat, saya cuma bisa diam dan menulis, sampai kadang seperti orang gila, menganggap jurnal saya seolah-olah Ibu saya. Ketika kalian hendak memilih kebaya untuk acara khusus, seperti pernikahan atau wisuda, saya hanya bisa mantap dengan pilihan saya sendiri, kadang cuma bisa dibantu sahabat-sahabat saya (Thanks, God! I always have them.)

Itu adalah salah satu perasaan-perasaan yang bakalan kalian rasakan ketika kalian kehilangan. Perasaan merindukan kehadiran mereka. Perasaan seperti: “Hey, elo harusnya di sini nemenin gue!”

Memori saya loncat di tahun 2001-2002, ketika Nenek (Ibu dari Ibu saya) meninggal dunia. Damn, saya sedih banget. Nenek saya wanita kedua yang baik sama saya setelah Ibu saya, tentunya. Selama hampir belasan tahun, saya selalu menghabiskan liburan panjang saya di rumahnya. Dia selalu bertanya: “Kamu mau titip apa, nduk?” kalo dia mau ke pasar. Saya selalu aja titip banyak banget makanan. Atau waktu malam-malam, saya intip ke kamarnya, dia memanggil saya untuk mendekat. “Ayo dengar radio,” ujarnya sambil mengambil radio tua kesayangannya. Dan ketika bangun di pagi harinya, makanan sudah ada di meja, saya tinggal makan dan menonton kartun favorit saya.

Itu masih belum cukup. Om saya, tempat Ayah saya menitipkan saya dan kakak saya kepadanya, bersama istrinya, wanita ketiga yang baik dalam hidup saya, Sakit parah dan juga meninggal dunia. Saya melihat sepupu saya seperti kehilangan pegangan hidup. Karena kami sebaya, saya bisa merasakan apa yang dia rasakan. Saya merasakan sama kehilangannya dengan dia. Meskipun saya sama sekali ngga menangis, saya sedih melihat sepupu saya. Nggak akan ada lagi jajanan diam-diam untuk kami, ngga ada piknik di akhir pekan walaupun cuma ke alun-alun kota, ngga ada lagi keliling-keliling dengan mobil tua kesayangannya yang selalu berdecit kalau dia menginjak rem, ngga ada lagi Om saya yang itu.

Bahkan saya sempat bertanya pada Tuhan saya, mau siapa lagi yang diambilnya dari saya. Apakah itu normal bagi anak-anak seperti kami, kehilangan pegangan hidup di usia semuda itu. Tapi, waktu saya lihat anak-anak di jalanan, yang mengemis, kumal, ngga tau di mana orangtuanya, makan sehari sekali aja harus berjuang dulu. Saya tau, saya masih lebih beruntung daripada mereka.

That’s life, man. Saya, kamu, dia dan orang-orang itu akan datang dan pergi sesuai jadwal yang ditentukan oleh Tuhan. Di sebuah film Korea yang saya tonton, Brilliant Legacy, salah satu tokohnya mengatakan seperti ini:

“Manusia itu seperti punya jadwal sendiri-sendiri. Kalau dia harus datang di kehidupan kita, dia pasti akan datang. Kalau dia harus pergi, dia akan pergi, sekuat apapun kita mengikatnya.”

Jadi, saya pikir, ngga usah terpuruk berlebihan karena cuma patah hati, ditinggal selingkuh, atau ditinggal merantau nggak pulang-pulang. Hey, setidaknya mereka masih ada di dunia ini. Kamu masih bisa mengejar mereka, masih bisa memaki-maki mereka, masih bisa mencari keberadaan mereka.

Kalau kamu ditinggal selama-lamanya, bagaimana kamu mau mengejar, memaki-maki, mencari-cari, kalau kalian sudah hidup di dunia yang berbeda. Yang bisa kamu lakukan cuma menunggu saat kamu dipanggil Yang Maha Kuasa. Jadi bersiaplah, kita ngga tau kapan dipanggil untuk selama-lamanya. Selama menunggu panggilan itu, nikmatilah hidup ini, seakan-akan kamu mau mati besok.

2 comments:

Gaphe said...

Sesungguhnya setiap yang hidup itu akan kembali kepada-Nya..

m e g g i e said...

@ Gaphe yup, absolutelly...
thanks for reading...