Saturday, August 28, 2010

" I Closed My Eyes, so I dont See You Go Away...."

So why don't you go your way
And I'll go mine
Live your life, and I'll live mine
Baby you'll do well, and I'll be fine
Cause we're better off, separated


Girl I know we had some good times
It's sad but now we gotta say goodbye
Girl you know I love you, I can't deny
I can't say we didn't try to make it work for you and I
I know it hurts so much but it's best for us
Somewhere along this windy road we lost the trust
So I'll walk away so you don't have to see me cry
It's killing me so, why don't you go
(Separated by Usher)

Saya lagi mellow banget. Sial. Beberapa kali saya tertegun di depan lappie dan ngga ngerti mau ngapain. Dan waktu denger lagu ini di playlist saya. Mendadak saya ingat seseorang. Hahah. Kalo liat liriknya, udah pasti kalian tau, yang saya ingat adalah mantan saya 4 bulan yang lalu.

Thanks for the memories. I'm sure you'll be okay.
Di antara semua mantan-mantan saya. He was the best man I’ve ever known. Dia seorang cowok yang punya tanggung jawab, sayang banget sama keluarganya, easy going, dan multitalented. Pokoknya perfecto. Walopun he was not handsome, but he was a kind people. Dan dia sangat setia pada apa yang dia percayai. Teman, sahabat, bahkan saya saat menjadi pacarnya.

Well, sayangnya, we are growing in different family way. Meskipun dia selalu tampak sempurna di mata saya, saya tahu, justru dengan melihat kesempurnaan itu, semakin menyakitkan saya. Saya dan keluarga saya yang sangat kolot tentang agama, akan sangat menderita baginya apabila kami terus berjalan sama-sama.

Saat memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami yang sudah selama itu, kami berdua sama-sama harus menelan kenyataan pahit bahwa kami nggak bisa sama-sama because of different religion that we have. Hiks. Itu bener-bener susah banget, kawan, kalo mau dilanjutin ke jenjang yang lebih serius. Saya tahu, ada orang yang berhasil. Tapi ada juga yang gagal kan. Dan saya melihat bahwa kegagalanlah yang ada di hadapan saya. Saya bukan takut untuk gagal. Saya hanya ngga bisa melihat orang yang saya sayangi terluka becaused of me.

Untukmu, dude (*panggilan untuk sahabat, dan sekarang kamu adalah sahabat saya), saya masih ada di sini menunggu cerita-cerita kehidupanmu, as a bestfriend, off course. Kamu masih bisa membaginya dengan saya, you know, dude, kita pernah sedekat itu. Bahkan kita pernah membayangkan rumah kita akan dipenuhi kendaraan favoritmu, Vespa. Saya cuma mau bilang, saya ngga pernah menyesal pernah ada di sana, di sisimu. 

Saya ngga pernah menyesal kamu buat jatuh cinta kemudian kita berakhir seperti ini. Kita berdua sama-sama manusia, dude, dan inilah salah satu pengalaman yang indah saya sebagai manusia. Saya sangat berterimakasih, kamu memberikan 3 tahun yang sempurna untuk saya. Saya tidak akan pernah mengingat saat-saat kita bertengkar dan berselisih. Bagi saya 3 tahun itu adalah waktu yang sempurna untuk kita menghabiskannya bersama-sama dengan penuh hal-hal seru setiap hari.

Terimakasih, dude, kamu mengajarkan saya arti kesetiaan, tanggung jawab, kemandirian, dan satu hal yang saya ingat darimu, kamu ngga pernah mau berjanji. Bukan karena kamu pasti akan mengingkarinya, tapi kamu takut jika kamu melukai orang lain ketika kamu ngga bisa memenuhi janji itu. Dan kau tahu, dude, karenamu, sekarang saya juga sedang belajar untuk tidak menjanjikan sesuatu. Dan maaf, dude, saya masih ceroboh dan selebor. Dua hal yang selalu membuat kamu geleng-geleng kepala.

Saya selalu berdoa untukmu, dude, kamu akan menemukan seseorang yang bisa mengerti kamu jauh lebih dari saya. Dan di mana pun kamu berada, dude, kamu selalu baik-baik saja. 

No comments: