Sunday, August 29, 2010

The Photograph is Proof on Sunny Sunday

Its sunday. And very sunny outside. I woke up at 11.00, and saw my neighbours, Feb, capture herself with her handphone camera.

Dan saya jadi punya ide, bagaimana kalo setiap Minggu saya upload foto-foto di direktori saya untuk kalian nikmati. Not as a professional, but emmm, I wanna share it with you just for fun.

Tema kali ini adalah “Laugh for Days.” Actually, saya lagi bĂȘte, tapi saya ngga mau menularkan itu pada tulisan saya. Dan saya pengen kalian tau, saya itu paling suka memotret orang yang lagi ketawa. Ngga tau kenapa. 
cerita di balik photo:
Ini diambil waktu saya outbond sama teman-teman satu angkatan saya di gunung Ungaran. Ini tim saya. Yes, many culture u can see on my team. Cuma saya dan cowok di sebelah saya, Andi, were Javanesse.
Saya kangen sama tim ini. Huah, waktu berlalu begitu cepat. Dan foto ini diambil tahun 2008. Udah lama banget.
Actors: Kombot, me, Andi, Marvel, and I forgot the other name, hahahahha.


cerita di balik photo:
Tahun 2008 lagi. Tahun-tahun saya banyak motret. Soalnya saya ikut kepanitiaan sana sini, wkwkwk. Sok sibuk banget. Ini dua temen saya, masih sering ketemu si di kampus. They were carzy both. And you know, mereka hampir sama wajahnya. Hehehe.

Actors: Elly and Theo




Cerita di balik photo:
Yes. That Elly again, hahahaha. Dia emang narsis banget. Tapi saya suka ketawanya. Dan dia emang orang yang lucu. Dia selalu bikin orang ketawa di mana-mana.

Actor: Elly.






Cerita di balik photo:
Dari tahun 2008, saya loncat ke tahun 2010. Tepatnya saat New Years Eve. Saya nemu foto bagus banget. Dan saya suka banget foto ini. Temen-temen saya juga. Semua orang di foto ketawa.

Actors: Ganesha, Memet, Tekek, Pete, Emon, Erwin, Feri, Delon, Danang. Hmm satu lagi saya lupa namanya. :D



Cerita dibalik photo:
Dengan aktor yang sama, yeah namanya juga tahun baru isinya ketawa aja dari awal sampai akhir. Dan ini momen kedua yang saya suka.



cerita di balik photo:
Memet menggila, wkwkwkwk.





cerita di balik photo:
Well, ini saya, Nova dan monna lagi hang out bareng di sebuah tempat asyik di kota kami. Its the best ever place, you know, for taking a picture.



"And yes, I miss you, but you kind of busy man with unbusy activities."

Movie Review Today: The Last Song. *prepared your tissue and ear for the good sounds of piano.

Saturday night. My bad bad day of saturday night. Dan itu berlangsung dari pagi. Jadi saya lebih suka menyebutnya, What Saturday! Hmmm, becaused I’m stuck, saya akhirnya memutuskan untuk mentransfer rasa jengkel dan amarah saya pada sebuah film rekomendasi Nova, The Last Song. Genre film ini, campuran antara Drama dan Komedi. It’s totally turn your emotion from Red into the Blue then into the Red again, hahaha.

Actually, The Last Song sudah ada di tas saya sejak dua hari yang lalu. Tapi saya belum sempat menontonnya. Dan saya ngga pernah menyangka akan menonton hari ini, soalnya tadinya saya ada janji nonton August Rush sama cowok saya. But, he forgot it and fall asleep. Padahal dia udah janji sama saya sejak beberapa hari yang lalu. Coba kalo game online, dia ngga akan ngelupain janjinya sama temen-temennya. Finally, daripada saya jengkel dan ngga tau mau marah-marah sama siapa, saya putuskan untuk tetap menonton saja. With or without you, dear.

Saya emang bukan kritikus film, so this is poin of view, menurut saya, heheheh…. Enjoyed then!

Film dibuka dengan adegan kedatangan Ronnie (Miley Cyrus) dan adik cowoknya, Jonah (Bobby Coleman) ke rumah Ayahnya, Steve (Greg Kinnear) yang menyepi di sebuah rumah tepi pantai di daerah Georgia untuk Summer Holiday. Hubungan Ronnie sama Ayahnya ngga begitu baik, karena, well, gimana sih hubungan antara anak dan Ayah, kalo orangtuanya cerai? Apalagi kalo Ayahnya yang memutuskan pergi dan finally Ibu kita yang selama ini membesarkan kita sendirian.

Karena itulah, Ronnie pun ngga bersikap manis terhadap Ayahnya. Dan itu bertolak belakang banget dengan Jonah, yang justru seneng banget bisa ketemu dan menghabiskan waktu di situ bersama Ayahnya. Di kota kecil itu, reputasi Ayah Ronnie ngga begitu bagus. Dia dituduh membakar sebuah gereja tua satu-satunya milik penduduk setempat. Dan itu membuat Ronnie makin marah pada Ayahnya.

Di tengah gejolak kemarahan dalam hatinya, Ronnie bertemu Will (Liam Hemsworth), cowok ganteng yang merupakan atlet voli lokal daerah situ. Dan setelah banyak drama di sana-sini, mereka pun jadian. Di sini yang keren banget, sempat menyinggung soal telur penyu di daerah itu dan bagaimana mereka mencontohkan untuk merawat telur-telur itu hingga menetas. Thats awesome!
Waktu njagain telur penyu di pinggir pantai supaya ngga disuri Racoon. And then, the are falling love each other

Seiring berjalannya waktu, hubungan Ronnie membaik dengan Ayahnya. Dan mereka banyak menghabiskan waktu bersama. Sayangnya, suatu hari Ronnie mendapati kenyataan bahwa Ayahnya mengidap penyakit kanker paru-paru. Dan hidupnya udah ngga lama lagi. Meskipun sempat marah tahu Ayahnya menyembunyikan penyakit itu, akhirnya Ronnie memutuskan untuk menemani Ayahnya berjuang hingga akhir hayatnya.

Kenapa The Last Song judulnya? Well, Ayah Ronnie seorang pianis dan dia sedang menulis sebuah lagu di masa-masa akhir hayatnya. Sayangnya lagu itu belum selesai, dan Ronnie, yang tadinya benci banget sama piano akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan lagu itu dan memperdengarkan lagu buatan Ayahnya di hari pemakamannya kepada seluruh penduduk kota

Kalo saya liat sih, film-film ini mirip banget sama cerita-cerita drama khas macam A Walk to Remember, The Notebook, dan yang baru, terakhir kemarin, yang jadi favorit saya juga, Dear John. Waktu saya searching, ternyata cerita ini adaptasi dari novel karya Nicholas Sparks. Pengarang yang sama untuk novel A Walk To Remember, The Notebook dan Dear John.

Yes, you are. Cerita-cerita itu punya background yang sama, kota kecil, yang ngga banyak penduduknya, ngga seputar cinta-cintaan antara cowok cewek doang, tapi sama keluarganya, tokohnya, meskipun kadang ngga tokoh utama, pasti ada yang mati. Terakhir, ceritanya berhasil membuatmu menangis dan tertawa juga. Pokoknya two thums up deh! Apalagi soundtrack-soundtracknya. Damn, they are so good!

Saya sih suka film ini. Quotes yang paling saya suka, adalah kalimat yang diucapkan oleh Kim, ibunya Ronnie, waktu pemakaman ayahnya.

"We're not perfect. Any of us. We make mistakes, we screw up but then we forgive and move forward."

Sumpah, waktu Ibunya bilang gitu. Saya kayak di sambar petir. Actually, ingat posting saya minggu lalu, hubungan saya dan Ayah saya sama-sama ngga begitu bagus. Dan ditambah, hari ini, cowok saya udah mengacaukan hari Sabtu saya. Hari di mana seharusnya saya bisa senang-senang sedikit, karena hari Senin sampai Jumat saya selalu sibuk dengan skripsi saya yang nggak selesai-selesai.

Hey, you, dear, saya memang masih marah. Tapi beri saya sedikit lagi waktu untuk meredam amarah saya. Kamu tahu, pasti saya akan merindukan masa-masa kamu selalu memberi saya cerita-cerita lucu. Dan pada saat itu, pasti saya sudah memaafkanmu.

“Love is fragile. And we're not always its best caretakers. We just muddle through and do the best we can. And hope this fragile thing survives against all odds."

*Just help me to survive, then...

Saturday, August 28, 2010

" I Closed My Eyes, so I dont See You Go Away...."

So why don't you go your way
And I'll go mine
Live your life, and I'll live mine
Baby you'll do well, and I'll be fine
Cause we're better off, separated


Girl I know we had some good times
It's sad but now we gotta say goodbye
Girl you know I love you, I can't deny
I can't say we didn't try to make it work for you and I
I know it hurts so much but it's best for us
Somewhere along this windy road we lost the trust
So I'll walk away so you don't have to see me cry
It's killing me so, why don't you go
(Separated by Usher)

Saya lagi mellow banget. Sial. Beberapa kali saya tertegun di depan lappie dan ngga ngerti mau ngapain. Dan waktu denger lagu ini di playlist saya. Mendadak saya ingat seseorang. Hahah. Kalo liat liriknya, udah pasti kalian tau, yang saya ingat adalah mantan saya 4 bulan yang lalu.

Thanks for the memories. I'm sure you'll be okay.
Di antara semua mantan-mantan saya. He was the best man I’ve ever known. Dia seorang cowok yang punya tanggung jawab, sayang banget sama keluarganya, easy going, dan multitalented. Pokoknya perfecto. Walopun he was not handsome, but he was a kind people. Dan dia sangat setia pada apa yang dia percayai. Teman, sahabat, bahkan saya saat menjadi pacarnya.

Well, sayangnya, we are growing in different family way. Meskipun dia selalu tampak sempurna di mata saya, saya tahu, justru dengan melihat kesempurnaan itu, semakin menyakitkan saya. Saya dan keluarga saya yang sangat kolot tentang agama, akan sangat menderita baginya apabila kami terus berjalan sama-sama.

Saat memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami yang sudah selama itu, kami berdua sama-sama harus menelan kenyataan pahit bahwa kami nggak bisa sama-sama because of different religion that we have. Hiks. Itu bener-bener susah banget, kawan, kalo mau dilanjutin ke jenjang yang lebih serius. Saya tahu, ada orang yang berhasil. Tapi ada juga yang gagal kan. Dan saya melihat bahwa kegagalanlah yang ada di hadapan saya. Saya bukan takut untuk gagal. Saya hanya ngga bisa melihat orang yang saya sayangi terluka becaused of me.

Untukmu, dude (*panggilan untuk sahabat, dan sekarang kamu adalah sahabat saya), saya masih ada di sini menunggu cerita-cerita kehidupanmu, as a bestfriend, off course. Kamu masih bisa membaginya dengan saya, you know, dude, kita pernah sedekat itu. Bahkan kita pernah membayangkan rumah kita akan dipenuhi kendaraan favoritmu, Vespa. Saya cuma mau bilang, saya ngga pernah menyesal pernah ada di sana, di sisimu. 

Saya ngga pernah menyesal kamu buat jatuh cinta kemudian kita berakhir seperti ini. Kita berdua sama-sama manusia, dude, dan inilah salah satu pengalaman yang indah saya sebagai manusia. Saya sangat berterimakasih, kamu memberikan 3 tahun yang sempurna untuk saya. Saya tidak akan pernah mengingat saat-saat kita bertengkar dan berselisih. Bagi saya 3 tahun itu adalah waktu yang sempurna untuk kita menghabiskannya bersama-sama dengan penuh hal-hal seru setiap hari.

Terimakasih, dude, kamu mengajarkan saya arti kesetiaan, tanggung jawab, kemandirian, dan satu hal yang saya ingat darimu, kamu ngga pernah mau berjanji. Bukan karena kamu pasti akan mengingkarinya, tapi kamu takut jika kamu melukai orang lain ketika kamu ngga bisa memenuhi janji itu. Dan kau tahu, dude, karenamu, sekarang saya juga sedang belajar untuk tidak menjanjikan sesuatu. Dan maaf, dude, saya masih ceroboh dan selebor. Dua hal yang selalu membuat kamu geleng-geleng kepala.

Saya selalu berdoa untukmu, dude, kamu akan menemukan seseorang yang bisa mengerti kamu jauh lebih dari saya. Dan di mana pun kamu berada, dude, kamu selalu baik-baik saja. 

10 Things Why I love My Mom so much, taught I just met her during 3 years. *FIRST FRIDAY*

Saya lagi terpaku sama koleksi foto-foto lama Ibu saya. Belom ada kamera SLR di situ, tapi mereka udah keren-keren banget ambil foto Ibu dengan berbagai macam pose. Oh, God, u must see it. Dan kalo kamu cowok normal yang datang dan lahir seangkatan dengan dia, saya yakin kamu akan jatuh cinta padanya. Kata sodara-sodara Ibu saya, my mother was a popular girl. And she had a lot of admirers, becaused of her smile, her laugh, her style and her kindness. Awww.

Okay, sebelumnya, mulai sekarang saya akan mengepost 10 Things Why setiap Jumat. Dan ini adalah 10 Things Why pertama saya. Sebenernya saya ada begitu banyak hal di kepala saya untuk ditulis, tapi saya putuskan, saya menulis tentang Ibu saya saja. Because, she was really amazing woman, on me. And I want make her become the number 1 of this.

Baiklah, ini dia 10 Things Why I love My Mom So much, they are:

  1. She was married my weird father. Yup, absolutelly. Hell, no one can understand my father like she was, I guess.  Bahkan saya pun ngga bisa mengerti jalan pikiran Ayah saya. Kapan-kapan saya posting tentang Ayah saya deh. Hehehe. Kadang-kadang saya pengen tau, bagaimana mereka bertemu, having in a relationship then decided to got married. Sayangnya, she was passed away now. Dan meninggalkan kakak saya dan saya yang sama-sama belum diberitahu rahasia apa untuk mengerti jalan pikiran Ayah saya.
  2. She was born my sister then me, not me then my sister, or just me, or just my sister. Saya dan kakak saya dua orang dengan kepribadian yang bertolak belakang, padahal kami semua perempuan. Dengan susah payah, kami sama-sama mencoba mengerti satu sama lain. Well, meskipun akhirnya kami berdua menghadapi kejamnya dunia kami dengan cara kami masing-masing, saya sangat bersyukur dengan kehidupan saya yang sekarang. Sendirian, mandiri, mencoba belajar tanggung jawab dan kedewasaan, dan hal-hal yang mungkin ngga akan didapatkan anak perempuan lain di dunia ini
  3. She was a beautifull woman. Yeah. Saya ngomong berdasarkan fakta. Sodara-sodara Ibu saya selalu bilang, Ibu saya adalah cewek paling cantik di antara mereka. Okay, that’s why she was born 2 beautifull daughters in this world, like me, and my sister. Hahahaha. :D
  4. She was having a good sense of fashion. Nah, ini dia. Posting berikutnya semoga saya bisa membahas gaya berpakaian Ibu saya yang stylist banget. Kata kakak saya, Ibu adalah seseorang yang sangat suka dengan fashion, makanya menurun pada saya (kakak saya ngga begitu suka mengikuti dunia fashion, satu-satunya yang saya tahu, dia hanya mewarisi wajah dan tubuh Ibu saya yang kurus, wkwkwkkw.). Katanya lagi, Ibu saya itu centil dan suka banget gonta-ganti model pakaian. Kakak saya menganjurkan pada saya untuk mencari koleksi pakaian Ibu saya suatu hari nanti di rumah lama kami. Ayah saya, menyimpannya dengan hati-hati, begitu katanya. Hahaha. Itulah kenapa meskipun sering bertengkar dengan Ayah saya, saya ngga bisa membencinya. Saya tau banget, He loved her so much sampai dia baru bisa berpikiran untuk menikah lagi ketika saya berusia 20 tahun.
  5. She was the best woman, with a beautifull and amazing memoriam for everybody who know him. Yeah. Saya ngga pernah mendengar kenangan-kenangan buruk tentang Ibu saya. Dari siapapun. Saya rasa itu keren banget. Di mana orang-orang mengingat segala kebaikanmu ketika kamu tidak ada, dan ketika mereka bertemu dengan salah satu keturunannya, mereka bilang: “Kamu, sama dengan Ibumu, dia juga dulu bla bla bla bla…,” Dan saya, ngga sekali dua kali dibilang seperti itu. Meskipun kakak saya lebih sering, karena seperti yang saya udah bilang tadi, dia memiliki wajah dan sosok yang mirip seperti Ibu saya. Tapi beberapa orang bilang, kakak saya boleh mendapat kemiripan fisiknya, tapi sifat dan sikapnya, benar-benar menurun pada saya. Saya tidak pernah tau, kalo saya sama menyenangkannya dengan Ibu. As you know, I just met her on 3 years. Apa yang bisa saya ingat tentang Ibu saya kecuali pada hari pemakamannya?
  6. She was a rock Mom. Yeah, she was. Ibu saya ternyata pernah maen band. Awesome! Keren banget. Saya sendiri dulu pernah berkecimpung dengan dunia band. Pacaran sama anak band (kayaknya waktu itu keren banget deh punya cowok anak band ;p). well, I don’t know where he was now, haha. Actually, bakat ngeband saya berarti menurun dari Ibu saya.
  7. She was a traveler legend. Absolutelly. Saya udah tau, waktu muda, Ibu saya seneng banget jalan-jalan ke luar kota. Kadang sendirian. Trus hunting baju-baju buat dijual lagi. Yeah. My mom has spend her time to sell clothes. Oh, dear Mom, saya bakalan seneng banget kalo seandainya hari pernikahan saya nanti,  you are the person who choose the kebaya for me. But  I know, it’s impossible. And I thankfull if you just being an inspiration of me.
  8. She was an Immortal Fighter and the best Hero at the same time. Saya sebut begitu, soalnya, dialah satu-satunya sosok yang memberi contoh kepada saya untuk memperjuangkan sesuatu hingga akhir. And she did it. Dia berhasil. Dan memberikan sebuah persembahan indah, kepada kami semua untuk mengenang bagaimana dia berjuang melawan penyakitnya. Bagaimana dia seolah-olah selalu saja memberikan saya dorongan kekuatan untuk tetap tegar dan melawan keterpurukan sampai saya bangkit dan berjuang lagi.  Oh, Mom, we will don’t know how beautifull you are, if you didn’t passed away.
  9. She was the princess of my Fairy tale, and I was reading her story all the time. Yeah, Mom. It’s you. Kalian tahu dongeng ‘kan? Setiap dongeng pasti ada seorang putri yang menjadi tokoh utamanya. Dalam kehidupan saya, Ibu saya adalah putri itu. Dan dia yang memberikan saya sebuah cerita untuk disimak hingga akhir. Dan dia, di sana, entah di mana, menunggu saya, untuk menjadi putri berikutnya, yang menjadi cerita untuk anak-anak saya nanti.
  10. If not ten, I will make it unstoppable. Yeah, karena cuma sepuluh, saya cuma memberi sepuluh alasan kenapa saya sangat mencintai Ibu saya. Tapi karena alasan itu bahkan nggak ada batasnya. Saya berhenti di nomor ini. Dan cukup sederhana saja. I love you so much, Mom, its becaused you are being my Mom, not the other.
When they got married with Javanesse culture.


















Sumpah ngingetin saya sama film era Roma Irama. :D




You know, when I see your smile. I can change the world.

nice skirt, Mom!
Awsome! She banks!

Friday, August 27, 2010

I was a Vintage Girl, with full of passion in my head. And I started addicted to transfer it to you, dear.

Saya lagi addicted banget sama dua jenis kamera vintage. Lomo dan Polaroid. Dua duanya sekarang emang lagi in banget. Tapi kepopulerannya emang ngga sedasyat kamera SLR. Dan harganya pun masih di bawahnya. Untuk hasilnya, bener-bener menguji sense of artmu. Dan ngga perlu pake aturan apapun untuk memakainya. Its analog dear, we all always feel curious about the process and then become a picture. Oh, ngga sabar saya untuk punya!

salah satu kamera lomo. Namanya kamera holga. aduh saya nemu harganya cuma 700 ribu. hiks. lagi bokek saya padahal. :(


Ini Polaroid camera model lama. Ngga sampe sejutaan. Kalo yang model baru harganya 1 jutaan lebih. Off course, saya maunya yang ini. :)

Saya tau soal lomo sekitar dua tahun lalu. Waktu saya masih belajar kamera dijital di sebuah even kepanitiaan. Sahabat saya, yes, off course, that Nova again, membawa majalah cewek, tapi ada artikel soal lomo di dalamnya. Waktu itu saya tertarik untuk punya. Tapi cuma dalam taraf tertarik aja. Saya belom serius banget untuk mencari-cari informasi tambahan soal itu.

Seiring berjalannya waktu, saya bosan dengan SLR dan dijital. Saya punya kamera dijital dalam handphone saya, dan direktorinya penuh dengan foto-foto saya dan teman-teman. Tapi itu kurang lebih karena saya suka mengabadikan momen. Momen apa saja. Suka motret, pasti harus bisa editing photoEditing photo pun saya belajar otodidak, ngga pake aturan tertentu. Nggak pakek buku. Saya mengandalkan sense of art saya lagi, wkwkwkwk.

Well, basically, saya suka banget barang-barang vintage. Baju-baju vintage model tahun 80an, buku-buku tentang Marylin Monroe, postcard, film-film (Ah,film 5 sekawan, dulu buat saya keren banget!), musik-musiknya (Siapa ngga suka The Beatles?), dan barang-barang laen yang mungkin bekas tapi usefull.

Dan karena Lomo n Polaroid ini dua-duanya sama-sama barang vintage, saya pengen banget punya salah satunya. Soalnya harganya juga terjangkau banget. Ngga perlulah tambahan lensa macam-macam (ada sih yang model begitu, tapi untuk pemula, sediain duit 1 juta juga cukup!), skill dari tutor fotografer terkenal, atau apalah seperti ketika kalian belajar SLR.
Film 5 sekawan favorit saya, masih ada ngga ya?
oh, Marylin Monroe, cantik banget. Dia icon vintage buat saya.
THE BEATLES. Oh damn. Why they was so cool?

Dan kesukaan saya pun menjalar pada sahabat saya, Wiwit, dia sih masih pegang SLR dan keknya setia banget sama SLR nya. Dan sebenernya, kita juga ada sedikit projek kecil-kecilan dengan busana kebaya setelah lebaran nanti.J

Waktu saya bilang saya nemuin Polaroid bekas di kaskus satu bulan yang lalu dan gagal mendapatkannya, karena ada orang lain udah menawar duluan. Hiks. Eh, alhasil giliran dia menggebu-nggebu pengen punya sekarang. Saya sih ketawa-ketawa aja. Polaroid fever berhasil saya tularkan lagi, who's next then?

Well, kalian mau tau hasilnya kayak apa kan dua kamera vintage di atas, ni saya kasih beberapa gambar hasil hunting di google dan ada dari direktori saya sendiri.
hasil jepretan dua temen saya, Aries Llorin dan Gabija Vaisvilate dari Lomography Group.
Its Polaroid. ngga tau punya siapa, tapi keren banget, heheheh.
Ya ampun, saya narsis banget. hahah. Maklum kamera pinjeman.
Keren-keren kan? Yeah. Sayangnya, ngga semua orang suka kamera analog (manual). Di sinilah keribetan dan sekaligus keistimewaan kamera lomo n Polaroid. Kamu ngga tau hasil jepretan kamu nantinya kayak gimana. Dan trust me, u will feel surprised when it become a pictures.

Satu lagi, yang bikin agak ribet, ketika kamu membawanya ke proses dijital (Kaya saya mau upload di blog atau FB). U must get a scanner for it. Yeah, kita bicara soal analog di sini. Ngga ada kabel USB, memory card dan blue tooth. But, that’s the point, folks! Saya suka banget keribetan seperti itu. Saya ngga pernah melihatnya dari sisi ribetnya, saya selalu  lihat dari sisi seninya. ALWAYS ON SENSE OF ART, YEAH!!!

Darah seni dalam diri saya itu sama besarnya dengan hemoglobin yang saya punya. Dan ada beberapa orang yang menurunkan darah itu pada saya. Hmmh. Actually, my grandpa was a painter, and he was a great one. Dia buat beberapa lukisan di rumahnya dan ngga malu buat membingkai dan memasangnya. Yang kedua, my grand ma was a good singer, dan dia selalu menyanyikan lagu-lagu jepang dan belanda sambil nongkrong di teras rumahnya menyapa para tetangga atau sekedar menyiram tanaman. Ah, sayang sekarang nenek saya udah pikun. Bahkan dia ngga mengenali saya lagi. :(

Third, My Father did. My father? Yup! Seperti sodara-sodara cowoknya yang lain, dia adalah seorang penggemar the Beatles dan musik-musik jazz sejati. Saya ngga begitu tahu, dia bisa memainkan jenis alat musik apa. Tapi, waktu saya setel The Beatles dan Norah Jones di mp3 saya, dia ikut bersenandung sedikit-sedikit. Dan kadang saking enjoynya, dia ketiduran, hahaha.

Di rumah nenek saya, ada sebuah piano. Kayaknya dulu semua anggota keluarga saya diwajibkan belajar piano. Dan ketika saya lahir, kayaknya kebiasaan itu sudah hilang, bersamaan rusaknya piano tersebut. Apakah Ayah saya bisa memainkannya? Well, dont ask me! Itu sebuah misteri buat saya. Wkwkwkwk.

Lets talk about my Mom, yeah, sayangnya dia udah passed away waktu saya umur 3 tahun. Tapi, ibu saya punya sense of fashion art keren banget. Foto-foto masa lalunya yang saya temukan, selalu aja dengan baju-baju keren dan she was very beautifull wear everything. Thanks, God, she born me in this world, then.
Ini salah dua foto ibu saya, yang style nya keren banget, hehe...

 gila, nyokap saya keren banget. Oh, damn. Tasnya cute! (Hey, thats my sister not me!)

Anyways, kalo kamu kenal saya dengan baik, kamu akan tahu, saya benar-benar punya semua darah seni itu dalam diri saya. Saya seorang pelukis yang lumayan, hanya saya belum sempat melukis lagi sejak masuk kuliah. Menyanyi? Hmmm, saya bukan penyanyi dengan teknik yang baik, tapi suara saya ngga ancur untuk didengar. Dan saya, pernah jadi vokalis sebuah band waktu SMP dan SMA. :p

Seperti ayah saya, saya juga paling suka dengan musik-musik lama. Kamu bisa temukan Dream Teather, Queen, Sting, Michael Learns To Rock, John Legend, Lionel Richie, Celine Dion, dan entah apa lagi dalam koleksi mp3 saya. Tapi, saya lebih suka menyebut diri saya seorang mainstream (bisa mendengar jenis musik apapun). Saya bisa dengar John Legend menyanyikan Someday, tapi kemudian urutan berikutnya adalah Lady Gaga dengan Bad Romancenya. Hey, she was an amazing artist, you know.

Dalam fashion? Jangan tanya. Hahahha. Saya memang bukan seorang model. Dan saya lumayan benci dunia model. Tapi sense of art saya pada fashion seperti sebuah passion. Dan salah satu sahabat saya yang lain, Ferry, dia itu adalah seorang one kind of my influence. He always told me everything about something to wear and not to wear.  Selain Ferry, inspirasi saya ada di blog cewek ini: "A chick Named Hermia".
Sumpah, gaya fashionnya keren banget. Kapan-kapan saya akan bahas secara detail, okay? Be pation, dear.

Then, kalo saya bilang, I was accumulated of very kind passion of my family. And almost of them were arts. Kamu selalu bisa ajak saya untuk liat film-film lama, berburu barang di pasar loak, pergi ke kota-kota dengan bangunan-bangunan lama di dalamnya (Ayo, maenlah ke Kota Lama Semarang!), nonton konser musik-musik tua, ato apapun yang menarik dari sisi masa lalu, saya dengan senang hati menemanimu ke mana-mana.

But, at least, inside, saya itu tetep aja cewek normal. Saya suka dandan (ngga menor tentunya), ke salon, belanja, cuci mata, beli barang-barang ngga penting, bergosip, hahahha. Thats me. And I know, you love it!

Okay, the last, saya serius lagi berburu kamera vintage. Kalo ada yang punya referensi, bekas ngga masalah, just called me, okay? I’m totally concerned of it. And someday, saya punya satu keinginan yang aneh kalo saya udah punya kamera itu. Memotret anak-anak saya, dari dia berusia 1 bulan. :D (Nikah aja belom,hihi...)

Thursday, August 26, 2010

Conversation between two girls and a boy. *cheers

Seharian ini, dua sahabat saya, Nova dan Wiwit menghabiskan hari mereka di rumah. Well, akhir-akhir ini, kita emang sering banget ke mana-mana bertiga. Nongkrong di kampus, bikin skripsi di perpus, bimbingan, belanja kebutuhan, minjem dvd di rental, pokoknya kita ke mana-mana bertiga terus. Biasanya sih, saya bertiga ke mana-mananya sama sahabat cewek saya satu lagi. Namanya Mona. Tapi dia lagi ada masalah keluarga, dan udah beberapa kali saya sms pun ngga dibalas sama dia. Okelah, akhirnya Wiwit menggantikan posisi si Mona, wkwkwkkwwk. Jadi dia sering kejebak juga dengan aktivitas cewek yang kita lakukan. :D

monna, saya dan nova. ngga jelas posenya apa nih. wkwkkwk. pose curut kalik.

mendadak berubah menjadi....



Kebetulan, cuma Nova yang puasa hari ini. Saya masih halangan. Kalo si Wiwit emang non-muslim, tapi dia selalu ngehargai kami yang sedang menjalankan ibadah puasa dan kadang-kadang dia mesti ikut-ikutan nahan lapar kalo kita bertiga lagi sama-sama. Jadi waktu sampai di rumah saya, Wiwit pun menolak waktu saya tawari minuman.

Di luar lagi panas banget. Nova tidur-tiduran di salah satu kursi ruang tamu saya. Wiwit duduk di sebelah saya. Dari ngobrolin skripsi kita yang ngga kelar-kelar, akhirnya kita bahas cowok. Saya juga lupa gimana bisa sampe ke situ topik obrolannya.

Hmmm, enaknya dipersingkat saja:
Ada dua jenis cowok yang kita bahas hari ini adalah...
  •  COWOK SOK NGARTIS

Bener. Saya paling benci cowok satu ini. Sumpah. Ciri-cirinya seperti ini, saya yakin kalian sering menemukan mereka:
  1.          Punya salah satu dan atau banyak kelebihan yang bisa bikin cewek ngelirik. Diantaranya: nggak hanya dari fisik yang enak diliat, tajir, punya selera humor yang bikin kita ngakak-ngakak, a good story teller (pinter boong dan ngerayu), cerdas, pokoknya yang bagus-bagus deh. Ketika dia menyadari kelebihannya ini, dia gunakan untuk membuat cewek-cewek jatuh cinta padanya.
  2.           Ketika udah bikin cewek-cewek jatuh cinta padanya, dengan kejam, dia nggak kasi kejelasan hubungan mereka seperti apa. Dan ketika kita mau pergi, mereka pasang tampang malaikat dan seolah-olah memegang ekor kita, mengucapkan alasan apapun supaya kita ngga pergi dari dia. Sekali dua kali, namanya cewek pasti luluh. Tapi buat saya, lebih baik ngga deh. Tegaskanlah hubungan kita seperti apa. Jangan mau kita dibuatnya mengharu biru, kalo ternyata di luar dia sibuk flirting2 lagi sama cewek-cewek lain.
  3.           Sok sibuk banget. Ngehubungi kita kalo lagi sepi orderan aja, wkwkwkw. :D Waktu dia ngga ada temen-temen di sekelilingnya. Waktu cewek-cewek fans dia yang lain entah di mana. Dia baru ingat dan mencari-cari kita di mana. Giliran kita yang kesepian, kita cari dia, dia cuma menemani kita setengah-setengah. Parahnya lagi, kadang ada yang sok hilang ditelan bumi.
  • .       COWOK SOK PAHLAWAN

Saya punya beberapa temen kaya gini. Saya ngga benci mereka sih. Cuma risih sama tingkah lakunya. Tujuannya cuma satu, mau jadi Prince Charming bagi orang lain. Biar orang-orang menilai betapa baik dan pedulinya dia sama orang lain. Bah! Ke laut aja lo! Cirri-cirinya:

  1.           Dia itu kayak punya pintu ke mana sajanya Doraemon. Fleksibel. Maksud saya, dia bisa tiba-tiba ada di mana saja. Dan membantu siapa saja yang membutuhkan. Kadang yang nggak butuh bantuan pun ditawari bantuan sama dia. Pokoknya empatinya tinggi banget.
  2.           Kadang bantuannya justru bikin orang laen sengsara. Hahaha. Ini kayak cerita miliknya temen saya. Niatnya si nyomblangin, tapi yang cowok ngga suka. Eh, yang cewek udah terlanjur suka. Nah si cowoknya dipaksa-paksa nih biar suka sama si cewek. What the hell, maen paksa-paksaan.
  3.           Resek banget, sumpah. Bener, cowok sok pahlawan itu biasanya resek. Suka ikut campur urusan orang. Biar eksis dia. Padahal kadang ada beberapa urusan yang kita itu lebih suka kalo itu jadi masalah pribadi aja. Ngga perlu campur tangan orang laen.
  4.           Suka cari muka. Hahahaha. Udah pastilah kalo ini. Biar dikata baik gitu sama orang-orang. Padahal kita ngga ngerti maunya dia apa sebenernya.
heys, cowok sok pahlawan, daripada cari-cari apa yang perlu ditolong, cobalah kamu jadi pahlawan untuk mereka. They really need it.

 Sebenernya itu ngga cowok juga sih, cewek juga ada yang kayak gitu. Tapi kebanyakan dua jenis manusia di atas itu cowok-cowok. Soalnya yang diomongin dua sahabat saya ini, semuanya cowok. Dan beberapa temen kami pun udah jadi korbannya. Termasuk sahabat saya si Nova dengan cowok tipe pertama. Saya dan Wiwit yang kenal dengan cowok tipe kedua. Dan masing-masing dari kami punya cerita lucu buat ditertawakan sama-sama.

Tanggapan saya buat cowok pertama, cowok sok ngartis. Hmmm. Saya pernah banget punya mantan kayak gitu. Saya lepas aja deh. Soalnya di sekelilingnya isinya cewek-cewek cantik semua. Saya malas saingan sama cewek-cewek cantik. Soalnya, saya tahu, mantan saya orangnya ngga kuat iman. Hahahaha.

Finally, saya putus deh sama dia. Sekarang kita malah sahabatan. Dan ternyata cowok tipe pertama itu emang lebih enak dijadiin sahabat aja. Karena keberuntungannya sebagai cowok sok ngartis, bikin dia lucky di mana-mana.

Saya pernah jalan sama mantan saya waktu kami udah jadi sahabat, kita makan di sebuah caffe steak gitu. Ngga tau mantan saya nglakuin apa, tapi kami dikasi diskon sepuluh persen sama kasirnya. Asal, mantan saya mau diajakin kenalan. :D

Tanggapan saya buat cowok kedua. Jangan pernah jadikan mereka sahabat. Karena dia itu seperti dua mata pisau. Satu bisa melukaimu, kedua dia ngga bisa menyenangkanmu juga. Di satu sisi dia pengen selalu nolongin kamu. Tapi pertolongannya kadang lebay gitu, bikin kita malas ngeliatnya. Tujuan cowok jenis ini cuma satu. Dapat penghargaan dari kita. Udah ngga jelas lagi dia nolong iklas ato nggak.

That’s all, guys. Saya harap kita, cewek-cewek ngga bakal dapat pasangan hidup seperti itu. Kalopun dapat, dia sudah insyaf. =D

Tuesday, August 24, 2010

That Motivation comes from the 'A'

Segernya! Saya habis mandi. Sambil menunggu nasi di magic com mini saya, saya putuskan untuk memosting cerita di blog saya lagi. Hahaha, benar sekali, mate. Kalo abis bikin blog baru, biasanya awal-awal seperti ini kita rajin banget memosting sesuatu. Tunggu saja beberapa bulan lagi. Saya ngga yakin saya akan update blog ini tiap hari seperti sekarang. Bahkan sehari dua kali seperti kemaren. :p

Hari ini hari super duper lelah saya di depan lappie kesayangan saya ini. Biasanya saya paling betah nongkrong berjam-jam di depan lappie sambil sekedar liat-liat blog orang, maen game onlen sebentar, komen-komen ngga penting di facebook, ngecek sebentar twitter saya yang sepi (haha, benar, saking simpelnya twitter, saya sampe sekarang belom menemukan kenyamanan memakainya.), donlot lagu-lagu yang asik, sekedar dengerin koleksi mp3 saya yang bejibun sambil intip-intip facebook cowok saya, mantan-mantan saya (jangan malu, saya yakin kalian juga sering melakukannya kan?), sahabat-sahabat saya, sodara-sodara saya yang saking banyaknya ngga kehitung pake 20 jari yang saya punya, trus, siapa lagi ya, hmmm… yah pokoknya yang ada di list teman saya deh.

neh twitter saya diupdate terakhir 25 januari, itu aja ngga ada yang retweet. wkwkwk.


Berawal dari ibu pembimbing skripsi saya tercintah, yang menyuruh saya untuk merevisi ulang Bab 1, 2 dan 3 skripsi saya minggu lalu. Saya yang biasanya paling malas buat revisi, mendadak menjadi rajin, karena saya sedikit sadar, waktu saya semakin sempit untuk mengejar ketertinggalan saya. Benar, saya sedikit sadar.

Tapi, kesadaran saya makin bertambahl saat melihat salah satu teman saya, berinisial A (maaf banget ngga enak nyebut nama dia di sini), menenteng bundel skripsinya yang sudah selesai dan lewat di depan saya.

Kalo orang lain yang lewat, saya mungkin bersikap biasa aja. Tapi, sayangnya si A yang lewat. Yang menohok saya adalah, kami seangkatan, karena kami seangkatan, kami sering satu kelas bareng waktu jaman kuliah dulu. Saya tau banget, si A anaknya bego. Sumpah, saya bukannya ngebego-begoin anak orang. Tapi yang mengakui kebegoannya itu bukan satu dua orang saja. Hampir semua orang yang kenal dia tau dia itu bego. Nilai A yang dia dapat, hasil sempurna karena dia kumpul sama orang-orang jenius di kelas saya dan mencontek habis-habisan kerjaan mereka dengan mengedit-edit sedikit agar terlihat itu hasil karyanya dia. Kalo disuruh ngerjain sendiri, saya yakin, dia ngga bakalan bisa.

Dan saya, meskipun saya mengakui kecerdasan saya sedikit lebih tinggi levelnya dibanding dia, kadang harus puas hanya dengan nilai AB atau B. Bedanya, nilai saya hampir semuanya usaha saya sendiri.

Oke, sampai di situ flashback saya soal si A. Anyways, saya hampir ngga percaya kalo bundel yang dia bawa adalah bundel skripsi. Tapi sahabat saya, Nova (dia duduk di sebelah saya waktu itu), yang mungkin menyadari hal ini lebih cepat daripada saya dan langsung tanpa basa-basi dia bertanya pada si A. terjadilah percakapan singkat berikut:

Nova: “ Hei, A! Kamu mau kumpul bundel skripsi toh?”
A: (menoleh dan menunjukkan bundel yang dibawanya.) “Iya, ni, Va. Heheheheh….,”

Saya dan Nova berpandangan. Dalam hati kami, sama-sama meneriakkan kata: “Asem!”

Saya: “Wah, keren, A! Kapan sidang?” (dalam hati saya ndongkol.)
A: “Ngga tau, Meg. Tunggu jadwal aja. Duluan ya,”

A berlalu cepat masuk ke ruang Kepala Program Studi kami. Dan menghabiskan waktu yang cukup lama di sana bersama calon-calon peserta sidang lainnya yang mengumpulkan bundel skripsi hari itu.

Saya dan Nova sama-sama terdiam. Percakapan singkat itu membuat kami terkagum-kagum. Si A? Mau sidang? Hahahahah. Saya ngga mempermasalahkan bagaimana dia membuat skripsinya. Kalo ternyata skripsinya dikerjakan orang lain alias “beli”, saya pun ngga merasa itu salah. Sumpah, Fakultas saya itu paling gemar merekrut orang untuk masuk dan belajar di dalamnya (dengan biaya tinggi tentunya!), tapi untuk meluluskan mahasiswanya, mereka membuat prosesnya seolah susah sekali. Anyways, kapan-kapan saya akan posting bagaimana bisa begitu. :p

Back. Yang kami permasalahkan itu adalah, bagaimana si A masih bisa mempertahankan semangatnya untuk bertahan mengerjakan skripsi dan mendahului kami semua maju sidang. Saya, Nova dan mungkin teman-teman seperjuangan saya, sering banget ngerasa Up and Down, Hot and Cold, Yes then No, (hahahhaa, lagu Katty Pery banget) secara bergantian.

Dia, menurut saya keren. Meskipun bego, dia sangat konstan dalam mempertahankan semangatnya dan mengumpulkan bundel skripsi mendahului kami-kami yang mungkin kecerdasannya di atas rata-rata dia. Salut banget! Ngga bakal ngira deh. Temen-temen satu angkatan saya yang laen, yang saya ceritain, ngga percaya juga. Gila, saya ngga pernah berpikir sebelumnya, kalo motivasi saya justru datang dari si A! One another of idiot that spend their study just for fun.

Makanya, saya bela-belain duduk seharian di depan lappie dan mengerjakan bagian paling menjengkelkan di skripsi saya. DFD! Temen-temen yang kuliahnya sama-sama di TI seperti saya pasti tau banget DFD itu apa. Yup, kek diagram perencanaan sebelum kamu membuat sebuah program komputer. Ah, whatever! Saya ngga mau bahas soal materi komputer di sini.

Dan oke, finally, kemalasan saya berhasil dikalahkan. Dan, yippie! Selesai sudah. Seneng banget saya. Ngga yakin juga itu bener sih tapi seenggaknya saya udah berusaha. Well, that’s me, mate. Saya itu kalo disuruh usaha mati-matian saya bisa sampai mati beneran :p, saya ngga pernah peduli itu salah atau benar. Soalnya kata-kata favorit saya dari salah seorang temen saya, selalu jadi pegangan hidup. Ini dia:

“Rights and wrong wasn’t different. They just an opposite like Night and Day.”

Wah, nasi saya matang. Times to eat then!

Monday, August 23, 2010

Welcome home, dear! *siiiing

Posting pertama saya. Setelah bertahun-tahun saya tidak menyentuh dunia blog lagi. Terakhir kali saya ingat saya menulis sebuah kisah-kisah pendek di blog saya ketika saya masih SMA. 

Beberapa saya kembangkan jadi cerpen. Dan voila, saya bisa memenangkan beberapa kejuaraan cerpen nasional berkat cerpen-cerpen itu. Hahaha, kalo diinget keren juga ya. Bisa menorehkan nama pemenang di halaman majalah remaja nasional beberapa kali.

Sebuah perjalanan hidup membuat saya kembali menulis lagi. Hidup sendirian. Menjalani hari-hari saya seorang diri. Kadang membuat saya ingin menuliskan sesuatu. Tapi selalu saja tidak sempat. As you know, hidup sendiri ngga pernah mudah. Ada saja cerita berbeda setiap hari yang memberi pelajaran untuk saya. 

Beda banget sama kalian semua yang hidup dekat terus sama orangtua, bahkan sejak masih orok pun trus skarang hidup kalian hampir menyentuh seperempat abad, masih tinggal bersama mereka.

Well, ketika kalian pulang, ada orang-orang yang menyapa kalian, walopun itu adalah adek yang sangat kalian benci lagi enjoy nonton reality show, cuma ngeliat sekilas waktu kalian masuk rumah dan mendengus karena sebentar lagi kalianlah penguasa acara program di televisi. 

Kemudian setelah pulang beraktifitas seharian, kalian lebih banyak menghabiskan waktu di kamar bersama facebook, twitter, BBM dan saya, yang masih setia dengan sms :D, tapi setidaknya kalian tahu, ada orang lain yang berbagi menghirup udara di rumah itu bersama-sama kalian, menjadi begitu ribut saat jam makan tiba dan kembali tenang di atas jam sembilan malam. (Ah, betapa merindukannya gedoran Tante saya ketika masih bersama saya beberapa tahun lalu. Padahal dulu saya benci sekali kalo dia udah mulai gedor-gedor pintu menyuruh saya keluar kamar hanya untuk makan.)


gile dah ni keluarga lengkap banget. (sumber: mof.gov.sg)

Dengan kehangatan rumah yang seperti itu, kalian bisa berbagi apa saja. Sedangkan bagi kami yang tinggal sendiri, kadang kejadian menarik berlalu begitu saja seperti halnya dengan hari-hari selama seminggu. Akan betapa menyenangkannya bila saya bisa membaginya lagi di sini.


Welcome home, dear. Hahaha. Terimakasih untuk Richard di bulejugamanusia.blogspot.com yang ketika terdampar di halaman page itu, saya sedikit iri, bagaimana bisa menumbuhkan rasa cinta negeri seperti itu dan menuangkannya dalam tulisan jenaka. Dan sahabat saya, soulmate, entah apa namanya, Nova Kristya di countessnox.blogspot.com, saya selalu berpikir, kalau kita dilahirkan berlawanan jenis, kita menikah saja. Hahahahaha.