Wednesday, August 31, 2016

Ketika Lo Mengeluh Gaji Lo Kecil

Sebelum gue berumah tangga, gaji gue lumayan banget. Gue banyak ambil cicilan, bahkan tiket pesawat ke luar negeri pun gue cicil.

Lucunya pas nyicil ya nyicil aja gitu, walopun akhirnya gue harus menghadapi fakta bahwa sisa duit yang gue harus tabung itu kecil juga. Tapi waktu itu ngga ada beban. Santai aja cicilan di sana-sini.

Makin lama, gue ngerasa beban kerjaan gue makin banyak. Banget. Segala macam project dipercayakan si bos ke gue. Membuat gue berpikir, "Emang ngga ada orang lain ya?" Mungkin buat beberapa dari lo, seneng ketika dipercaya ini itu sama atasan. Tapi gue enggak. Gue lebih suka fairly, adil. Di mana semua anggota divisi gue merasakan hal yang sama, belajar yang sama, maju bersama-sama.

Yang gue inget adalah, kelar gue merit, banyak orang kantor ngasih gift ke gue sampai H PLUS 2 BULAN MERIT. Mengalahkan rekor salah satu anggota divisi gue yang merit sebelum gue padahal doi udah join di perusahaan gue lebih lama. Hampir tiap hari gue pulang bawa kado, angpau bahkan ucapan selamat.

See? Makin banyak gue pegang project, kenalan gue di perusahaan berkapasitas 5000 karyawan ini makin banyak. Bukannya somse sih. Tapi begitulah keadaan gue di sini akibat project-project yang dilimpahkan bos ke gue.

Makanya, ketika gue mau resign, gue yang meninggalkan tim gue dengan sisa 1 orang saja tanpa atasan tanpa temen satu team, kadang merasa bersalah. Tapi gue lakuin ini karena jujur gue ngerasa gue udah nggak kuat lagi menanggung beban ini.

Kalo ada pepatah yang mengatakan: "Yang kuatlah yang bertahan dan siap menghadapi perubahan," gue sih ngga setuju itu. Buat gue, Yang bertahan adalah orang-orang yang mempertahankan satu-satunya apa yang dimilikinya. Dan gue rasa, gue cukup REALISTIS aja untuk memilih pergi.

Suatu ketika, gue curhat dengan sahabat gue, si Monna, tokoh yang sering banget muncul di blog gue. Bahwasanya gue ngerasa gaji gue dan tanggung jawab gue ngga sepadan. Simple, jawaban Mona cuma gini:

"Mungkin gaji lo kecil, tapi di luar itu ada banyak hal yang priceless alias ngga bisa dihitung dengan uang yang lo dapetin."

Gue pikir, betul juga ya. Gue punya suami yang baik, tinggal di dalem rumah yang punya security 24 jam dan air panas yang bisa lo nikmati tanpa harus ngerebus air dulu, kolam renang (meskipun kolam renang bersama warga kompleks), bisa makan enak kapanpun gue mau, sahabat-sahabat yang masih ada di sekitaran gue yang kadang suka nge-WA ngga jelas, gue masih menikmati masa-masa belum punya anak, gue bisa jalan-jalan ke mana gue mau, gue pergi ke tempat-tempat seru, gue ngga stres mikir bayar pajak, karena udah ada yang ngurusin, bahkan gue bisa ngabisin gaji gue kalo gue mau.

"Kalo lo diem, gue rasa lo punya banyak banget hal yang priceless selain gaji lo yang kecil itu, Sissss...." Mona ngomong lagi "Money can buy happiness and happiness could be get without money dan gue rasa lo udah dapet, kan lo udah merit...."

Bener juga kata dia. Secara even Monna udah jadi division head di somewhere company, dia masih lajang padahal dia cakep, pinter, lulusan S 2, anaknya tajir and plus-plus lainnya. Yeah, at least our chit chat always ended with about relationship matter.

Friday, February 12, 2016

Mengurus Sendiri Visa Australia part 2 (End)

Kali ini gue akan bahas syarat-syarat resmi dari kedubes yang mesti elo bawa dan syarat enggak resmi untuk dokumen pendukung selama elo mengajukan visa Australia. Even untuk syarat enggak resmi ada beberapa traveller yang nggak melampirkan dan lolos. Itu gue nggak bisa menentukan. Tapi karena Australia adalah negara yang enggak ketat banget tapi nggak gampang juga, gue sih menganjurkan elo bawa. Just in case, daripada elo harus balik lagi untuk nyusulin dokumen yang konon kata mas CS gue kena charge 130rbuan untuk sekali proses. Gila!

Berikut syarat resmi yang harus dilampirkan untuk traveller kelas biasa kaya gue, yang tujuannya cuma wisata, enggak kerja di sana dan enggak study. Jadi untuk kelas lainnya gue enggak tau yah. Lo bisa nanya ke pihak VFS langsung atau bahkan travel agent. Gue udah posting infonya di posting gue yang pertama.
Ini Linknya: Mengurus Sendiri Visa Australia part 1

Syarat resmi pengajuan visa Australia:
1.Passport Baru yang masih berlaku minimal 7 bulan terhitung sejak tanggal keberangkatan + Paspor Lama (Jika ada). Bawa aslinya untuk pengajuan dan copyannya. Copy akan dibawa pihak VFS dan inget yang dicopy semua isi pasport termasuk lembaran yang isinya kita pernah di cap di bandara luar negeri mana aja (kalau ada ya).

2.Pas Photo berwarna ukuran 4 x 6 cm sebanyak 2 lembar terbaru.Aslinya dibutuhkan cuma 1 lembar doang. Gue bawa lebih (sekitar 4), mas CS VFS malah ketawain gue sambil bilang: "Mau buat apa Mbak banyak-banyak?" Tapi enggak apa-apa sih, bawa cadangan buat jaga-jaga aja. Ada yang nanyain gue bekground foto warna apa. Harus putih ya? Gue nggak tahu. Gue sih iya putih. Tapi pas di sana, loket sebelah gue pake foto bekgron warna biru dan CS nya oke aja.

3.Surat Sponsor dari perusahaan / tempat usaha lengkap dengan Kop Surat perusahaan dengan tanda tangan penjamin dan cap perusahaan. Gue sih pake Invitation Letter yang dibikin sama Om gue yang berstatus mahasiswa. Dan itu bisa. Lolos. Kalau pengen tahu kaya gimana bentuknya Invitation letter gue dari si Om, email gue langsung ya. Sponsor di sini nggak harus perusahaan kok, saudara atau teman yang ada di sana bisa membuat invitation letter. Tujuannya simpel, kalau lo ada apa-apa di sana, ada tempat yang bisa dihubungi. Gak harus Permanent residence, mahasiswa Indonesia aja bisa loh jadi sponsor.

4.Jika Perusahaan / tempat usaha milik sendiri harus melampirkan copy SIUP / Surat ijin yang lain. Gue nggak punya perusahaan sendiri, gue cuma berstatus karyawan biasa di perusahaan biasa. Akhirnya yang gue lampirkan adalah Surat Keterangan Bekerja yang gue dapet dari HRD dan di situ mencantumkan keperluan gue untuk mengajukan visa, dan gue akan kembali dari Australia tetap menjadi karyawan perusahaan tsb. In case birokrasi kantor lo ribet, mendingan elo minta kurang lebih satu bulan sebelum tanggal pengajuan visa.

5.Untuk istri yang pergi tanpa suami harus ada surat ijin dari suaminya diatas materai 6000 + Copy ktp Suami. Ini karena gue belum married, jadi gue enggak menyertakan apa-apa. Adek gue sih iya kayanya, karena doi uda married, kalo misalkan elo pengen tahu kaya gimana contohnya nanti gue tanya sama adek gue.

6.Copy Bukti Keuangan 3 bulan terakhir. Ini lo bisa minta dari bank pemilik rekening bank pribadi lo. Boleh punya orangtua, kalau misalkan elo masih ditanggung sama mereka. Gue pake CIMB NIAGA, dan untuk minta rekening korannya, kita kena charge Rp 3,500 per lembarnya. Kemarin gue ga sampe sepuluh lembar sih. Soalnya transaksi gue kan ga rame banget kaya rekening onlen shop gue dan juga payroll. Rek cimb niaga gue khusus banget buat tabungan travelling. Temen gue ada yang sampe berlembar-lembar, soalnya doi emg cuma punya satu rek pribadi buat transaksi.

Sempet ada yang nanya sama gue, berapa sih jumlah nominal rekening yang harus kita punya untuk ke Australia? Gue ngalamin sendiri yah, GA ADA KETENTUAN BERAPA JUMLAH REKENING. Gue sempet denger temen gue yang tajir, doi bawa 100 juta, dan temen gue yang biasa aja dananya di tabungan 50 juta. Mereka lolos. Yaiyalah duit segitu.Jujur gue cuma 20an sekian juta di tabungan gue. Sepupuku gue malah cuma belasan juta, dan alhamdulillahnya kami lolos. Jadi jumlah nominal rekening tabungan itu gak menentukan approval kok. Yang pasti elo ada dana untuk membiayai diri lo di sana dan tiket pulang ke Indonesia jika terjadi apa-apa. Rata-rata per hari kurang lebih biaya hidup di aussie adalah 2 juta untuk turis asing. Jadi bisa dikalikan kira-kira bawa berapa juta selama di sana.


7.Copy Kartu Keluarga , Akte nikah, Akte lahir + Ganti nama ( Jika ada ).

8.Untuk usia 75 tahun keatas, harus medical check up yang ditunjuk oleh pihak kedutaan
Australia serta Asuransi Perjalanan,dan akan dikirim HAP LETTER setelah proses kurang lebih 7-10 hari kerja. Dan penyelesaian tergantung kedutaan/hasil medical.

9.Untuk baby sitter atau pembantu wajib mengisi form declaration dan ditandatangani oleh majikan.

10. copy Kartu pelajar jika ada yang masih sekolah

11. Jika anak dibawah umur 18 tahun yang berpergian dengan salah satu orang tua ata tanpa kedua orang tua harus melampirkan formulir 1229 ( formulir dapat diambil di wholesale atau bagian document )

12.Mohon Passport yang dilampirkan untuk proses visa yang ada isinya di dalam passport harus difoto copy semuanya

13.Isi dan tanda tangan formulir 1419 ( TOURIST ) (WAJIB TANDA TANGAN DI KOLOM 51&52) + 956 A. Formulir 956 ini kata mas CS di loket VFS adalah formulir untuk orang-orang yang elo tunjuk untuk menguasakan kepengurusan visa lo.Jadi kalo elo urus sendiri ga usah pake form 956 segala.

Syarat nggak resmi yang bisa dilampirkan:

1. Data diri sponsor lo disana. KTP, Kartu mahasiswa, Kartu apa aja lah yang menandakan kerabat lo beneran di sana. Gue sih simpel. Lampirin KTP si Om, KK, Surat penugasan doi di sana, dsb.

2. Copy Tiket PP yang sudah elo beli. Berhubung gue sudah beli tiket PP duluan, jadi aman, gue lampirin buat tambahan. Supaya mereka ngerti kalo gue cuma turis biasa dan pasti akan balik ke Indo.

3. Slip Gaji. Ini bagi yang sudah bekerja ya. Paling enggak 3 bulan sebelumnya.

4. Gambar silsilah keluarga. Berhubung Om gue nggak tinggal serumah dan se KK sama gue, makanya gue nggak bisa membuktikan, siapakah status Om gue. Om beneran kah atau Om-oman ga jelas gue. Gue bikin silsilah keluarganya di sana, di depan mas CS loket VFS. Untung Om gue ini adalah adik kandung Bokap langsung, jadi silsilah nya juga enggak panjang-panjang amat.

5. Surat rekomendasi Bank. Jujur, gue enggak. Karena CIMB Niaga kebetulan enggak bisa melayani surat tsb. Tapi setahu gue, BCA bisa menerbitkan dengan harga 50rb dan prosesnya selama kurang lebih 2 hari. Dan waktu gengs gue nanya sama si mas CS perlu beneran nggak surat itu (salah satu dari kita nggak ada satupun yang bawa), kata mas CS nya bijak banget. Nanti kalau memang diperlukan akan diberitahu kok, Mbak. At least, sampai gue approved, ga ada permintaan surat tsb dari pihak VFS ke gue. Jadi aman lah ya.

Seinget gue itu dulu sih yang akhirnya bisa membuat pengajuan visa gue approved. Kalo ada tambahan bakalan gue infoin.



Setelah 5 hari kerja, gue dapat email bahwa Visa gue approved, kaya gini emailnya:


Kabar Gembira di email pagi-pagi



Untuk Visanya sendiri, ternyata di attached kan bersama dengan email dari Mba Nunuk itu. Dan pas gue buka ternyata bentuk Visa Aussie cuma selembar dalam bentuk pdf yang harus kita print dan tunjukkan nanti di Imigrasi.

Seingat gue Visa Indonesia dan Korea Selatan dalam bentuk Stiker yang bisa ditempel di Paspor kita. CMIIW. Ada juga yang berbentuk cap di paspor kita.

Btw, gue seneng banget loh kalo akhirnya visa gue bisa diapproved, which mean, dengan dana gue yang terbatas, gue bisa berhasil, dengan usaha sendiri pula. Buat elo yang mau ke Aussie, enggak usah takut, coba aja dulu, kita enggak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Malah ada wacana, visa Aussie mau digratiskan kaya Asia Tenggara. Yay or Nay?




Wednesday, February 10, 2016

Mengurus Sendiri Visa Australia part 1

Setiap kali gue jalan ke luar negeri, gue sebisa mungkin ngurus sendiri semuanya. Semacam gue pengen tahu banget sebenernya kaya gimana sih ngurus semua perjalanan kita sendiri tanpa dibantu travel agent sedikitpun. Mulai dari tiket pesawat, hostel, sampe itinerary. Berbekal gue browsing di internet plus browsing ke official websitenya, gue pun sukses travel ke luar negeri tanpa dibantu travel agent. Setidaknya untuk sekarang gue nggak butuh bantuan mereka.

Kali ini gue dan gengs berniat ke Aussie. Cita-cita sederhana gue adalah simple. One year with one country. Gue udah pernah ke Singapore dan Malaysia. Karena Om gue adalah pelajar S3 di Aussie dan tahun 2016 ini beliau lulus, doi lagi getol-getolnya ngiklanin ke sodara-sodaranya buat visit Aussie selama dia di sana. Dan salah satu yang kemakan iklan itu adalah gue dan gengs. Haha. Lumayan, Om gue bisa ngusahain invitation letter (one of part yang penting banget kalo elo travel ke luar negeri), yang menandakan bahwa elo punya kenalan di sana, dan dia bakalan jadi sponsor elo dan tidak akan membiarkan elo jadi imigran gelap.

Jadilah gue putuskan untuk urus sendiri aja. Kedubes Aussie di Indonesia punya perwakilan untuk mengurus itu, namanya VFS, sebenernya nggak Aussie aja. Pas gue sampe sana, di situ ada loket buat negara lain, yaitu UK yang kebetulan berseberangan loketnya. Alamat lengkapnya:

Australia Visa Application Centre di Jakarta
Kuningan City Lantai 2 No. L2-19
Jl. Prof. Dr. Satrio Kav. 18, Setiabudi, Kuningan,
Jakarta 12940 Indonesia








Penampakan dari depan Kantor VFS, yang gue ambil dari google karena enggak sempet moto.

Pas gue ke sana dan nanya ama satpam lokasi jelasnya, doi sempet ngomong juga, kalo buat kepengurusan visa Eropa, ada di lantai 1. Lumayanlah ya, jadi tau gue, sapa tau gue ada niat nabung berlebih untuk travel ke Europe yang mahalnya nggak ketulungan :D

Buat elo yang pengen ke aussie, saran gue sih lo paling enggak udah pernah travelling ke luar negeri sebelumnya. Yang deket-deket aja misalnya kaya Singapore yang masih terjangkau menurut kocek pas-pasan gue.Atau ke Malaysia. Soalnya di formulir permohonan visa ada sempet ditanya pernah nggak ke negara lain sebelumnya. Mungkin buat tambahan referensi, udah pernah ke mana aja lo.

Gue adalah orang yang beruntung, karena kepengurusan visa gue itu sampai di approved cuma 5 hari kerja. Pas banget 5 hari kerja. Karena gue ngurus di tanggal 3 Februari 2016 pagi dan fix di approved via email di tanggal 10 Februari 2016 pagi. Sedangkan sebelumnya gue dan geng backpacker cewe gue itu udah dilanda issue-issue macam: kepengurusan mencapai 15 hari kerja dan itu belum tentu di approved, dan jika diminta tambahan dokumen, bisa nambah 15 hari kerja lagi. Which is itu dihitung 30 hari kerja dan kalo hitung dari tanggal 3 Februari, bisa-bisa baru kelar di bulan Maret. Sedangkan gue berangkat di tanggal 14 Maret 2016. Ngebayanginnya bakal kelar mepet, gue dan gengs cuma pasrah aja.

Sebenernya di travel agent bisa kok bantu lo ngurus visanya. Gue sempet nanya ama orang Dwidaya tour, karena travel agen itu kebetulan corporate sama kantor gue. Dan mereka ngebuka harga di Rp 1,750,000 lebih mahal sedikit dibanding dengan ngurus visa sendiri yang kena di harga 1,6 juta an.

Mungkin buat elo yang nggak mau repot, bisa kok ngurus via mereka. Berhubung gue mau repot dan orangnya berjiwa adventurer, gue urus sendiri deh.


Ini call center Dwidaya Tour, kali-kali elo mau nanya-nanya sendiri nggak jelas kaya gue (soalnya ujung-ujungnya nggak jadi pake jasanya):


+6221 6220 3838

Mengurus sendiri itu ada enaknya ada enggaknya. Berikut pendapat pribadi gue.

Enaknya:


1) Dapat pengalaman lebih, suatu saat ditanya ama orang elo tahu dan bisa bantu mereka.
2) Puas, bisa pantau sendiri, karena VFS nyediain layanan sms dan email notifikasi, visa elo udah sampe mana. Layanan pemberitahuan via SMS kena charge 25rb dan di bayar di loket VFS.
3) Bisa kabur dari kantor. Itu sih perasaan gue pribadi karena buat gue nggak di kantor sehari itu rasanya menyenangkan sekali.

Nggak enaknya:
1) Ada berlembar-lembar formulir yang harus elo isi. Dan ini capek setengah mati ngisinya. Gue ngisi dari jam delapanan malem baru kelar hampir tengah malem. Gue jadi inget ngisi formulir calon karyawan kalo elo lagi interview.
2) Lampirannya banyak banget, dan itu harus elo siapin berhari-hari sebelumnya. Waktu di loket, form elo dan lampiran harus sudah siap, jadi mbak/ mas CS cuma tinggal ngecek doang apa aja yang ada, apa yang enggak ada.
3) Selama di kantor VFS, elo ngga boleh nyalain HP. Dan kalo antrian elo banyak, bisa matgay elo di dalem.
4) Karena informasi yang gue dapat minim, gue cuma bisa spekulasi, bakalan diapprove enggak. Pasrah lah gue sama yang di atas. Kekuatiran mah ada. Gue udah ngeluarin duit 1,6 jutaan dan harus iklas kalo misal visa gue ditolak sama kedubes Aussie. Beda kalo elo ngurus di travel agent. Tinggal samperin, dan mereka yang bergerak.

Sementara cerita gue itu dulu, kerjaan udah memanggil, ke depannya gue bakalan info tentang syarat-syaratnya yang banyak banget dan bagaimana gue melengkapinya.

See you when I see you!