Sunday, November 7, 2010

Falls and the Winter

Seminggu ini habis sudah perhatian kita sama yang namanya bencana. Sampe dari kasihan, terpanggil untuk nyumbangin apapun, terpanggil jadi sukarelawan, sampai akhirnya mungkin kita cuma bisa duduk diam di depan tv, radio atau internet dan pasrah menunggu perkembangan selanjutnya.

Bahkan mungkin orang-orang di sana sudah mati rasa, nggak ngerti lagi harus ngapain selain menolong, menolong dan menolong. Dan kita yang cuma sebagai penonton setia kadang cuma bisa memaki, berdoa, berharap, apapun yang cuma bisa dilakukan sebagai penonton.

Saya, tadinya cuma nonton. Sampai akhirnya angin membawa dampaknya hingga sampai ke diri saya sendiri. Yeah, that’s winter, dear. Sayangnya bukan berbentuk butiran salju dan bisa dibentuk bola-bola salju buat kalian main lempar-lemparan. Tapi berbentuk debu vulkanik dan partikel pecahan kaca. Kalian pasti bertanya-tanya, bagaimana bisa dengan jarak sejauh itu sampai ke rumah saya?

Saya akan tunjukkan pada sebuah peta dari google maps. dengan jarak 45 km hujan debu berhasil masuk ke kota saya di Ungaran, setelah sebelumnya menembus Salatiga dulu karena kota ini berbanding lurus dengan Merapi dan Boyolali yang sudah terlebih dulu diluluhlantakkan.


Angin, awan dan debu berkolaborasi sedemikian rupa dan berjalan ke berbagai sisi yang dia bisa dan turun sebagai hujan abu dan mengubah apa yang disentuhnya menjadi putih. Kota saya yang tadinya nggak kena, jadi kena hujan abu juga. Orang-orang mendatangi apotek-apotek, beli masker. Bahkan sms peringatan dari pemkot udah mampir dua kali ke inbox saya. Dammit, is that okay, God? Apa yang saya harus lakukan? 
Kalo saya marah, apakah saya berhak marah kepadaMu?

Saya berjalan pulang sambil ngeliatin kendaraan-kendaraan yang kotor dan anehnya, mereka tetap beraktivitas seperti biasa. Pemandangan orang pakek masker, kacamata dan jaket tebal jadi pemandangan biasa. Saya, di mana pun saya berada, nggak ngerasa aman, jadi pengen cepet-cepet pulang. Everything could be happen in the outside, if it was, I hope, a place that I want to see for the last, is my home.

Saya yang jaraknya puluhan kilo aja udah ngeri ngerasa dampaknya, gimana mereka yang deket banget sama TKP? Gimana orang-orang yang berlari-larian cari tempat yang dirasa aman? As a human, satu-satunya orang bisa ngerasa aman adalah berada di tengah orang-orang yang mereka cintai dan senasib sepenanggungan.  

God, thank You so much giving this beautifull fall to us. Remains us how big the power You have. Remains us how small are we. I know may be its not enough, and its never being stopped. I just can’t hear their voices, their cries, their judgements because of these. Is that wrong? Am I wrong? May I mad with You? May I? I’m just only human. We are. An ordinary people that sometimes didn’t believe You, didn’t trusted You, forgot about You, didn’t care about the pains that You remains, everything as an ordinary people can do.
sumber: teman, Adrianto Bagas Mahendra

But God, the sad ending for some people, sometimes looking good for ones, because they believed, may be You have another plans to us. But, for some people, sad endings make them more more and more unstrusted You. I asked You once God, Am I wrong?





sumber: jogjaku



No comments: