Sunday, August 29, 2010

Movie Review Today: The Last Song. *prepared your tissue and ear for the good sounds of piano.

Saturday night. My bad bad day of saturday night. Dan itu berlangsung dari pagi. Jadi saya lebih suka menyebutnya, What Saturday! Hmmm, becaused I’m stuck, saya akhirnya memutuskan untuk mentransfer rasa jengkel dan amarah saya pada sebuah film rekomendasi Nova, The Last Song. Genre film ini, campuran antara Drama dan Komedi. It’s totally turn your emotion from Red into the Blue then into the Red again, hahaha.

Actually, The Last Song sudah ada di tas saya sejak dua hari yang lalu. Tapi saya belum sempat menontonnya. Dan saya ngga pernah menyangka akan menonton hari ini, soalnya tadinya saya ada janji nonton August Rush sama cowok saya. But, he forgot it and fall asleep. Padahal dia udah janji sama saya sejak beberapa hari yang lalu. Coba kalo game online, dia ngga akan ngelupain janjinya sama temen-temennya. Finally, daripada saya jengkel dan ngga tau mau marah-marah sama siapa, saya putuskan untuk tetap menonton saja. With or without you, dear.

Saya emang bukan kritikus film, so this is poin of view, menurut saya, heheheh…. Enjoyed then!

Film dibuka dengan adegan kedatangan Ronnie (Miley Cyrus) dan adik cowoknya, Jonah (Bobby Coleman) ke rumah Ayahnya, Steve (Greg Kinnear) yang menyepi di sebuah rumah tepi pantai di daerah Georgia untuk Summer Holiday. Hubungan Ronnie sama Ayahnya ngga begitu baik, karena, well, gimana sih hubungan antara anak dan Ayah, kalo orangtuanya cerai? Apalagi kalo Ayahnya yang memutuskan pergi dan finally Ibu kita yang selama ini membesarkan kita sendirian.

Karena itulah, Ronnie pun ngga bersikap manis terhadap Ayahnya. Dan itu bertolak belakang banget dengan Jonah, yang justru seneng banget bisa ketemu dan menghabiskan waktu di situ bersama Ayahnya. Di kota kecil itu, reputasi Ayah Ronnie ngga begitu bagus. Dia dituduh membakar sebuah gereja tua satu-satunya milik penduduk setempat. Dan itu membuat Ronnie makin marah pada Ayahnya.

Di tengah gejolak kemarahan dalam hatinya, Ronnie bertemu Will (Liam Hemsworth), cowok ganteng yang merupakan atlet voli lokal daerah situ. Dan setelah banyak drama di sana-sini, mereka pun jadian. Di sini yang keren banget, sempat menyinggung soal telur penyu di daerah itu dan bagaimana mereka mencontohkan untuk merawat telur-telur itu hingga menetas. Thats awesome!
Waktu njagain telur penyu di pinggir pantai supaya ngga disuri Racoon. And then, the are falling love each other

Seiring berjalannya waktu, hubungan Ronnie membaik dengan Ayahnya. Dan mereka banyak menghabiskan waktu bersama. Sayangnya, suatu hari Ronnie mendapati kenyataan bahwa Ayahnya mengidap penyakit kanker paru-paru. Dan hidupnya udah ngga lama lagi. Meskipun sempat marah tahu Ayahnya menyembunyikan penyakit itu, akhirnya Ronnie memutuskan untuk menemani Ayahnya berjuang hingga akhir hayatnya.

Kenapa The Last Song judulnya? Well, Ayah Ronnie seorang pianis dan dia sedang menulis sebuah lagu di masa-masa akhir hayatnya. Sayangnya lagu itu belum selesai, dan Ronnie, yang tadinya benci banget sama piano akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan lagu itu dan memperdengarkan lagu buatan Ayahnya di hari pemakamannya kepada seluruh penduduk kota

Kalo saya liat sih, film-film ini mirip banget sama cerita-cerita drama khas macam A Walk to Remember, The Notebook, dan yang baru, terakhir kemarin, yang jadi favorit saya juga, Dear John. Waktu saya searching, ternyata cerita ini adaptasi dari novel karya Nicholas Sparks. Pengarang yang sama untuk novel A Walk To Remember, The Notebook dan Dear John.

Yes, you are. Cerita-cerita itu punya background yang sama, kota kecil, yang ngga banyak penduduknya, ngga seputar cinta-cintaan antara cowok cewek doang, tapi sama keluarganya, tokohnya, meskipun kadang ngga tokoh utama, pasti ada yang mati. Terakhir, ceritanya berhasil membuatmu menangis dan tertawa juga. Pokoknya two thums up deh! Apalagi soundtrack-soundtracknya. Damn, they are so good!

Saya sih suka film ini. Quotes yang paling saya suka, adalah kalimat yang diucapkan oleh Kim, ibunya Ronnie, waktu pemakaman ayahnya.

"We're not perfect. Any of us. We make mistakes, we screw up but then we forgive and move forward."

Sumpah, waktu Ibunya bilang gitu. Saya kayak di sambar petir. Actually, ingat posting saya minggu lalu, hubungan saya dan Ayah saya sama-sama ngga begitu bagus. Dan ditambah, hari ini, cowok saya udah mengacaukan hari Sabtu saya. Hari di mana seharusnya saya bisa senang-senang sedikit, karena hari Senin sampai Jumat saya selalu sibuk dengan skripsi saya yang nggak selesai-selesai.

Hey, you, dear, saya memang masih marah. Tapi beri saya sedikit lagi waktu untuk meredam amarah saya. Kamu tahu, pasti saya akan merindukan masa-masa kamu selalu memberi saya cerita-cerita lucu. Dan pada saat itu, pasti saya sudah memaafkanmu.

“Love is fragile. And we're not always its best caretakers. We just muddle through and do the best we can. And hope this fragile thing survives against all odds."

*Just help me to survive, then...

No comments: