Wednesday, August 9, 2017

Orang-orang Yang (Masih) Hidup di Masa Lalu

Gw adalah salah satu dari sekian banyak orang dari tempat asal gw, sebuah kota di Jawa Tengah, yang memutuskan untuk merantau mencari pekerjaan di Jakarta. Meskipun sebenarnya gw back to my own family sih, karena ortu gw di Jakarta. Dan gw juga yang termasuk dari sekian berapa persennya yang enggan kembali lagi. Even itu for good or bad, setidaknya sampai sekarang.

Kenapa? Well, gw punya masa lalu nggak enak di kota tersebut. Selain itu karir di sana sangat nggak variatif. Mentok-mentok lo jadi PNS, pegawai BUMN, karyawan Bank, perusahaan swasta kecil dan atau pengusaha. Dan gw denger temen-temen gw juga akhirnya lama-lama banting setir ke pengusaha karena pendapatan yang kecil (mungkin) tapi beban pekerjaan yang cukup besar.

Ketika gw akhirnya sadar di Jakarta banyak banget kesempatan kalo lo punya skill, apalagi juga gw sekarang berkeluarga di sini, ya udah gw nggak memutuskan kembali ke sana. Kalo untuk sekedar berlibur bersama anak gw nantinya, mungkin iya, supaya dia tahu akar keluarga besarnya. Tapi kayaknya cuma itu aja alasan gw jika pun gw harus kembali.

Kalo ada yang ngira gw di bully, sayangnya nggak, man. Gw nggak pernah di bully sama sekali. Temen-temen deket gw pun banyak yang ada di sana. Tapiii... kalo bicara masa lalu, gw akan kembali teringat dengan kota menyedihkan yang orang-orangnya susah banget buat move on. Ada yang balik sama mantannya, ada yang musuhan karena mantannya dinikahi sahabatnya, ada yang rebutan rumah, ada yang karirnya nggak naik-naik padahal kerja udah bertahun-tahun, dll.

Dan ketika gw liat pun yaaaa dari sosmed, orang-orangnya masih tetep itu-itu aja, dengan kegiatan itu-itu aja, pembahasan yang ada itu-itu aja. Gw malah jadi berpikir gw nggak akan berkembang sama sekali di sana.

Masa lalu apakah itu? Banyak. Gw meninggalkan cinta monyet gw di sana, cerita berakhirnya sebuah persahabatan yang dibangun atas dasar ketulusan dan membuat gw agak trauma buat punya sahabat baru, dan juga tersangkutnya gw pada urusan keluarga lain yang harusnya gw nggak ikut campur.

Saat gw pindah ke Jakarta, gw bener-bener membentuk pribadi yang baru. Gw yang dulu nggak bisa nyetir, gw paksain buat bisa nyetir. Gw yang selalu jadi follower, bukan trend setter, gw paksa diri gw buat uptodate, biar gw ngga gampang dibodohin orang. Asyiknya membangun sebuah kehidupan baru di kota yang baru jauh dari orang-orang yang lo kenal sebelumnya adalah lo bisa membentuk pribadi baru semau lo.

Saat gw asyik membangun karir gw di Jakarta, beberapa dari masa lalu gw kadang datang, mencecar, menuduh bahkan mengatakan yang enggak-enggak soal gw. Jujur gw kesel banget waktu itu. Kayak gw nggak berhak bahagia dan menemukan kehidupan lain tanpa mereka. Even kayaknya sekarang semuanya berlalu oleh waktu. Mereka akhirnya bersikap seolah nggak ada apa-apa. Ya udah gw pun sama, bersikap seolah gw ngga ada apa-apa juga.

Gw tegasin lagi, gw nggak di bully. Tapi gw pernah kenal sekumpulan orang-orang, yang bukan mengarahkan gw ke arah yang lebih baik, tapi justru malah ke arah yang buruk. Alhamdulillahnya makin ke sini, gw berkeluarga dan udah nggak pernah ketemu, justru ketika ketemu di sosmed lagi, mereka sudah bersikap biasa aja, gw pun jadi netral tentunya. Tapi bukan berarti bisa kembali seperti dulu.

Jadi kalo misalkan ada yang nanyain ke gw, mau balik lagi nggak ke sana? Big No for now. Kecuali udah kepepet banget ya. Kalo masih ada pilihan lain, gw akan membangun kehidupan gw di sini. Where the real home is.

No comments: