LIFE AT TOMATO FAMILY: quotes
Showing posts with label quotes. Show all posts
Showing posts with label quotes. Show all posts

Friday, December 31, 2010

BYE 2010... ;)
10:40 AM0 Comments
Saya adalah salah satu orang dari sekian banyak orang yang selalu memiliki harapan di awal tahun dan entah kenapa harapan itu selalu sukses saya lupakan selama sisa tahun berikutnya. Hehe.

Waktu saya remaja, sampe SMA, saya masih bikin resolusi nggak jelas khas ABG. Saya masih ingat, kalo misalnya saya lagi pacaran sama si A, resolusi saya moga – moga tahun itu si A masih pacaran sama saya. Padahal pernah juga pada tahun itu saya bahkan putus dari A dan malah ngejomblo selama sisa tahun itu tanpa siapa – siapa. Lucu. Saya begitu mudah bikin resolusi dan begitu mudah mengingkarinya.

Sekarang, di blog, saya malah jadi mikir, apalagi di twitter orang – orang lagi rame ngomongin resolusi. Hedeh… kira – kira resolusi saya apa ya? Mikir resolusi, saya malah jadi mendadak laper karena bukan resolusi yang saya ingat, tapi resoles, hehe. Makin nggak jelas.

Kayaknya enak ya kalo bikin resolusi terus kayaknya gampang gitu terwujudnya. Kaya temen saya, dia jualan pulsa yang bentuknya MLM. Dia bilang sama saya tahun depan harus bisa dapet mobil dari MLMan pulsanya itu.

Herannya, ternyata bener aja. Saya agak iri ketika dia bawa Honda Jazz masuk ke parkiran kampus. Saya nggak pernah suka MLM dan Honda Jazz, tapi saya suka sama cara dia berusaha untuk ngedapetin itu. It’s cool.

Ato temen saya yang satu lagi. Cewek. Dia bilang tahun 2010 dia harus lulus. Terus merit sama pacarnya. Saya pengen juga lulus, - tapi saya belom pengen merit. Eh beneran aja, bulan Oktober kemaren dia lulus dan jarak satu minggu dia dilamar sama cowoknya.

Gilaaa, bulan Desember kemaren dia melangsungkan pernikahannya. Hey, dia seumur saya lho. 22 tahun. Dan kayaknya apa yang dia mau lakukan bisa dia resolusikan jelas banget di tahun 2009.

Hmmm, kayaknya saya harus bisa kaya temen saya itu. No no no, not about merit. Haha. Tapi soal kelulusan saya. Hmmm. Saya udah nggak sabar pengen lulus. Dan abis gitu dapet kerja yang lumayan. Paling nggak saya bisa nggak minta duit sama Bapak saya lagi. Udah mulei males tau kalo dia ceramah soal duit.
Helow, saya juga bukan anak yang suka foya – foya. Saya cuma agak boros sedikit dan lapar mata, hehe. Tapi seenggaknya saya selalu ngumpulin uang buat kebiasaan buruk saya itu.

Jadi, whateverlah about resolusi. Saya mau fokus apa yang di depan mata dulu. Sidang, lulus, wisuda, cari kerja. Standar aja sih, khas mahasiswa fosil kaya saya, wkwk. Habis gitu baru mikir yang lain, kaya nyenengin keluarga, pacar, sahabat – sahabat dan atau orang – orang yang membutuhkan uluran tangan. Cieee, sok baik.

Nggaklah. Saya emang baik beneran. Suer. Hehe. :D

Ahhh, mesti say goodbye buat Tahun 2010. Tahun yang penuh drama queen, haha. Tapi saya bersyukur atas apa yang saya udah lewati selama setahun ini. Terimakasih Tuhan untuk segala yang telah Kau hadirkan selama setahun ini. Pernikahan kakak, putus cinta, perseteruan keluarga besar, kepergian sahabat, kematian, cinta baru, bertemu dengan orang – orang baru, dan yang paling indah adalah, selesainya skripsi saya.

“The only person who never makes mistakes is the person who never learn anything.” – THEODORE ROOSEVELT - 
Read more

Sunday, November 28, 2010

Dear Boyfriend... #2
12:05 AM0 Comments
Ah, its 28th  again!!!
Yeah, I think may be you will be forget or don’t realize that this is 28th! But I just wanna say this:
“Happy anniversary 6 months!”
And I found a beautiful song. It’s a remake. But mmm its piano!

and my favourite words:

There ain't nothin' that I wouldn't do
Go to the ends of the earth for you
Make you happy, make your dreams come true
To make you feel my love




"If you can't have the best of what you want, learn to make the best of what you have." -Douglas Adams
And I will keep try to be the best.
Read more

Friday, November 26, 2010

Won't sing the blues with you, anymore
3:39 PM 3 Comments
“What the part of friendship that feel so hurt? Yes, it was. When it ends.”

Oke, sebenernya saya nggak mau tulis ini. Saya tahu, kalo dia membacanya, ada dua pilihan. Hubungan kami membaik atau dia semakin membenci saya. Tapi, saya pikir – pikir, someday, dia harus membaca ini. Paling nggak, dia tahu, apa yang saya rasakan dalam diam saya.

Anyway, saya ngerasa beruntung, sahabat saya itu banyak banget. Dan mereka kesebar di mana – mana. di kampus, sekitaran rumah, sahabat SMA, SMP, SD, yang masih keep contact sama saya terus. Bahkan saya suka dilemma waktu ulangtahun saya tiba. Saya pengen adil untuk ntraktir mereka tanpa salah satu dari mereka ngerasa lebih mahal atau lebih murah dibanding yang lain. Kalo udah bingung, saya akhirnya ngga memilih untuk nraktir siapapun, dan akan mentraktir mereka lain hari tanpa ada embel – embel ulang tahun dalam event yang berbeda – beda.

Jadi, kalo ada yang kerasa kesindir atas apa yang saya tulis, sorry, may be its really you. And I just wanna you know, I know everything thought everything that you do, were hurting me behind.

Dear my (ex-)bestfriend…

Thanks for everything that you do to me, the crazy things that we’ve done, the laugh that we shared together, the cry that always make we give our shoulder each other, the stories that we told and we try to find the solution. Everything. Its beauty.

Tapi…

Saya cuma cewek biasa, kawan. Dan saya tahu, kamu juga bukan cowok super. Kita nggak punya kekuatan untuk membaca pikiran satu sama lain. Tapi, saya nggak kenal kamu barang sehari dua hari. Saya kenal kamu itu 3 tahun.

Saya ingat warna rambut apa saja yang pernah mewarnai rambutmu selama itu. Saya tahu, tipe – tipe cewek yang kamu sukai. Saya hapal sekali, kamu tidak pernah belajar dari pengalaman ketika kamu jatuh. Saya tertawa mengejek ketika kamu selalu jatuh cinta pada cewek – cewek yang salah dan besoknya patah hati.

Saya ingat 3 tahun itu apa yang sudah kita lakukan sama – sama. Saya masih ingat, kawan, kita rela tungguin jam 3 tepat di parkiran depan KFC sambil dipelototin tukang parkir, supaya dapat paket makan paling murah, karena kita sama – sama bokek. Saya ingat kita keliling kota sambil curhat – curhatan nggak jelas.

Kawan, saya ingat ituuuuu. Ituuu semua. Apakah kamu mengingatnya? Apakah itu tidak cukup indah untukmu dan begitu mudahnya kamu berpikiran seperti itu pada saya?

Oh, kawan…

Kamu pikir mengambil keputusan seperti itu nggak sulit buat saya?

Tapi, kalo matamu sudah tertutup semua pikiran burukmu, apakah saya juga akan mengejarmu untuk memberikan penjelasan? Nggak, kawan. Saya akan tetap diam di sini. Dan memperhatikanmu. Menunggumu mengerti. Menunggumu dewasa.

Kawan, saya tahu, saya nggak akan ada di sampingmu lagi ketika kamu berbuat bodoh. Tapi berhentilah membuat drama seakan – akan kamu adalah cowok paling sengsara di dunia karena semua hal ngga berjalan seperti maumu. Fokuslah pada apa yang kamu kerjakan. Dan berhentilah bermain – main. Waktu kita semakin sempit, dan kamu terus saja seperti itu.

Terimakasih untuk 3 tahun itu, kawan. Its hard to letting you go. But, I don’t have another choice, I just choose what you choosen. I just started what are you started. Its hard to just smile when we were met each other. Goodbye. Semoga sahabat – sahabatmu yang sekarang dapat membuatmu jadi lebih baik, sesuatu yang menurutmu saya tidak pernah bisa lakukan. :)

“Friendship is like a tree, it’s not MEASURED on how TALL it could be, but is on how DEEP the ROOTS HAVE GROWN.”

Read more

Sunday, October 31, 2010

Dear God....
9:37 AM0 Comments
In your majesty, You create differences

In my arrogance, I question Your wisdom

In your mistery, You create temptation

In my inferiority, You make me more than I am

So here I am

Surrender me in the agony of Your love

Surrender me in the irony of Your law

Lead me to the joy of love redivined

Would You teach me?

Teach me how to love You more

Well, goodbye the busy October

The amazing month that full of tears, pray, love, papers, minds and some kind of sickness





*some letters come from CIN[T]A movie, some just in my imaginations

Read more

Sunday, October 24, 2010

Dear Boyfriend....
2:31 PM1 Comments

Love is a rock.
It is bold.
It is deep.
It is complicated & it is simple.
It can be strong & it can be weak.
It is everything & it is nothing.
It can be destructive & it can be peaceful.
It is ugly & it is beautifull.
But mine....
It always accumulated of yours, your worlds, your laughs, and your stories....

Read more

Saturday, September 18, 2010

When I'm speaking at the voice of someone else
5:49 PM0 Comments

There will always be "lie" in believe.

An "over" in lover.

And "end" in friends.

And "us" in trust.

And an "if" in life.







*repost dari Nova Kristya
Read more

Tuesday, September 14, 2010

You took a chance to Loving me, but you trashed me away....*Eps.3* THE END
1:15 AM0 Comments
postingan agak panjang lagi...

"Let me go let me walk away, walk away baby
 I can't stay let me walk away, walk away baby
 I'll be fine, I will recover
 And I will learn to love another
 Sometimes goodbye is the hardest thing to say
 So I'll walk away"

Saya nemu lagu itu waktu jalan ke mall, mampir ke toko cd musik, nemu cd barunya Martina Mcbride, trus saya coba setel, saya dengar satu-satu. Pas di track ini, saya berhenti, trus saya ulang lagi. Judulnya walk away. Keknya pas banget buat posting episode ketiga dari “You took a chance to falling love with me, but you trashed it away…”. By the way, akhirnya saya nggak jadi beli cdnya. Tapi malah sepupu saya yang beli. Yo wes, saya copy paste satu album trus saya denger lagi walk away, sambil melanjutkan postingan saya yang ketiga.

By the way, agak sedih juga malam ini. Ini malam terakhir saya dengan sepupu-sepupu cewek saya, soalnya mereka besok udah mulai kembali ke habitatnya. Liburan lebaran udah selesai. Gila, cepet banget ya. Kayaknya baru kemaren saya ngucapin Minal Aidzin sama kalian.

Nggak ada malam perpisahan. Mereka semua tertidur di tempat masing-masing. Semuanya capek habis jalan-jalan sendiri-sendiri hari ini. Cuma saya doang yang masih bertahan, di tengah kantuk, rasa capek dan rasa ingin menyelesaikan postingan saya. Hari rabu saya udah mulai sibuk lagi sama skripsi. Damn, kembalikan liburanku padaku!!!!

Oke, cukup basa-basinya. Menurut saya biar kalian ngga kejebak sama hubungan kayak gini, ada sedikit saran hasil sharing, saya ngga mau bilang tips, soalnya saya ngga ahli juga dalam urusan cinta-cintaan nggak jelas. Here we go!
  1. Dari awal, bedakanlah sebuah hubungan. Hubungan pacaran sama sahabatan itu jelas beda banget. Bahkan isi sms, isi obrolan telepon, isi pembicaraan kalo lagi berduaan, itu beda banget. Hey, kalo niat dari awal sahabatan, pasti juga jadi sahabat. Salah satu atau dua-duanya harus membuat jalur, di mana ketika kalian melewati jalur itu, ngga ada yang harus merasa tersakiti satu sama lain. Kalo sahabat pasti setulus kalimat di lagu I’ll stand by you nya The Pretenders, kaya gini:
“When you’re standing at the crossroads. Don’t know which path to choose. Let me come along. ‘Cause even if you are wrong.”
Bedanya sahabat, dia ada di sana untuk selamanya. 
  1. Kalo udah terlanjur, tegaskanlah hubungan kalian, siapapun, yang udah menyadari duluan ini salah. Sindir-sindir, kasih clue, kasih argument dengan mencontohkan orang lain, dan ujung-ujungnya tanyalah pada dia: “Kalo kita berdua sebenernya ngapain?” Ada dua kemungkinan. Siapkan hati kalian lebih dulu. Siap jatuh cinta, siap kehilangan juga ‘kan? Kemungkinan pertama, dia jawab kaya gini: “ Kamu maunya kaya gimana? Kamu tau kan, selama ini ak sayang sama kamu, bla bla bla bla…” Okey, happy ending stories kalo gitu. Nyeseknya kalo dia jawab kaya gini; “Aku sukanya kaya gini aja…,” hmmm. Helloooo? Kaya gini gimana? Emang ada apa di kaya gini antara kita? Kalo gini sih, udah jelas. Dia sendiri ngga tegas. Just take it, or leave it. Masih banyak cowok/cewek, dear. Kamu berhak untuk bahagia. Dengan siapapun. Pasti ada seseorang, untukmu.
Dengar lagu Avril yang judulnya My Happy Ending deh, saya suka kata-katanya yang ini:

Kamu, berhak bahagia. Dengan siapapun itu.
“It's nice to know that you were there. Thanks for acting like you care. And making me feel like I was the only one. It's nice to know we had it all. Thanks for watching as I fall. And letting me know we were done. You were everything, everything that I wanted. We were meant to be, supposed to be, but we lost it. And all of the memories, so close to me, just fade away. All this time you were pretending. So much for my happy ending.”

  1. Kalo ternyata kamu cuma nomor sekian dari sekian cewek/cowok, jangan pergi dulu. Saya pernah dapat kata-kata bagus dari kaskus, kaya gini:
“If you play a game to me, I play a game too.”

Yup. Jelas banget. Kalo dia mempermainkan kita doang. Jangan tinggalkan dulu. Mainkan juga perasaannya. Kalo perlu sampe dia jatuh cinta beneran. Jahat memang. Tapi berilah pelajaran secukupnya sama dia. Secukupnya saja. Sampai dia mengerti. Setelah itu pergi, dan cari cinta yang lain. Kalo perlu, pamerkan di depan dia. I know, its hurt. Tapi kita manusia normal, kita harus melindungi perasaan dan hati kita yang cuma satu-satunya ini. Siapa lagi yang mau melindungi? Kalo bukan diri kita. Kaya lagu Carrie Underwood di Someday When I Stop Loving You:

“I'll move on baby just like you. When the desert floods and the grass turns blue. When a sailing ship don't need a moon. It'll break my heart but I'll get through. Someday when I stop loving you
Kamu, berhak untuk bernapas lega.

  1. Banyak beramal, berdoa dan jangan tinggalkan orang-orang yang kamu sayangi. Ini sih klise dari orangtua saya, wkwkwkwkwk. Yup, kalo saya sedih, Tante saya selalu menghibur bilang kaya gitu. Dulu saya geli, ngga jadi sedih. Tapi sekarang, saya rasa itu bener banget.
Waktu beramal, biasanya sama orang kurang mampu, kita malah jadi sadar betapa beruntungnya kita. Patah hati doang sih ngga sebanding sama penderitaan mereka. Mereka bisa survive, bisa ketawa-tawa, bisa tegar, padahal mereka serba kekurangan. Sedangkan kita? Just thinking about it, guys. You are lucky, more than that you know.
Berdoa? Well, Tuhan itu sbeenarnya adil. Cuma keadilannya itu selalu ngga diliat manusia dari berbagai sisi. Kadang itu yang bikin kita nggak percaya lagi sama Dia. Kalo kalian patah hati sekarang misalnya, mungkin saja suatu saat nanti kalian akan dapat gantinya yang lebih baik. Sedangkan orang yang udah menyakiti kalian, bisa aja malah belum nemu-nemu jodohnya. Be positive then. Saya tau, kamu bisa.
Jangan tinggalkan orang-orang yang kamu sayangi. Banyak banget itu kan. Ada keluarga, sahabat, kerabat, dan laen-laen. Mereka selalu ada buat kita kok. Hanya saja sometimes, butuh mata lain untuk melihatnya. J
Thats why I love bestfriend so much. And its hard to find them.

Read more

Tuesday, September 7, 2010

You Are Too Closest to Heaven, that I'll ever be....
5:46 AM 2 Comments
Lagi. Berita duka masuk ke inbox saya. Ayah teman baik lama saya, Sanaiskara Wening Pramuditya, yang biasa saya panggil Chika, dipanggil Yang Maha Kuasa. Innalillahi Wainnalillahi Rojiun. Yang tabah ya, Chik. Kita semua, mau nggak mau akan mengalami hal kayak gini. Inilah yang saya bilang bagian dari The Cosmological Coincidence (lagi).

Dan mendadak saya, jadi ingat banyak orang di sekitar saya yang sudah datang dan pergi.
*sighs.

Kadang manusia itu aneh. Mereka seakan terpuruk banget waktu putus cinta, ditinggal selingkuh, ditinggal merantau, pokoknya ditinggal pergi orang ke belahan dunia lain. You know, seakan-akan, langit runtuh di kepala mereka.

Di antara semua itu, rasa sedih kalian masih lebih ringan tau, dibanding ditinggal pergi orang yang kita sayangi selama-lamanya.

Bukannya sok tau, atau sok pengen dikasihani. Tapi saya udah mengalaminya berkali-kali. Saya sampai takut kalo hati saya lama-lama mati, ngga bisa ngerasain apa-apa lagi.

Makanya, saya ngga pernah sedih-sedih banget waktu putus cinta atau gagal. Orang bisa lihat saya kejam. Hey, saya juga menangis kali. Tapi ngga di depan kalian. Saya ngga mau keliatan terpuruk. Karena saya, udah pernah mengalami yang lebih parah. Dan itu, seperti sebuah kekuatan entah dari mana, yang selalu bikin saya kuat dari hari ke hari.
kata Dewa di lagunya sih, menangislah bila harus menangis, karena kita semua manusia....
Seperti Chika, saya kehilangan Ibu saya waktu umur 3 tahun. Kalo Chika, dia masih bisa merasakan kehangatan Ayahnya sampai umur 22 tahun, saya bahkan seperti nggak kenal dengan Ibu saya. Saya pernah tanya kan di posting saya sebelumnya, apa yang bisa dirasakan kalau saya hanya bisa mengenal Ibu saya selama 3 tahun? Saya masih kecil banget. Memori saya masih terbatas. Saya bahkan belum bisa ngomong lancar.

Saya menyayanginya cuma lewat foto, cerita masa lalu dari orang-orang, jejak langkah, melihat kemiripan di sosok kakak saya, sampai hanya dari melihat kesendirian ayah saya selama bertahun-tahun. Dan perasaan kehilangan saya, selalu muncul, waktu ngeliat sepupu saya bertengkar dengan saya, dan dia dibela mati-matian oleh Ibunya. Saya selalu berpikir, siapa yang membela saya? Tidak ada.

Ketika saya jatuh cinta pertama kali, kalian bisa sharing dengan Ibu kalian ketika di dapur menyiapkan makan malam atau saat mau tidur untuk minta pendapat, saya cuma bisa diam dan menulis, sampai kadang seperti orang gila, menganggap jurnal saya seolah-olah Ibu saya. Ketika kalian hendak memilih kebaya untuk acara khusus, seperti pernikahan atau wisuda, saya hanya bisa mantap dengan pilihan saya sendiri, kadang cuma bisa dibantu sahabat-sahabat saya (Thanks, God! I always have them.)

Itu adalah salah satu perasaan-perasaan yang bakalan kalian rasakan ketika kalian kehilangan. Perasaan merindukan kehadiran mereka. Perasaan seperti: “Hey, elo harusnya di sini nemenin gue!”

Memori saya loncat di tahun 2001-2002, ketika Nenek (Ibu dari Ibu saya) meninggal dunia. Damn, saya sedih banget. Nenek saya wanita kedua yang baik sama saya setelah Ibu saya, tentunya. Selama hampir belasan tahun, saya selalu menghabiskan liburan panjang saya di rumahnya. Dia selalu bertanya: “Kamu mau titip apa, nduk?” kalo dia mau ke pasar. Saya selalu aja titip banyak banget makanan. Atau waktu malam-malam, saya intip ke kamarnya, dia memanggil saya untuk mendekat. “Ayo dengar radio,” ujarnya sambil mengambil radio tua kesayangannya. Dan ketika bangun di pagi harinya, makanan sudah ada di meja, saya tinggal makan dan menonton kartun favorit saya.

Itu masih belum cukup. Om saya, tempat Ayah saya menitipkan saya dan kakak saya kepadanya, bersama istrinya, wanita ketiga yang baik dalam hidup saya, Sakit parah dan juga meninggal dunia. Saya melihat sepupu saya seperti kehilangan pegangan hidup. Karena kami sebaya, saya bisa merasakan apa yang dia rasakan. Saya merasakan sama kehilangannya dengan dia. Meskipun saya sama sekali ngga menangis, saya sedih melihat sepupu saya. Nggak akan ada lagi jajanan diam-diam untuk kami, ngga ada piknik di akhir pekan walaupun cuma ke alun-alun kota, ngga ada lagi keliling-keliling dengan mobil tua kesayangannya yang selalu berdecit kalau dia menginjak rem, ngga ada lagi Om saya yang itu.

Bahkan saya sempat bertanya pada Tuhan saya, mau siapa lagi yang diambilnya dari saya. Apakah itu normal bagi anak-anak seperti kami, kehilangan pegangan hidup di usia semuda itu. Tapi, waktu saya lihat anak-anak di jalanan, yang mengemis, kumal, ngga tau di mana orangtuanya, makan sehari sekali aja harus berjuang dulu. Saya tau, saya masih lebih beruntung daripada mereka.

That’s life, man. Saya, kamu, dia dan orang-orang itu akan datang dan pergi sesuai jadwal yang ditentukan oleh Tuhan. Di sebuah film Korea yang saya tonton, Brilliant Legacy, salah satu tokohnya mengatakan seperti ini:

“Manusia itu seperti punya jadwal sendiri-sendiri. Kalau dia harus datang di kehidupan kita, dia pasti akan datang. Kalau dia harus pergi, dia akan pergi, sekuat apapun kita mengikatnya.”

Jadi, saya pikir, ngga usah terpuruk berlebihan karena cuma patah hati, ditinggal selingkuh, atau ditinggal merantau nggak pulang-pulang. Hey, setidaknya mereka masih ada di dunia ini. Kamu masih bisa mengejar mereka, masih bisa memaki-maki mereka, masih bisa mencari keberadaan mereka.

Kalau kamu ditinggal selama-lamanya, bagaimana kamu mau mengejar, memaki-maki, mencari-cari, kalau kalian sudah hidup di dunia yang berbeda. Yang bisa kamu lakukan cuma menunggu saat kamu dipanggil Yang Maha Kuasa. Jadi bersiaplah, kita ngga tau kapan dipanggil untuk selama-lamanya. Selama menunggu panggilan itu, nikmatilah hidup ini, seakan-akan kamu mau mati besok.

Read more

Sunday, August 29, 2010

Movie Review Today: The Last Song. *prepared your tissue and ear for the good sounds of piano.
7:45 AM0 Comments
Saturday night. My bad bad day of saturday night. Dan itu berlangsung dari pagi. Jadi saya lebih suka menyebutnya, What Saturday! Hmmm, becaused I’m stuck, saya akhirnya memutuskan untuk mentransfer rasa jengkel dan amarah saya pada sebuah film rekomendasi Nova, The Last Song. Genre film ini, campuran antara Drama dan Komedi. It’s totally turn your emotion from Red into the Blue then into the Red again, hahaha.

Actually, The Last Song sudah ada di tas saya sejak dua hari yang lalu. Tapi saya belum sempat menontonnya. Dan saya ngga pernah menyangka akan menonton hari ini, soalnya tadinya saya ada janji nonton August Rush sama cowok saya. But, he forgot it and fall asleep. Padahal dia udah janji sama saya sejak beberapa hari yang lalu. Coba kalo game online, dia ngga akan ngelupain janjinya sama temen-temennya. Finally, daripada saya jengkel dan ngga tau mau marah-marah sama siapa, saya putuskan untuk tetap menonton saja. With or without you, dear.

Saya emang bukan kritikus film, so this is poin of view, menurut saya, heheheh…. Enjoyed then!

Film dibuka dengan adegan kedatangan Ronnie (Miley Cyrus) dan adik cowoknya, Jonah (Bobby Coleman) ke rumah Ayahnya, Steve (Greg Kinnear) yang menyepi di sebuah rumah tepi pantai di daerah Georgia untuk Summer Holiday. Hubungan Ronnie sama Ayahnya ngga begitu baik, karena, well, gimana sih hubungan antara anak dan Ayah, kalo orangtuanya cerai? Apalagi kalo Ayahnya yang memutuskan pergi dan finally Ibu kita yang selama ini membesarkan kita sendirian.

Karena itulah, Ronnie pun ngga bersikap manis terhadap Ayahnya. Dan itu bertolak belakang banget dengan Jonah, yang justru seneng banget bisa ketemu dan menghabiskan waktu di situ bersama Ayahnya. Di kota kecil itu, reputasi Ayah Ronnie ngga begitu bagus. Dia dituduh membakar sebuah gereja tua satu-satunya milik penduduk setempat. Dan itu membuat Ronnie makin marah pada Ayahnya.

Di tengah gejolak kemarahan dalam hatinya, Ronnie bertemu Will (Liam Hemsworth), cowok ganteng yang merupakan atlet voli lokal daerah situ. Dan setelah banyak drama di sana-sini, mereka pun jadian. Di sini yang keren banget, sempat menyinggung soal telur penyu di daerah itu dan bagaimana mereka mencontohkan untuk merawat telur-telur itu hingga menetas. Thats awesome!
Waktu njagain telur penyu di pinggir pantai supaya ngga disuri Racoon. And then, the are falling love each other

Seiring berjalannya waktu, hubungan Ronnie membaik dengan Ayahnya. Dan mereka banyak menghabiskan waktu bersama. Sayangnya, suatu hari Ronnie mendapati kenyataan bahwa Ayahnya mengidap penyakit kanker paru-paru. Dan hidupnya udah ngga lama lagi. Meskipun sempat marah tahu Ayahnya menyembunyikan penyakit itu, akhirnya Ronnie memutuskan untuk menemani Ayahnya berjuang hingga akhir hayatnya.

Kenapa The Last Song judulnya? Well, Ayah Ronnie seorang pianis dan dia sedang menulis sebuah lagu di masa-masa akhir hayatnya. Sayangnya lagu itu belum selesai, dan Ronnie, yang tadinya benci banget sama piano akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan lagu itu dan memperdengarkan lagu buatan Ayahnya di hari pemakamannya kepada seluruh penduduk kota

Kalo saya liat sih, film-film ini mirip banget sama cerita-cerita drama khas macam A Walk to Remember, The Notebook, dan yang baru, terakhir kemarin, yang jadi favorit saya juga, Dear John. Waktu saya searching, ternyata cerita ini adaptasi dari novel karya Nicholas Sparks. Pengarang yang sama untuk novel A Walk To Remember, The Notebook dan Dear John.

Yes, you are. Cerita-cerita itu punya background yang sama, kota kecil, yang ngga banyak penduduknya, ngga seputar cinta-cintaan antara cowok cewek doang, tapi sama keluarganya, tokohnya, meskipun kadang ngga tokoh utama, pasti ada yang mati. Terakhir, ceritanya berhasil membuatmu menangis dan tertawa juga. Pokoknya two thums up deh! Apalagi soundtrack-soundtracknya. Damn, they are so good!

Saya sih suka film ini. Quotes yang paling saya suka, adalah kalimat yang diucapkan oleh Kim, ibunya Ronnie, waktu pemakaman ayahnya.

"We're not perfect. Any of us. We make mistakes, we screw up but then we forgive and move forward."

Sumpah, waktu Ibunya bilang gitu. Saya kayak di sambar petir. Actually, ingat posting saya minggu lalu, hubungan saya dan Ayah saya sama-sama ngga begitu bagus. Dan ditambah, hari ini, cowok saya udah mengacaukan hari Sabtu saya. Hari di mana seharusnya saya bisa senang-senang sedikit, karena hari Senin sampai Jumat saya selalu sibuk dengan skripsi saya yang nggak selesai-selesai.

Hey, you, dear, saya memang masih marah. Tapi beri saya sedikit lagi waktu untuk meredam amarah saya. Kamu tahu, pasti saya akan merindukan masa-masa kamu selalu memberi saya cerita-cerita lucu. Dan pada saat itu, pasti saya sudah memaafkanmu.

“Love is fragile. And we're not always its best caretakers. We just muddle through and do the best we can. And hope this fragile thing survives against all odds."

*Just help me to survive, then...
Read more