Friday, November 11, 2011

Steps

Yeah, its small world dude. Ketika kamu berjalan dari ujung satu pastinya akan bertemu dengan ujung lainnya di belahan dunia yang lain. Dan meskipun saya itu duluuuu banget menggangap Jakarta itu kota yang besar, saya tahu, Jakarta masih terlampau kecil.

Bahkan untuk saya.

Ketika saya sadari saya saat ini sedang berada di ambang tidak jelas. Perusahaan saya makin ditinggal orang - orang kompeten dan semakin merekruit orang - orang baru yang at least justru membuat produk perusahan semakin berkurang kualitasnya.

Dan saya juga finally akhirnya ikut - ikutan buat apply - apply juga di perusahaan lain. Insya Allah kalo Tuhan menghendaki Dia akan mendukung langkah - langkah saya yang kecil - kecil.

Waktu saya ikutan panggilan interview, Jakarta membuktikan betapa kecil kotanya dengan mempertemukan saya dengan entah-siapa-pernah-berhubungan spesial dengan adik si pacar.

Hey, dari ribuan orang yang apply perusahaan itu, kenapa mempertemukan kami berdua. Dan entah kenapa dia mendekati meja tempat saya makan dengan teman perempuan saya yang baru kenal pas jam istirahat hanya untuk berkata kepada saya, " Hey, boleh kenalan ngga?"

Kami ngobrol, basa basi, nanya sekolah, asal dan lain - lain. Dia anak universitas swasta di Jakarta Barat yang sama dengan si adik dari pacar saya yang sedang bersekolah. Dan dia kenal. Dan mereka pernah dekat. Dan saya bisa melihat semburat entah apa itu di matanya. Something special.

Dan, dia berhasil mengubah cerita dan membuat cerita seolah - olah saya yang tertarik dengan dia. WTF! Anyway, jaga gengsi dong. Saya aja belum pernah ketemu adik si pacar yang ketika saya ke rumahnya dia nggak pernah ada di rumah. Entah di mana. Dan cerita yang dibuat buat itu malah sampai ke telinga si adik pacar duluan bahkan sbeelum dia ketemu saya.

Susah emang punya pacar kaya pacar saya yang pacaran baru sekali. Dengan usianya yang sekarang, harusnya dia ngga boleh main - main. Emang dia nggak main - main. Dia serius. Tapi dia sama sekali nggak tau gimana cara memperlakukan cewek itu di depan keluarganya. Jadi kami pacaran 1.5 tahun dan yes saya baru ketemu keluarganya sekali dan sisanya saya cuma dengar cerita doang. Dia ngga berusaha untuk memperkenalkan saya kalo saya enggak minta. Aneh banget emang. Tapi itulah pacar saya.

Sampai akhirnya Tuhan yang bergerak sendiri dan mempertemukan saya dengan teman si adik. Masa temennya duluan coba? #geleng - geleng kepala

Wednesday, November 2, 2011

I Learn to Life, Half Alive

Hari ini mantan saya ulang tahun. Dan sahabat saya mengingatkan, karena kita pernah sedekat itu. Kita pernah membangun sebuah hubungan selama itu. Pernah berangan - angan seakan - akan kita itu tahu masa depan seperti apa. Padahal akhirnya saya putus dengan dia. Dan sekarang juga sudah membangun hubungan dengan orang lain lagi. Dengan masalah yang lain lagi. Jadi apa salahnya sekedar memberi ucapan.

Saya ingat sekitar 5 tahun yang lalu. Ketika dua hari kemudian dia menemani saya pulang ke rumah dan mengungkapkan perasaannya pada saya. Ketika kemudian kami belajar mengenal satu sama lain begitu lama sampai akhirnya perbedaan yang memisahkan kami berdua.

Itulah kenyataannya. Berbeda. Kenapa semua orang sangat melihat orang dari perbedaannya. Kenapa bukan persamaannya? Saya melengos. Inilah Dunia tempat saya bernafas sekarang. Perbedaan ras juga yang membuat adanya perbudakan. Perbedaan Agama membuat orang saling berperang. Perbedaan pendapat di jalan membuat orang saling memukul.

Saya belajar hidup itu menyakitkan. Belajar bagaimana berharap itu sama menyakitkannya. Belajar bagaimana orang - orang yang bersikap baik itu belum tentu benar - benar baik. Padahal dulu saya mati - matian bersikeras, cuma ada dua jenis orang di dunia ini, orang baik dan orang jahat. Jadi, orang seperti itu  masuk kategori yang mana?

You're gonna catch a cold
From the ice inside your soul
" Christina Peri - Jar of Hearts"

Pacar saya sekarang, kebetulan kami berbeda juga. Tapi bukan agama. Saya bersyukur akhirnya saya bisa menemukan orang yang seiman dengan saya. Bukan karena saya menyulut perang pada orang - orang yang tidak seiman. Tapi betapa menyakitkan lingkungan kita saat ini. Berpendidikan atau tidak ngga jaminan. Nyatanya mereka masih saja menilai orang berdasarkan perbedaan yang mencolok dalam pola pikir mereka.

Kenapa ngga berpikir, apa yang membuat kami berdua saling mencintai? Oke, mungkin bakalan kedengarannya atas nama cinta. Tapi kenapa selalu fisik?

Sahabat saya, si Mona dan Nova, yang kebetulan dua - duanya cewek, menghibur saya. Mereka terus menguatkan saya. Kata mereka, itu adalah salah satu ujian dalam sebuah hubungan.Saya tau keduanya telah mengalami hal yang kurang lebih sama. At least, ketika kamu tingal di negara ini, fisik selalu jadi modal utama. Dan otak selalu nomor sekian. 

Kata mereka, setiap orang punya kriteria sendiri - sendiri. Kalau kamu cantik menurut A belum tentu cantik juga menurut B. Begitu juga sebaliknya. 

Padahal di Korea, fisik nomer sekian, karena kecantikan fisik bisa dibuat, skill nomor satu. Di Indonesia tidak. Contohlah artis, udah bodoh, cakep, pasti booming jadi model iklan dan main sinetron.

Buat saya, saya merasa cakep. At least, bukannya saya sombong. Tapi record saya dibilang cakep bukan satu dua orang. Bener kata dua sahabat saya itu, tipe orang dalam mengklarifikasi cantik itu berbeda - beda. Ada yang sangat berpatokan pada cewek - cewek di Fashion TV. Ada yang berpatokan dengan artis luar negeri. Ada juga yang cukup puas dengan citarasa artis lokal.

Dan tapi harusnya orang menilai seseorang berdasarkan apa yang telah diperbuatnya bukan fisiknya. Contohnya kalau saya dan si pacar, kenapa orang harus bilang: "Wah, ternyata orang Jawa," atau "Wah ternyata nggak secakep artis televisi," atau " Wah kok ga kurus yah?"

Dan semua pertanyaan yang menohok hati. Oke pada akhirnya saya bisa menerima itu semua sebagai kritik yang membangun. Tapi bagaimana dengan si pacar?