Friday, August 27, 2010

I was a Vintage Girl, with full of passion in my head. And I started addicted to transfer it to you, dear.

Saya lagi addicted banget sama dua jenis kamera vintage. Lomo dan Polaroid. Dua duanya sekarang emang lagi in banget. Tapi kepopulerannya emang ngga sedasyat kamera SLR. Dan harganya pun masih di bawahnya. Untuk hasilnya, bener-bener menguji sense of artmu. Dan ngga perlu pake aturan apapun untuk memakainya. Its analog dear, we all always feel curious about the process and then become a picture. Oh, ngga sabar saya untuk punya!

salah satu kamera lomo. Namanya kamera holga. aduh saya nemu harganya cuma 700 ribu. hiks. lagi bokek saya padahal. :(


Ini Polaroid camera model lama. Ngga sampe sejutaan. Kalo yang model baru harganya 1 jutaan lebih. Off course, saya maunya yang ini. :)

Saya tau soal lomo sekitar dua tahun lalu. Waktu saya masih belajar kamera dijital di sebuah even kepanitiaan. Sahabat saya, yes, off course, that Nova again, membawa majalah cewek, tapi ada artikel soal lomo di dalamnya. Waktu itu saya tertarik untuk punya. Tapi cuma dalam taraf tertarik aja. Saya belom serius banget untuk mencari-cari informasi tambahan soal itu.

Seiring berjalannya waktu, saya bosan dengan SLR dan dijital. Saya punya kamera dijital dalam handphone saya, dan direktorinya penuh dengan foto-foto saya dan teman-teman. Tapi itu kurang lebih karena saya suka mengabadikan momen. Momen apa saja. Suka motret, pasti harus bisa editing photoEditing photo pun saya belajar otodidak, ngga pake aturan tertentu. Nggak pakek buku. Saya mengandalkan sense of art saya lagi, wkwkwkwk.

Well, basically, saya suka banget barang-barang vintage. Baju-baju vintage model tahun 80an, buku-buku tentang Marylin Monroe, postcard, film-film (Ah,film 5 sekawan, dulu buat saya keren banget!), musik-musiknya (Siapa ngga suka The Beatles?), dan barang-barang laen yang mungkin bekas tapi usefull.

Dan karena Lomo n Polaroid ini dua-duanya sama-sama barang vintage, saya pengen banget punya salah satunya. Soalnya harganya juga terjangkau banget. Ngga perlulah tambahan lensa macam-macam (ada sih yang model begitu, tapi untuk pemula, sediain duit 1 juta juga cukup!), skill dari tutor fotografer terkenal, atau apalah seperti ketika kalian belajar SLR.
Film 5 sekawan favorit saya, masih ada ngga ya?
oh, Marylin Monroe, cantik banget. Dia icon vintage buat saya.
THE BEATLES. Oh damn. Why they was so cool?

Dan kesukaan saya pun menjalar pada sahabat saya, Wiwit, dia sih masih pegang SLR dan keknya setia banget sama SLR nya. Dan sebenernya, kita juga ada sedikit projek kecil-kecilan dengan busana kebaya setelah lebaran nanti.J

Waktu saya bilang saya nemuin Polaroid bekas di kaskus satu bulan yang lalu dan gagal mendapatkannya, karena ada orang lain udah menawar duluan. Hiks. Eh, alhasil giliran dia menggebu-nggebu pengen punya sekarang. Saya sih ketawa-ketawa aja. Polaroid fever berhasil saya tularkan lagi, who's next then?

Well, kalian mau tau hasilnya kayak apa kan dua kamera vintage di atas, ni saya kasih beberapa gambar hasil hunting di google dan ada dari direktori saya sendiri.
hasil jepretan dua temen saya, Aries Llorin dan Gabija Vaisvilate dari Lomography Group.
Its Polaroid. ngga tau punya siapa, tapi keren banget, heheheh.
Ya ampun, saya narsis banget. hahah. Maklum kamera pinjeman.
Keren-keren kan? Yeah. Sayangnya, ngga semua orang suka kamera analog (manual). Di sinilah keribetan dan sekaligus keistimewaan kamera lomo n Polaroid. Kamu ngga tau hasil jepretan kamu nantinya kayak gimana. Dan trust me, u will feel surprised when it become a pictures.

Satu lagi, yang bikin agak ribet, ketika kamu membawanya ke proses dijital (Kaya saya mau upload di blog atau FB). U must get a scanner for it. Yeah, kita bicara soal analog di sini. Ngga ada kabel USB, memory card dan blue tooth. But, that’s the point, folks! Saya suka banget keribetan seperti itu. Saya ngga pernah melihatnya dari sisi ribetnya, saya selalu  lihat dari sisi seninya. ALWAYS ON SENSE OF ART, YEAH!!!

Darah seni dalam diri saya itu sama besarnya dengan hemoglobin yang saya punya. Dan ada beberapa orang yang menurunkan darah itu pada saya. Hmmh. Actually, my grandpa was a painter, and he was a great one. Dia buat beberapa lukisan di rumahnya dan ngga malu buat membingkai dan memasangnya. Yang kedua, my grand ma was a good singer, dan dia selalu menyanyikan lagu-lagu jepang dan belanda sambil nongkrong di teras rumahnya menyapa para tetangga atau sekedar menyiram tanaman. Ah, sayang sekarang nenek saya udah pikun. Bahkan dia ngga mengenali saya lagi. :(

Third, My Father did. My father? Yup! Seperti sodara-sodara cowoknya yang lain, dia adalah seorang penggemar the Beatles dan musik-musik jazz sejati. Saya ngga begitu tahu, dia bisa memainkan jenis alat musik apa. Tapi, waktu saya setel The Beatles dan Norah Jones di mp3 saya, dia ikut bersenandung sedikit-sedikit. Dan kadang saking enjoynya, dia ketiduran, hahaha.

Di rumah nenek saya, ada sebuah piano. Kayaknya dulu semua anggota keluarga saya diwajibkan belajar piano. Dan ketika saya lahir, kayaknya kebiasaan itu sudah hilang, bersamaan rusaknya piano tersebut. Apakah Ayah saya bisa memainkannya? Well, dont ask me! Itu sebuah misteri buat saya. Wkwkwkwk.

Lets talk about my Mom, yeah, sayangnya dia udah passed away waktu saya umur 3 tahun. Tapi, ibu saya punya sense of fashion art keren banget. Foto-foto masa lalunya yang saya temukan, selalu aja dengan baju-baju keren dan she was very beautifull wear everything. Thanks, God, she born me in this world, then.
Ini salah dua foto ibu saya, yang style nya keren banget, hehe...

 gila, nyokap saya keren banget. Oh, damn. Tasnya cute! (Hey, thats my sister not me!)

Anyways, kalo kamu kenal saya dengan baik, kamu akan tahu, saya benar-benar punya semua darah seni itu dalam diri saya. Saya seorang pelukis yang lumayan, hanya saya belum sempat melukis lagi sejak masuk kuliah. Menyanyi? Hmmm, saya bukan penyanyi dengan teknik yang baik, tapi suara saya ngga ancur untuk didengar. Dan saya, pernah jadi vokalis sebuah band waktu SMP dan SMA. :p

Seperti ayah saya, saya juga paling suka dengan musik-musik lama. Kamu bisa temukan Dream Teather, Queen, Sting, Michael Learns To Rock, John Legend, Lionel Richie, Celine Dion, dan entah apa lagi dalam koleksi mp3 saya. Tapi, saya lebih suka menyebut diri saya seorang mainstream (bisa mendengar jenis musik apapun). Saya bisa dengar John Legend menyanyikan Someday, tapi kemudian urutan berikutnya adalah Lady Gaga dengan Bad Romancenya. Hey, she was an amazing artist, you know.

Dalam fashion? Jangan tanya. Hahahha. Saya memang bukan seorang model. Dan saya lumayan benci dunia model. Tapi sense of art saya pada fashion seperti sebuah passion. Dan salah satu sahabat saya yang lain, Ferry, dia itu adalah seorang one kind of my influence. He always told me everything about something to wear and not to wear.  Selain Ferry, inspirasi saya ada di blog cewek ini: "A chick Named Hermia".
Sumpah, gaya fashionnya keren banget. Kapan-kapan saya akan bahas secara detail, okay? Be pation, dear.

Then, kalo saya bilang, I was accumulated of very kind passion of my family. And almost of them were arts. Kamu selalu bisa ajak saya untuk liat film-film lama, berburu barang di pasar loak, pergi ke kota-kota dengan bangunan-bangunan lama di dalamnya (Ayo, maenlah ke Kota Lama Semarang!), nonton konser musik-musik tua, ato apapun yang menarik dari sisi masa lalu, saya dengan senang hati menemanimu ke mana-mana.

But, at least, inside, saya itu tetep aja cewek normal. Saya suka dandan (ngga menor tentunya), ke salon, belanja, cuci mata, beli barang-barang ngga penting, bergosip, hahahha. Thats me. And I know, you love it!

Okay, the last, saya serius lagi berburu kamera vintage. Kalo ada yang punya referensi, bekas ngga masalah, just called me, okay? I’m totally concerned of it. And someday, saya punya satu keinginan yang aneh kalo saya udah punya kamera itu. Memotret anak-anak saya, dari dia berusia 1 bulan. :D (Nikah aja belom,hihi...)

No comments: