Thursday, October 28, 2010

Pray for Indonesia, So????

Kalo liat berita di tv, nggak tega saya. Jadi saya pilih buat matiin tv, terus onlen di internet. Sumpah, deh. Kayaknya saya bakalan jadi orang paling nggak up-to-date soal bencana di Indonesia. Soal Mbah Maridjan ditemuin udah nggak bernyawa aja saya tahu dari orang, bukan liat beritanya sendiri di tv.

Hey, guys, I’m not that selfish. Tapi saya lebih ke enggak tega. Soalnya saya enggak tegaan orangnya. Kalo ada anak kecil pasang muka melas dan minta duit Rp 50.000, 00 mungkin saya bakalan kasih dia cuma-cuma. Bego emang. Tapi begitulah saya. Makanya, daripada saya enggak tega dan nangis di depan tv, saya milih buat matiin tv dan menunggu orang lain menceritakan apa yang mereka liat sama saya.

Saya juga bukan tipe orang yang ikut-ikutan berpartisipasi dengan melakukan sesuatu sebagai tindak kepedulian mereka. Kayak temen saya nih, ganti PP mereka jadi kayak gini di facebook.

Trus menyuarakan how deep they concern about the disaster di status-status mereka. Ada yang mendadak bikin puisi. Ada yang mendadak sok care. Padahal kemaren status mereka cinta-cintaan nggak jelas. Oh, oke, kepedulian bencana mendadak jadi tren baru bikin status. And anyway, saya nggak bakalan ikut-ikutan.

Saya malah lebih respek sama orang yang nyumbang seribu rupiah dari dompet mereka ke kardus-kardus buat nambah-nambah beli makanan, baju, selimut, whatever it was, pokoknya buat kebutuhan mereka. Ato langsung ke TKP dan jadi sukarelawan. Dari sekedar ngurusin makanan dan obat-obatan, menghibur anak-anak biar traumatic mereka sedikit berkurang, pokoknya hal-hal semacam itu yang dibuktikan dengan tindakan langsung.

Nevermind, apapun lah yang mereka mau lakukan, paling enggak mereka masih cinta sama Negara Indonesia, nggak kayak saya. Hmmm, yeah, God, apa saya harus pindah kewarganegaraan buat ngerasa saved dan comfortable? Soalnya saya udah nggak percaya sama pemerintah. Saya ikut pemilu, tapi cuma absen doang di muka tetangga, saya enggak pilih siapapun. Hidup dan mati saya si kayaknya bakalan sama Negara ini, tapi saya walaupun nggak cinta negeri, saya setidaknya enggak merusak dan nggak buang sampah sembarangan.

Daripada kalian semua yang bilang cinta negeri, tapi masih buang sampah sembarangan, masih suka korupsi uang dan waktu, masih tebang pohon sana sini, masih merengek minta mobil dan motor (*menuh-menuhin jalanan, anyways), masih enggak bisa hemat listrik, masih nggak bisa recycle barang biar usefull lagi, bikin banyak anak (*nambah-nambahi kepadatan penduduk), hal-hal kayak gitu.

Ah, whatever, saya doakan aja, apapun yang terjadi pada saya, kamu dan negeri ini, adalah sesuatu hal yang bisa memberikan pelajaran sedikit untukmu. Percuma kamu gembar-gembor tapi kemudian besok kamu kembali ke kebiasaan lama. Kenapa enggak mulai dari hal-hal kecil dan diri sendiri? Nggak usah sibuk menghakimi Pak Presiden or the government, be grow up. Satu kepala keluarga kecil saja masih susah menjaga istri dan dua anaknya, apalagi mereka dan jumlah penduduk Negara kita yang sebanyak ini? Think smart, please. Don’t be childish.

No comments: