Friday, November 26, 2010

Won't sing the blues with you, anymore

“What the part of friendship that feel so hurt? Yes, it was. When it ends.”

Oke, sebenernya saya nggak mau tulis ini. Saya tahu, kalo dia membacanya, ada dua pilihan. Hubungan kami membaik atau dia semakin membenci saya. Tapi, saya pikir – pikir, someday, dia harus membaca ini. Paling nggak, dia tahu, apa yang saya rasakan dalam diam saya.

Anyway, saya ngerasa beruntung, sahabat saya itu banyak banget. Dan mereka kesebar di mana – mana. di kampus, sekitaran rumah, sahabat SMA, SMP, SD, yang masih keep contact sama saya terus. Bahkan saya suka dilemma waktu ulangtahun saya tiba. Saya pengen adil untuk ntraktir mereka tanpa salah satu dari mereka ngerasa lebih mahal atau lebih murah dibanding yang lain. Kalo udah bingung, saya akhirnya ngga memilih untuk nraktir siapapun, dan akan mentraktir mereka lain hari tanpa ada embel – embel ulang tahun dalam event yang berbeda – beda.

Jadi, kalo ada yang kerasa kesindir atas apa yang saya tulis, sorry, may be its really you. And I just wanna you know, I know everything thought everything that you do, were hurting me behind.

Dear my (ex-)bestfriend…

Thanks for everything that you do to me, the crazy things that we’ve done, the laugh that we shared together, the cry that always make we give our shoulder each other, the stories that we told and we try to find the solution. Everything. Its beauty.

Tapi…

Saya cuma cewek biasa, kawan. Dan saya tahu, kamu juga bukan cowok super. Kita nggak punya kekuatan untuk membaca pikiran satu sama lain. Tapi, saya nggak kenal kamu barang sehari dua hari. Saya kenal kamu itu 3 tahun.

Saya ingat warna rambut apa saja yang pernah mewarnai rambutmu selama itu. Saya tahu, tipe – tipe cewek yang kamu sukai. Saya hapal sekali, kamu tidak pernah belajar dari pengalaman ketika kamu jatuh. Saya tertawa mengejek ketika kamu selalu jatuh cinta pada cewek – cewek yang salah dan besoknya patah hati.

Saya ingat 3 tahun itu apa yang sudah kita lakukan sama – sama. Saya masih ingat, kawan, kita rela tungguin jam 3 tepat di parkiran depan KFC sambil dipelototin tukang parkir, supaya dapat paket makan paling murah, karena kita sama – sama bokek. Saya ingat kita keliling kota sambil curhat – curhatan nggak jelas.

Kawan, saya ingat ituuuuu. Ituuu semua. Apakah kamu mengingatnya? Apakah itu tidak cukup indah untukmu dan begitu mudahnya kamu berpikiran seperti itu pada saya?

Oh, kawan…

Kamu pikir mengambil keputusan seperti itu nggak sulit buat saya?

Tapi, kalo matamu sudah tertutup semua pikiran burukmu, apakah saya juga akan mengejarmu untuk memberikan penjelasan? Nggak, kawan. Saya akan tetap diam di sini. Dan memperhatikanmu. Menunggumu mengerti. Menunggumu dewasa.

Kawan, saya tahu, saya nggak akan ada di sampingmu lagi ketika kamu berbuat bodoh. Tapi berhentilah membuat drama seakan – akan kamu adalah cowok paling sengsara di dunia karena semua hal ngga berjalan seperti maumu. Fokuslah pada apa yang kamu kerjakan. Dan berhentilah bermain – main. Waktu kita semakin sempit, dan kamu terus saja seperti itu.

Terimakasih untuk 3 tahun itu, kawan. Its hard to letting you go. But, I don’t have another choice, I just choose what you choosen. I just started what are you started. Its hard to just smile when we were met each other. Goodbye. Semoga sahabat – sahabatmu yang sekarang dapat membuatmu jadi lebih baik, sesuatu yang menurutmu saya tidak pernah bisa lakukan. :)

“Friendship is like a tree, it’s not MEASURED on how TALL it could be, but is on how DEEP the ROOTS HAVE GROWN.”

3 comments:

cipcipcuapku said...

ahh masalah sahabat yah??
hmm, sometimes kita mmng perlu mmbuat mereka sendiri, cuma untuk memberi mereka pelajaran ttng arti sepi yg sbnarnya

destianasekar said...

hahhaha iya.
males deh kalo masalah sahabat.

dobleh said...

heeemmm...
traktir saat ulang tahun bukan hal yang kontinuitas...