Thursday, November 9, 2017

HATE SPEECH dan SOSMED

Sebenernya kalo mau jujur gw itu aktif di sosmed instagram tujuannya simpel, karena gw mau ngabarin keluarga gw anak gw sudah bisa apa. Jadi gw ga perlu kan kasih info kabar gw dan anak gw gmn secara satu per satu terutama buat keluarga gw. Untungnya keluarga gw pada aktif sosmed terutama instagram, sosmed khusus buat berbagi foto dan video, jadi alhamdulillah mereka bisa menyaksikan perkembangan baby kelana TANPA harus setiap hari nanya ke gw. Itu aja sih.

Tapi, namanya manusia, yeeee kan... tiap gw posting ini itu tetep aja ada pro kontranya. Yang pro sih pasti bilang hal-hal positif soal anak gw dan bahkan ada yang jadi fans setianya HAHAHAHA. Yang kontra yaaa selalu aja komen negatif atau indikasi menyindir. Dan bahkan gw sendiri ga tau kenapa mereka melakukan itu. KAYA NGGA ADA KERJAAN LAIN. Tul gak.

Ternyata komen negatif alias HATE SPEECH nggak kena ke gw doang, yang cuma manusia biasa butiran debu tak terlihat. Banyak yang lebih PARAH, terutama kalo udah seleb yang menuai kontra. Gw juga kadang bingung sih ama ni SELEB2 kok yaaa hal-hal berbau negatif aja diumbar.

Meskipun nggak negatif, yang postingannya POSITIF macem Raisa aja kena. Padahal dese lebih banyak posting soal kegiatannya yang POSITIF. Tapi tangan-tangan manusia jahil pun selalu KOMEN. Kok Mba Raisa sekarang KELIATAN TUA? KEKURUSAN. BAGUS DULU. CHUBBY.

Gw bingung, pas Raisa dulu gendut, mereka pengen idolanya KURUS. Sekarang idolanya KURUS karena RAJIN OLAHRAGA dan BUKAN ngobat, dikomen jugak.

Sorry, but I’m not a die hard fans of Raisa. Cuma yaaaaa gw geli aja tiap kali ada yang komen di foto-fotonya dia. KAYA KENAL DEKET. Padahal yang kenal deket ama dese aja mungkin LEBIH MENJAGA PERASAANnya.

Duh, gimana yak para warga internet sekarang, kalo misal lo nggak suka, ya saying personally lah. Person to person. Jangan cuma bisa komen. Kan komen lo itu dibaca oleh banyak orang. Ibarat kata, lebih gampang menebar kebencian dibanding menebar kebahagiaan. Kalo lo menebar KEBENCIAN sampe emosi segala, yang diuntungkan siapa sih. ORA ONO. ENGGAK ADAAAAAA.... just you ruinned your time.

Dulu, bokap gw sering bilang ke anak-anaknya: “Nak, kalo nggak suka sama sesuatu, diem aja. Jangan ngomong apa-apa. Jaga perasaan orang tsb. Kalo dia sakit hati, sedih, nangis, GALAU sampe berhari-hari, kamu mau tanggung jawab?”

Itulah kenapa tiap kali gw gak suka sesuatu, gw memilih diem. Dan kata suami gw, itulah yang menyebabkan gw ga bisa jadi SALES kaya dia. Ibarat kata SALES itu jualan kata-kata. Kalo gw ga bisa ngomong menyenangkan, gw cuma memilih diem. SALES ga bisa diem aja, HARUS ngomong meskipun itu munafik sekalipun.

Dan itu bener sekali. Temen gw ada yang suka saltum, menor, sepatu ga matched, dan alis gede sebelah. TAPI YAH gw lebih memilih diem, tetep jalan sama dia. Ketawa ketiwi as usual. Mungkin kesannya FAKE, tapi coba deh lo liat dari kacamata lain.

Misal gw langsung komen penampilannya. Apa yang terjadi? Yes, she will hate me caused me make her uncomfortable. NGGAK PEDE. Dan itu salah siapa. Pertemanan jadi rusak, dia jadi sebel sama kita. So, for me, YASSS, if you dont like something, think your words. A thousand times.

Wednesday, November 8, 2017

MPASI BABY KELANA

Tepat tanggal 15 October 2017 lalu, anak gw akhirnya start buat MPASI juga atau istilah non-medis nya adalah "MULAI MAKAN".  Dan, setelah minta saran sana sini, gw menyimpulkan beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum start MPASI. Which is I'm sure, not all mum just agree with what I do, but here they were...


  • TENTUKAN HARI MEMULAI MPASI


kata beberapa pakar MPASI, memang betul MPASI sebaiknya dimulai 180 HARI setelah bayi lahir, JIKA BB nya mencukupi. Tapi sah-sah aja kalo mau mulai lebih cepat dengan alasan BB booster (menaikkan Berat Badan). Anak gw sebenernya nggak pernah ada di tepat garis Hijau KMS (Kartu Menuju Sehat) untuk masalah BBnya. Dia selalu 80 % ideal, which is menurut gw cukup. DSA nya pun juga menganjurkan untuk memulai MPASI di saat dia sudah 6 bulan, nggak usah terlalu cepet, nggak usah terlalu lambat. Dan anak gw bahkan memulai di saat dia tepat di usia 6 bulan, bukan maju 5 hari seperti kebanyakan orang karena mereka menghtung 180 harinya secara tepat.
  • PERSIAPKAN PERALATAN
Lebay sih, tapi mengingat keuangan keluarga kecil gw yang harus pinter diatur sana sini demi dana Sekolah dan Liburan, gw bahkan udah mencicil peralatan MPASI anak gw sejak dia usia 3 bulanan. Peralatan macem apa sih yang gw siapkan, well nanti gw bahas di postingan lain yak. Mengingat banyak banget dan gw habis dana almost 2 jutaan dan terbagi dalam beberapa fase pembelian sejak si bayi usia 3 bulan hingga dia menginjak usia 6 bulan.
  • BACA BUKU, KALO MALES, NANYA ORANG YANG UDAH PENGALAMAN
Gw sih dua-duanya. Buku juga gw minjem, gak beli. Gw baca abis dua teknik metode MPASI, yang lagi HITS tentunya gara-gara Bayinya si Andien artis itu yaitu teknik BLW dan yang kedua adalah teknik konvensional. Dari situ gw belajar banyak hal, dan juga tetep konsul sama dsa anak gw, sodara gw, ipar gw, nyokap, mertua, dsb. just for sharing and choosed the best way for her.
  • SUSUN JADWAL
H-START MPASI sebaiknya atur jadwal makan dan mau dibuatin apa. Biar gak bingung dan keteteran. Trus juga kalo bisa sih ke pasar/supermarketnya beberapa kali aja, jadi lo bisa belanja sekaligus untuk beberapa hari. Ini sih berlaku banget buat IBU TANPA ART kaya gw, yang mana, mendayagunakan waktu dan tenaga seefisien mungkin. Sehingga masih ada sisa tenaga untuk ngurus anak dan (kalo bisa) SUAMI.
  • TEKADKAN DIRI
As a mother, new mother lagi kaya gw, belajar itu setiap hari. Bahkan untuk belajar bahwa gw sudah menekadkan diri anak gw harus belajar makan pelan-pelan, jangan terburu-buru. Jangan pengen anak langsung bisa makan, itu NGGAK MUNGKIN. seminggu pertama malah anak gw banyakan main daripada makan. Bahkan dia bisa ga makan sampe habis. Tapi ya udah, gw santai aja. toh namanya juga MPASI (Makanan Pendamping ASI) yang mana gw tau ASI tetep menjadi supply utamanya sampai umur 1 tahun. So, I guess I dont need any other milk tho.

Cuma itu sih persiapan batiniah gw buat menyambut Baby Kelana mulai makan. Gw juga nggak yang STRAIGHT banget. Jam makan anak gw juga sampe sekarang masih amburadul, yang penting sehari 2 kali dan 3 kali snacks. Itu pun kadang kepotong dia maunya main, maunya denger lagu favoritnya, atau bahkan molorrr. Jadi buat gw pun jadi IBU nggak harus idealis yang penting Anak Happy aja.






Friday, September 29, 2017

Kenapa Baby Kelana Gak Punya Instagram?

Bukan cuma temen-temen gue, tp tnyata banyak banget mak-mak sosmed masa kini yang udah kerajinan bikinin anaknya instagram. Gak cm instagram, ponakan gw sendiri malah punya akun facebook. Terus adek sobat gw sendiri adalah seorang selebgram. FYI, mereka masih di bawah 5 tahun loh dan followersnya juga ngalahin gw.

Fenomena ini salah nggak sih? Hmmm, gw sih nggak bisa bilang salah atau benar. Tapi gw pribadi adalah salah seorang yg enggan bikinin anak gw sosmed apapun. Biarlah nanti jika dia mengenal gadget dia sendiri yang buat dan bertanggung jawab sama kehidupan sosmednya.

Jadi akhirnya baby Kelana wara wiri di postingan akun sosmed emaknya. Sama sekali nggak punya akun sendiri. Tapi biarlah, because its doesnt matter at all. Kenapa sih nggak dibikinin sendiri aja? Ini kan akun emaknya, masa isinya anaknya semua (akhir-akhir ini gw jarang posting soal gw malahan).
Well, these were the reason that makes me still didnt want to make it:

1.       BANYAK BANGET PEDOFILIA BERKELIARAN DI DUNIA MAYA

Duh, gw dibilang parnoan sih sama sepupu gw? Kata dia, sepanjang akun sosmednya di private it doesnt matter. Masalahnya gw baru beranak 1 kan, apalah gw ini jika dipostingan akun baby Kelana terlalu nampak seksi dan mengundang para PENJAHAT tsb untuk mengambil foto tanpa izin, menyebarluaskan, disalahgunakan, dsb. MESKIPUN itu sudah di private account dan mereka ternyata menyamar menjadi salah satu followers.

Menurut gw, misalkan elo bikin akun sosmed pun buat anak lo, paling enggak private akun lo jangan public, jadi lo bisa memilih mana yang pantes gw approved mana yang akun gajebo.
Gw sih no comment ya dengan maraknya selebgram anak-anak di zaman sekarang, back to their own parents sih ya. Kalo gw sih engga dululah mengeksploitasi anak gw di sosmed.

2.       NO TIME
Yeah, selain jadi IRT, gw ada blog yang harus gw isi, akun artikel di sebuah media yang mesti gw kelola, online shopping gw dan juga akun sosmed gw sendiri yang mesti gw urus. Even gw eksis di sosmed gw, gw kayaknya udah bener-bener no time untuk ngurus akun lain selain online shop gw.

3.       PUNYA INSTAGRAM (SOSMED) ATAU ENGGAK ADALAH HAK SETIAP ORANG

So, menurut gw, ada beberapa orang yang enggak pakek sosmed (contohnya lakik gw) dia sama sekali nggak punya sosmed selain facebook. Itu pun udah ga pernah diurusin sama dia. Dan setiap kali gw tanya kenapa nggak bikin (instagram misalnya), jawabannya simpel: MALES. Yaaa, for some people socmed isnt a big deal. Jadi gw pikir anak gw juga berhal untuk menentukan sendiri dia perlu sosmed atau enggak.

4.       MENGHINDARI MASALAH HUKUM

Jadi, setau gw, kalo di Amrik sana, ada seorang remaja (anak) belum cukup umur membuat sebuah sosmed, dia kena pasal. Dan yang ditindak itu bukan si anak, tapi ortunya. Itulah kenapa misalkan, kaya artis-artis gitu yang anaknya pada punya sosmed, pasti ditulis “Akun di managed oleh ortu” supaya si anak nggak kena hukum karena punya akun sosmed di usianya yang bahkan belum ada 5 tahun.

So, kalo kalian bilang gw idealis. Yeah, mungkin. Bekos gw skrg adalah a new mum for a tiny little baby in this mean world. Orang-orang bisa dengan mudahnya menjudge elo hanya karena foto. I dont want my baby hear the worst word, paling enggak sampai dia cukup mengerti dan bisa menjaga emosinya untuk nggak marah hanya gara-gara orang bilang: “Kamu jelek ya, kamu hitam ya, kamu gendut ya, kamu kurang makan ya?” endesbre, endesbbre endesbre.



Wednesday, September 13, 2017

Tahu Baxo Bu Pudji Khas Kota Ungaran yang Melegenda


Menikmati kelezatan Tahu Baxo Bu Pudji Khas Kota Ungaran membuat gue selalu teringat pada usaha rintisan Bu Pudji dari nol, saat Tahu Baxo tersebut masih dalam bentuk gerobak dan cuma mangkal di beberapa lokasi yang ramai di Kota Ungaran, sebuah kabupaten di dekat Ibukota Provinsi Jawa Tengah, Semarang. Itulah kenapa Tahu Baxo ini sekarang juga dikenal sebagai oleh-oleh alternatif lain dari kota Semarang, selain bandeng, wingko babat dan juga lumpia.

http://www.semarangcoret.com/2016/01/berburu-tahu-baxo-bu-pudji-di-ungaran.html

Saat itu, gue masih SMP kelas 1, sekitar tahun 2000-an. Gue bersekolah di salah satu SMP Negeri favorit di Kota Ungaran yang memang terletak di tepi jalan raya utama kota tersebut. Setiap siang menjelang sore, mas-mas penjual tahu baso tersebut rajin mangkal di depan sekolah kami, lengkap dengan gerobak yang sudah dilengkapi tahu baso siap goreng, penggorengan, minyak dsb. Gue masih inget saat itu harga 1 buah tahu baso hanya dibanderol Rp 250,- saja. Gue juga inget banget, uang saku gue yang cuma seribu rupiah, bisa mendapatkan 4 buah tahu baxo yang lezat, cocok untuk pengganjal perut saat istirahat atau sebelum kegiatan ekstrakulikuler. Tapi meskipun hits saat gue SMP, ternyata Bu Pudji merintis usahanya dari tahun 1996, saat gue bahkan masih SD.

Tahun 2003, gue yang sudah menjadi siswi SMA di salah satu SMA Negeri favorit kota tersebut juga, yang hanya berjarak 500 meter dari sekolah SMP gue, tahu baxo tersebut masih gue temui dengan menggunakan gerobak. Kali ini si mas-mas rajin pindah-pindah tempat, dari lokasi di mantan SMP gue, kemudian ke depan SMA gue (di sini si mas-mas tersebut mangkal agak lama, soalnya SMA gue bersebelahan sama Masjid Agung Istiqomah, masjid raya terbesar di kota Ungaran saat itu yang lumayan rame hiruk pikuk kegiatan islaminya, termasuk sekolah TK/SD yang berada di dalamnya, ceramah yang diikuti jamaah dan jauh lebih ramai ketika sholat jumat tiba).

Tentunya, tahun berganti harga yang dibanderol untuk buah tahu baso pun meningkat. Hal ini wajar, karena beliau memakai olahan daging sapi yang banyak. Berbeda dengan tahu baso di pasaran yang lebih banyak tepung patinya. Seingat gue, saat itu sudah mulai menginjak Rp 500,- per tahunya. Dan ketika gue naik kelas ke kelas 2, harganya menyesuaikan menjadi Rp 750,-.

FYI aja, keluarga gue lumayan sering memborong tahu baso Bu Pudji untuk acara arisan, pengajian dan bahkan hanya untuk sekedar santap sore, saat kami sekeluarga berkumpul menonton tv.

Menjelang gue kelas 3, gue udah fokus dengan ujian akhir, sehingga gue lebih banyak menghabiskan waktu gue di dalam kelas, dan gue menjadi kurang up date mengenai tahu baxo favorit gue ini. Meskipun di rumah terkadang keluarga gue masih menyajikan tahu baxo tersebut untuk menemani gue belajar. Saat itu, gue dengar Bu Pudji telah berhasil membangun gerai pertamanya sekitar 1 km dari rumah gue. Sehingga konsumen dan pelanggan tetapnya tidak perlu pesan ke rumah beliau (sebelumnya seperti itu) jika ingin membeli dalam jumlah sedikit maupun banyak.

Saat gue kuliah di kota tetangga, sebuah universitas swasta di kota Salatiga, gue kadang ditanya teman-teman kuliah gue, apakah gue dekat dengan gerai jual Tahu Baso Bu Pudji. Gue heran, mereka yang berasal dari daerah lain mengenal tahu baxo kota gue dan bahkan tertarik untuk membelinya dengan menitipkan uangnya ke gue. 

Saat itu gue lumayan sering dititipin tahu baso ini oleh mereka. Seingat gue pula, saat tahun 2006-2007, tahu baso Bu Pudji semakin terkenal. Setiap gue mendatangi gerainya, banyak bus-bus wisata dari berbagai kota mampir untuk memborong tahu baso Bu Pudji. Antrian pun tak terelakkan. Bahkan saat itu pernah dibatasi per satu orang pembeli hanya boleh membeli 2 dus saja karena antrian yang mengular.

Insting bisnis Bu Pudji tak berhenti, beliau mulai menjajakan oleh-oleh khas dari daerah lain yang ikut diletakkan di dalam gerainya, agar pembeli bisa memperoleh alternatif lain selain tahu baxo saja sebagai oleh-oleh. Selain itu, beliau juga menambahkan sedikit area tambahan untuk kedai mie baso kecil-kecilan dengan bahan baku yang hampir sama dengan tahunya, di dalam gerai tersebut.

Saat gue lulus kuliah dan keluarga gue pindah ke Jakarta, sekitar tahun 2010, Bu Pudji beberapa kali pindah lokasi untuk memperluas bisnisnya (masih di kota Ungaran), karena lokasi yang lama sudah tidak memungkinkan dalam hal parkir dan kenyamanan. Saat itu harga tahu baxo Bu Pudji sudah menjadi Rp 2,000 per tahunya. Hal yang lumrah mengingat harga bahan bau utamanya yaitu daging sapi, mengalami peningkatan yang cukup tajam.

https://ksmtour.com/pusat-oleh-oleh/oleh-oleh-khas-semarang/tahu-bakso-pudji-meski-sederhana-namun-lezat.html


Sampai hari ini, 7 tahun kemudian, gue masih terkadang menitip tahu baxo lewat bokap gue, yang kadang masih ada urusan di kota lama gue. Dalam kepengurusan traveling-nya yang lumayan sering bokap gue mengandalkan banyak online booking salah satunya adalah LADITA TOUR untuk mengatur akomodasinya. Di web ini gampang banget untuk semua traveler yang ingin booking pesawat, hotel bahkan rental mobil.

http://www.laditatour.com/
Kalopun setiap traveling, beliau gak sempet beliin keluarganya oleh-oleh, gue sekeluarga mengandalkan online shipping salah satunya di OMIYAGO, sebuah portal oleh-oleh dari banyak sekali daerah di Indonesia. Jadi kalo gue lagi kangen masakan daerah gue, gue tetap bisa menikmatinya. Dan Tahu Baxo Bu Pudji juga ada lho di OMIYAGO, so kalo bokap gak sempat buat beliin gue sebagai salah satu Oleh-oleh Indonesia favorit gue ketika pulang, gue masih bisa order lewat webnya.

http://www.omiyago.com/id/

Monday, August 14, 2017

Menjadi Ibu Rumah Tangga yang Menghasilkan Rupiah Sendiri (part 2)

Sesuai postingan gw sebelumnya di link ini, ada option lain kalo misalkan lo adalah ibu rumah tangga yang pengen menambah penghasilan:

1. IKUT KURSUS
Kursus emang agak mahal sih, tapi coba dibicarain aja sama suami. Mungkin bisa diagendain dan dibudgetin suatu hari nanti. Kursus itu banyak banget macemnya, cuma buat IRT kaya gue, better ikut kursus yang bisa menghasilkan. Contohnya: Kursus Jahit, Kursus Masak, Kursus Baking, Kursus Yoga/ Olahraga, Kursus Desain, Kursus Bikin Kopi, dsb yang kreatif lainnya tapi ketika lo udah selesai kursus minimal lo bisa membuat produk sendiri.
Kaya temen gw, dia ikut yoga waktu hamil, pas udah lahiran, ada training Yoga di Bali dan dese ikut. Sekarang dia buka Yoga khusus Hamil (Prenatal Yoga) sendiri di rumah yang bisa diatur sendiri waktunya.
Atau nyokap gw, yang abis pensiun masih pengen mengisi waktu luangnya yang bermanfaat, beliau nggak kursus secara resmi, tapi dese ikut tutorial ngejahit via internet, buku dll, akhirnya sekarang dese buka usaha pesanan handicraft gitu buat souvenir nikahan. Kalo lo minat bisa hubungi gw yah hehehe.

2. BROWSING INTERNET
Kalo browsing jangan gosip atau stalking kehidupan orang lain mulu. Coba cari kesempatan yang bisa membuat keahlian lo terpakai. Misalnya kaya gw yang suka nulis ya udah gw daftar aja di freelance yang bikin2 artikel gitu. Alhamdulillah ada media yang ngasih kesempatan gw buat proofing about my passion gratis pula.

3. IKUT ORANG
Takut memulai, bukan berarti nggak bisa apa-apa. Coba dekatin teman/ saudara yang punya bisnis sudah jalan. Kita ikut aja dia ke mana-mana. Nggak usah ngarep bakal digaji. Ambil aja ilmunya. Kalau udah, cermati baik-baik dan coba bikin bisnis yang minimal sama. Kalau orang yang diikutin keberatan ya nggak apa-apa, coba cari materi bisnis lain, tapi praktekin dengan cara yang sama sama temen lo.
Dulu, temen gw suka ngikut temen gw yang punya bisnis hijab. Kaya waktu kulakan di Tanah Abang, cari supplier, nge-adminin online shop dia, dll. Karena si temennya yang diikuttin ini nggak keberatan untuk buka bisnis yang sama, Eh akhirnya sekarang dese punya bisnis hijab sendiri. Rezeki udah ada yang ngatur, tapi kita harus rajin mencarinya juga.

4. BE CREATIVE
Skill doang nggak cukup. Lo harus kreatif. Contoh ni ye, bisa jahit tapi lo kudu liat pasar sekarang lagi hits apaan buat jadi souvenir. Oh ternyata yang lagi hits tas serut, ya udah lo bisa bikin tas serut, dengan kreatifitas lo sendiri. Misalnya dibuat model-model binatang dsb.

5. JANGAN TAKUT GAGAL
Gagal itu wajar. Tapi dari kegagalan juga kita bisa belajar. Kalau lo takut gagal berimbas pada finansial, coba cari usaha yang non-money oriented. Misalkan dropship. Jadi dropship itu enak, kita tinggal ongkang ongkang orang lain yang bekerja. Bedanya, segi marketing kita harus ditingkatin. Nah, ini yang agak susah. Secara gw juga kurang lihai dalam hal marketing. But, selow aja, belajar aja pelan-pelan.

Jadi, itu beberapa hal menurut gw yang bisa lo dapetin sebagai IBU RUMAH TANGGA (YANG NGGAK) BIASA. Jangan mau direndahin, tetep berpengetahuan luas, belajar setiap hari biar nggak kudet dan jangan lupa merawat diri.

Wednesday, August 9, 2017

Orang-orang Yang (Masih) Hidup di Masa Lalu

Gw adalah salah satu dari sekian banyak orang dari tempat asal gw, sebuah kota di Jawa Tengah, yang memutuskan untuk merantau mencari pekerjaan di Jakarta. Meskipun sebenarnya gw back to my own family sih, karena ortu gw di Jakarta. Dan gw juga yang termasuk dari sekian berapa persennya yang enggan kembali lagi. Even itu for good or bad, setidaknya sampai sekarang.

Kenapa? Well, gw punya masa lalu nggak enak di kota tersebut. Selain itu karir di sana sangat nggak variatif. Mentok-mentok lo jadi PNS, pegawai BUMN, karyawan Bank, perusahaan swasta kecil dan atau pengusaha. Dan gw denger temen-temen gw juga akhirnya lama-lama banting setir ke pengusaha karena pendapatan yang kecil (mungkin) tapi beban pekerjaan yang cukup besar.

Ketika gw akhirnya sadar di Jakarta banyak banget kesempatan kalo lo punya skill, apalagi juga gw sekarang berkeluarga di sini, ya udah gw nggak memutuskan kembali ke sana. Kalo untuk sekedar berlibur bersama anak gw nantinya, mungkin iya, supaya dia tahu akar keluarga besarnya. Tapi kayaknya cuma itu aja alasan gw jika pun gw harus kembali.

Kalo ada yang ngira gw di bully, sayangnya nggak, man. Gw nggak pernah di bully sama sekali. Temen-temen deket gw pun banyak yang ada di sana. Tapiii... kalo bicara masa lalu, gw akan kembali teringat dengan kota menyedihkan yang orang-orangnya susah banget buat move on. Ada yang balik sama mantannya, ada yang musuhan karena mantannya dinikahi sahabatnya, ada yang rebutan rumah, ada yang karirnya nggak naik-naik padahal kerja udah bertahun-tahun, dll.

Dan ketika gw liat pun yaaaa dari sosmed, orang-orangnya masih tetep itu-itu aja, dengan kegiatan itu-itu aja, pembahasan yang ada itu-itu aja. Gw malah jadi berpikir gw nggak akan berkembang sama sekali di sana.

Masa lalu apakah itu? Banyak. Gw meninggalkan cinta monyet gw di sana, cerita berakhirnya sebuah persahabatan yang dibangun atas dasar ketulusan dan membuat gw agak trauma buat punya sahabat baru, dan juga tersangkutnya gw pada urusan keluarga lain yang harusnya gw nggak ikut campur.

Saat gw pindah ke Jakarta, gw bener-bener membentuk pribadi yang baru. Gw yang dulu nggak bisa nyetir, gw paksain buat bisa nyetir. Gw yang selalu jadi follower, bukan trend setter, gw paksa diri gw buat uptodate, biar gw ngga gampang dibodohin orang. Asyiknya membangun sebuah kehidupan baru di kota yang baru jauh dari orang-orang yang lo kenal sebelumnya adalah lo bisa membentuk pribadi baru semau lo.

Saat gw asyik membangun karir gw di Jakarta, beberapa dari masa lalu gw kadang datang, mencecar, menuduh bahkan mengatakan yang enggak-enggak soal gw. Jujur gw kesel banget waktu itu. Kayak gw nggak berhak bahagia dan menemukan kehidupan lain tanpa mereka. Even kayaknya sekarang semuanya berlalu oleh waktu. Mereka akhirnya bersikap seolah nggak ada apa-apa. Ya udah gw pun sama, bersikap seolah gw ngga ada apa-apa juga.

Gw tegasin lagi, gw nggak di bully. Tapi gw pernah kenal sekumpulan orang-orang, yang bukan mengarahkan gw ke arah yang lebih baik, tapi justru malah ke arah yang buruk. Alhamdulillahnya makin ke sini, gw berkeluarga dan udah nggak pernah ketemu, justru ketika ketemu di sosmed lagi, mereka sudah bersikap biasa aja, gw pun jadi netral tentunya. Tapi bukan berarti bisa kembali seperti dulu.

Jadi kalo misalkan ada yang nanyain ke gw, mau balik lagi nggak ke sana? Big No for now. Kecuali udah kepepet banget ya. Kalo masih ada pilihan lain, gw akan membangun kehidupan gw di sini. Where the real home is.

Monday, August 7, 2017

Menjadi Ibu Rumah Tangga yang Menghasilkan Rupiah Sendiri (part 1)

Sejak menikah dan resign, Gw beberapa kali ditanya orang hal-hal berbau pekerjaan (ya iyalah, secara gw sebelumnya cewek pekerja banget yang bahkan kadang bawa kerjaan pulang ke rumah). Jadi, berikut adalah jawaban-jawaban gw tiap ditanya ini itu yang bisa menjadi referensi kalian.

"nggak pengen kerja lagii?" 

Untuk sekarang sih gw belom pengen (yang gw maksud kerja kantoran yah). Seperti postingan gw yang udah-udah, gw pengennya kerja dari rumah. Jadi gw bisa tetep mengawasi pertumbuhan dan perkembangannya si Baby Kelana. Kaya berasa puas gitu gw sendiri yang menyaksikan seluruh tumbuh kembangnya.

"Terus, nggak bosen di rumah terus?"

Bosen, tapi gw selalu inget bahwa ada bocah kecil yang lebih membutuhkan gw dibanding orang lain di luar sana. Gw gak mau egois. Paling nggak sampai Baby Kelana bisa gw ajak keluar ke mall cuma berdua. Jujur ya, gw juga kangen nyetir, kangen macet-macetan, tapi bukan buat pergi kerja, pengennya sih buat jalan-jalan ke mana gitu sama anak gw nantinya. Untungnya Papitom(sebutan suami gw) suka ngajak istrinya keluar tiap weekend. Dan alhamdulillah mall di sini deket banget, nggak harus berkutat pada kemacetan dan puter balik.

"Apa nggak kangen ketemu orang lain?"

Well, gw punya banyak temen senasib kaya gw sih untungnya. Yang tadinya kerja, trus mendadak jadi Ibu Rumah Tangga karena sikon. Jadi gw punya banyak tempat berbagi. Curcol gitu tentang menjadi emak-emak, walopun cuma via chattingan. Jadi tiap kangen ya udah cukup online aja.

"Apa nggak pengen dandan cantik lagi ala karyawan kantoran plus high heelsnya minimal buat suami gitu?"

Hihihi, gw kerja itu sejak usia 22 tahun kalo nggak salah (habis lulus kuliah banget). Sekarang gw usia 28. Resign ketika umur 27 dan jadi Ibu Rumah Tangga. Selama 5 tahun kerja, gw udah ketemu macem-macem orang. Yang baik gw simpen, yang buruk gw udah jarang komunikasi sama mereka. Saat itu gw pun udah sering dandan full make up, high heels, blazer, dll. Tapi ternyata capek juga dandan begitu. Pas kerja di tempat kerja terakhir sih lebih sporty karena perusahaan sepatu. Jadi sekarang gw berubah menjadi dandan ketika kondangan doang. Lagian kayaknya sekarang lagi jaman tampil muda tanpa make up daripada pake make up tebel malah kaya tante-tante. Untung suami gw sukanya yang natural, bahkan kalo bisa tanpa make up sama sekali.

"Terus buat ngisi kegiatan di rumah apa?"

Hmmm, sejak Baby Kelana lahir sampai 3 bulan, gw full cuma ngurusin dia. Bahkan suami gw nggak keurus, untung dia bukan tipe suami yang dikit-dikit minta dilayani. Jalan bulan ke 4 (bulan ini), gw udah mulai nulis lagi secara gw sekarang Freelance Writer di sebuah media. Terus selain itu, gw sebelum nikah ada usaha online shop yang sempet vakum setahun ini gara-gara gw hamil dan Baby Kelana lahir, sekarang gw lagi coba untuk ngebangun bisnis itu lagi.

"Duit bulanannya gimana?"

Untuk sekarang gw masih ngandalin suami gw. Dua job rumahan itu belom bisa jadi pegangan kehidupan gw seutuhnya. Tapi, gw sih optimis bisalah suatu hari nanti dua job rumahan gw cukup bisa menghasilkan. Jadi, gw rasa buat lo yang punya passion di bidang lain dan kekeh jadi IRT, bisa kok dicoba. Selain online shop, ada kok kaya usaha kue, usaha minuman kemasan, makanan beku, justru sekarang lagi hits banget, atau silahkan aja ikut kayak bazaar gitu atau via gofood, lumayan membantu loh.

Semua hal itu dimulai sejak 0. Nggak bisa langsung besar. Kecuali warisan, hehehehe. Jadi kalo sekarang gw ditanya apakah gw akan kerja lagi? Ya, gw akan kerja lagi, tapi di rumah, sambil ngejaga amanah yang udah dititipkan ke gw dan suami, si Baby Kelana.

Saturday, August 5, 2017

Finally, I am a Freelance Writer!

Jadi, passion gw dari dulu itu nulis. Mungkin emang pada dasarnya gw orang yang nggak bisa basa-basi, jadi yaaa penanggapan gw terhadap sesuatu itu selalu lewat tulisan. Beda sama orang yang emang dasarnya cas cis cus gitu sama orang lain, gw biasanya dikenal lebih pendiem saat pertama kenal sama orang tapi nggak bisa diem di pertemuan ke 2, ke 3 dst. That's why panggilan masa remaja gw adalah "Jutek". Soal sejarahnya gw dipanggil gitu, ntar gw bahas di postingan khusus yaaaa.

Nyokap gw, dari masa remaja emang suka baca novel Enyd Blyton, Laura Ingalls Wilder dan Agatha Christie sampai dese hamil gw dan kakak gw, hobi tsb tetap berlanjut. Believe it or not, Hobi dese nurun ke kakak gw dan juga gw. Dari kecil kita bahkan udah biasa baca novel yang isinya cuma tulisan dan gambarnya dikit-dikit doang sedangkan para anak kecil lain masih baca Candy-candy dan Doraemon. Komik begituan gw bisa lahap baca maks. satu jaman kalo menarik. Kalo boring ceritanya, bisa 2 jam.

Image result for buku enid blyton
Sumber: https://blognyamitra.wordpress.com/tag/enid-blyton/

Mungkin, itu yang membuat imajinasi gw berkembang. Dan waktu SD gw udah suka nulis cerpen-cerpen ala-ala detektif, percintaan bahkan horor. Berlanjut sampai SMA, di mana gw sampe bisa nyabet 2 penghargaan nasional sekaligus di tahun yang sama. Kalo nggak salah tahun 2004 waktu itu.

Trus, waktu masa gw SMA juga, blog mulai ngetrend, apalagi dengan diterbitkannya blog milik Raditya Dika yang diberi judul KAMBING JANTAN. Even gw ter-Inspired, gw baru benar-benar mempunyai blog sendiri untuk nulis itu di tahun 2011. Dan domain .com pun baru gw published di tahun ini.

Image result for kambing jantan edisi pertama
Sumber:https://jualbukudankomik.wordpress.com/2012/04/08/kambing-jantan-raditya-dika/

Gw inget, waktu gw lulus kuliah, gw pernah ngelamar jadi penulis di salah dua media terbesar di Indo. Pede abis, masih idealis, ngikutin keinginan dan berbekal piagam penghargaan nasional gw. Ada yang manggil gw buat seleksi tapi sayangnya  gw nggak sampai tahap akhir, mengingat ijasah gw adalah ijasah anak IT, which is ujung-ujungnya gw ditawarinnya bukan di bagian redaksi, tapi malah ke bagian IT karena ijasah gw yang nilainya bagus (Sombong? Dikitttt....)

Tahun 2011-2015an Gw yang mulai disibukkan sebagai karyawan di perusahaan xxx, beberapa kali sempat ngeblog, trus enggak, trus ngeblog lagi, begitu seterusnya. Lo bisa liat kalo di tanggal posting itu loncat-loncatnya random banget. But yeaaah, nulis masih menjadi pasion utama gw sebenernya.

Sampai akhirnya gw kemarin liat iklan dicari penulis lepas di sebuah media online. Ya iseng gw daftar, toh sekarang gw udah jadi Full time mom dan juga buka usaha online shop kecil-kecilan barang preloved sama temen deket gw. Lamaran gw kirim dan katanya baru dikasih tau keterima atau nggak maks. 48 jam kemudian.

Eh tapi ternyata 24 jam kemudian ada email masuk dan gw dinyatakan diterima. Secara resmi gw udah jadi freelance writer buat mereka. Dan diharuskan nulis artikel paling nggak setelah 7 hari gw dapet email notifikasi gw diterima. Alhamdulillah....

Gw harap kemajuan gw dibidang tulis menulis ini terus berlangsung sampai gw bisa menerbitkan karya sendiri. Gw inget banget gw perna dikomen sama salah satu wartawan "Suara Merdeka" bahwa gw suatu saat harus bisa nerbitin novel sendiri. Sampai saat ini gw cuma bisa mengaminkan hal tersebut.

xoxo.

Wednesday, August 2, 2017

MENGHADAPI BOS YANG GALAK

Dari 6 kali pindah perusahaan, gw punya 3 bos yang galak. Itu tandanya hampir 50 % gw bekerja, gw mendapatkan Bos yang "GALAK" tersebut. Sama kaya ortu, bos itu nggak bisa milih.

Waktu interview pun jarang banget gw langsung ketemu Bosnya. Kadang cuma selevel Manager atau Spv nya aja. Kalopun ketemu, itu kan mereka lagi butuh karyawan, jadi menurut gw bisa aja para Bos ini menyembunyikan sifat aslinya 😈😈😈.

Nah, berhubung gw sekarang adalah Bos dari diri gw sendiri dan bukan menjadi bawahan orang lain, gw akan berbagi tips gimana gw dulu menghadapi bos-bos gw yang level galaknya masih wajar sampai tingkat tinggi. Di mana pas gw resign pun, gaji akhir bulan gw bekerja di situ, nggak pernah dibayarkan. Btw, ini galak apa jahat ya. Kok beda tipis?😯

So, inilah tips menurut gw, menurut gw lho ya, kalo mau diikutin oke, nggak juga gapapa sih.

1. SEBATAS PROFESIONALISME SAJA
Kalo galak, siapa sih yang betah lama-lama sama dia? Gak ada. Takut sih iyes. Hormat juga kagak. Yang ada di belakang kita pasti maki-maki. Nah, untuk orang seperti itu, gw selalu bersikap profesional aja. No friendzone, No Heartbreaker. Ya udah, gw kerjain apa yang ditugasin si Bos dengan kecepatan biasa aja. Kenapa? Biasanya bos begini nih, kalo ngerjain kerjaan cepet-cepet, bakalan ditambahin kerjaan baru. Nggak ada istilah curhat-curhatan. NO. BIG NO ngomongin masalah pribadi. Ya udah sebatas bos sama karyawan aja. No hangouts, no follow-followan medsos, no chatting di luar masalah kerjaan.

2. BERHENTI BANYAK BERHARAP
Bos yang galak, beberapa ada yang kayak mantan bos gw, nggak mau anak buahnya berkembang. Atau dengan kata lain lebih baik / maju dari dia. Jadi ketika ada kesempatan buat anak buahnya berkembang, jarang diikut sertakan. Bilapun iya, itu sekadar ngisi formalitas dari HRD aja, daripada kena tegur. Jadi, menurut gw, kalo misalkan lo dapet bos tipe begini, ya udah pasrah aja. Kalo ada training disuruh ikut ya ikut, kagak ya ga usah ikut. Nggak usah berharap atau berekspektasi terlalu banyak. Termasuk masalah kenaikan gaji. Gw pun nggak pernah berharap gaji gw naik. Kalopun gw nggak puas ama gaji gw saat itu, simpel. Pindah divisi kalo ada kesempatan atau pindah perusahaan sekalian.

3. KALO DIA SALAH, TEGUR AJA, TAPI NGGAK USAH NGOTOT
Terlanjur takut dan benci, buat kita segan atau males menegur waktu tau bos kita melakukan sesuatu yang salah. Eh, tapi apa lantas terus dibiarin? Jangan. Kesenengan dia. Bos ngga selalu benar. Terkadang, usia, beban tanggung jawab pekerjaan membuat dia justru lebih banyak melakukan human error. Kalo gw, gw tegur, kadang gw sindir, tapi ya itu gw tetep selow aja. Nggak usah pakek ngotot atau nada tinggi. Biasa aja. Keep your heart warm. Kalo kita pakek ngotot, kita juga yang bakalan rugi. Udah nguras tenaga, bikin bete, ngerusak mood dan menambah penyakit hati lainnya. Paling juga dia sebenernya tau kalo dia salah meskipun dalam bibirnya dia bilang sama lo: "Tau apa kamu???"

4. AMBIL CUTI
Apabila kamu udah ngga betah sama dia, tapi masih butuh pekerjaanmu, cek sisa cutimu. Ambil cuti sehari dua hari. Keluar kota. Block contact dia sementara waktu. Tapi jangan matiin HP seluruhnya, karena kamu harus tetep berkabar dengan keluargamu. Pas balik kantor lagi, baru unblock dia. Kalo dia nanya kenapa nggak jawab call/ chattingannya dia, gampang jawabannya: "Di desa nggak ada sinyal, Bos😎"

5. CURHATLAH DENGAN ORANG YANG BENAR
Kadang, saking keselnya, gw pun udah nggak tahan banget pengen curhat sama siapa gitu. Tapi inget, tahan semampumu. Jangan pernah curhat dengan rekan satu kantor. Why? Kata sohib gw si Monna, (HRD something di suatu perusahaan), curhat dengan rekan sekantor itu bahaya. Kita nggak tahu hubungan pertemanan itu murni apa enggak. Takutnya disalah gunain. Takutnya curhatan lo malah diomongin ke orang lain lagi, berentet sampai akhirnya bosmu tahu. Jadi, kalo curhat, back to your family first, kalo misalnya keluargamu jauh, bisa sama teman sekosan (yang gak sekantor), sahabat di akhir pekan, pacar atau siapa saja, asalkan bukan rekan kerja lo.

6. TIAP KALI DIA MARAH, DENGERIN BAIK-BAIK
Setiap orang punya masalah. Bos kita juga. Kadang itu yang membuat mood dia buruk di kantor. Jadi kalo dia lagi marah-marah nggak jelas. Cuek aja. Dengerin. Tar juga dia yang capek. Yang penting bukan kita yang capek 😎😎😎.

7. LAPOR KE HRD dan atau POLISI APABILA ADA UNSUR PIDANA
Kalo dia bawa-bawa ras, suku atau agama buat menyerang lo. Lapor ke pihak yang benar. Di sini HRD yang berperan penting sebelum lo ke polisi. Karena kalo DIA marah-marah udah bawa-bawa hal tsb di atas, itu udah nggak benar. Itu udah mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Wakakakak, lebay. Tapi kalo misal HRD atau polisi nggak bisa kasih solusi atau lo males ribet, ada baiknya lo mulai perbaiki CV lo dan hunting pekerjaan lain.

8. RESIGN
Gw adalah salah satu dari sekian juta orang yang nggak bisa punya Bos killer. Untuk itulah ketika gw akhirnya berhenti bekerja dan jadi Full time Mom, gw sudah mempertimbangkan banyak hal. Diantaranya mencari passion lain selain menjadi bawahan orang lain yang bisa menghasilkan uang. Nah, buat lo yang masih butuh pekerjaan, ada baiknya berpikir pekerjaan lain. Mungkin kalian berdua (LO dan BOS) nggak jodoh aja. Sesimpel itu. Tapi kalo lo masih berpikir, gw masih bisa tahan, gw masih butuh uang, gw bertahan dulu sampai dapat yang lebih baik, ya sah-sah aja. Nggak papa tetep di situ, di bawah bos tsb. Balik lagi, semua orang punya batas kesakitan yang berbeda-beda. Punya tujuan yang berbeda-beda.

Akhirnya itulah beberapa tips dari gw menghadapi bos yang galak. INGET, LO JUGA MANUSIA, LO BERHAK BAHAGIA. DAN BAHAGIA ITU LO YANG TENTUKAN, BUKAN BOS LO. Dan satu lagi, sebuah perusahaan itu nggak terdiri dari bos saja. Ada karyawan biasa. Jadi semuanya mesti berimbang. Bukan saling menjatuhkan. Tapi kenyataannya emang nggak semudah itu sih. Itulah kenapa gw akhirnya memutuskan menjadi entrepreneur.





Tuesday, August 1, 2017

Desain Baru dengan Canva

Yay, akhirnya desain baru blog gw jadi juga. FYI, gw desain sendiri, pakek aplikasi online yang namanya Canva. Disitu udah disediain macem macem gambar dan tools yang bisa di drag and drop semau kita. Ada theme yang free ada juga yang berbayar.

Berhubung gw nyari tema "Tomat" sesuai tema baru blog gw ini, mau gak mau gw mesti bayar icon gambar tomat yang mereka sediain. Gak mahal kok. Rata-rata seharga 1 USD aja per item.

Kenapa gw ganti desain? Well, gw udah berkeluarga sekarang. Dan nggak mungkin dong tema gw masih ke-alay-an ala-ala fashionista gak jelas (desain gw sebelumnya). Sekarang gw bikin yang lebih eye catchy dan simple, yaaa tetep gw sesuaiin sama pribadi gw lah .

Selain itu, blog gw lebih ke arah family sekarang, pandangan gw terhadap sesuatu, curcol masalah menjadi New Mom, yaaa gitu-gitu deh. Udah capek bahas soal masalah gw di masa lalu. Tapi kalo misalkan gw harus BAPER lagi, ya udahlah ya, nikmati aja 😂😂😂 .

Okelah, gw udah capek nih nyetting sana sini dari tadi dan yaaa, Baby Kelana a.k.a si Tomat masih tidur sih sebenernya. Cuma gw capek liatin komputer mulu (Usia nggak boong cyiiin!!!!😥😥😥😥)

See you around!

Tuesday, July 25, 2017

Baby Kelana dan Toddie Baby Spa

Di hari H, gw bertiga dateng kecepetan. Harusnya jam 12 kan bookingnya, eh malah jam 11 seperempat udah di TKP. Mbak resepsionis sampe komen: "Duh, Bunda, cepet banget datengnya..."

Yaaaa gw tu orangnya mending kecepetan daripada telat kalo urusan janjian ama org lain. Apalagi masalah bookingan jasa begini. Kan gak enak kalo ada customer lain gw nya dateng telat. 😂😂😂

Akhirnya kita ber3 nunggu di mobil, seperti biasa suamik mah main games di hp mulu, kalo gw mah baca artikel yang bermanfaat. Biar dikata IRT ga kudet masalah informasi terkini. TSAH!

Menjelang pukul 12, gw bertiga balik ke dalem Toddie. Ternyata terapis yang bakal megang Baby Kelana dah kelar urus bayi sebelumnya.

Oya, kalo lo pake voucher diskon dari Fave seperti gw, alangkah baiknya ngasih info ke mbaknya pas baru dateng di resepsionis, jangan pas pulang. Biar dia bisa swipe voucher kita sesuai aturan yang ada di APlikasi Fave.

Terapisnya ngajak gw bertiga naik ke lantai 2. Lantai 1 sih isinya selain resepsionis, ada beberapa barang jualannya toddie. Ada pakaian2 bayi, sepatu2 bayi sampai mainan juga ada. Harganya sih standard lah, gak mahal2 banget dibanding di mall. Selain barang jualan juga ada ruang tunggu dan area permainan anak.

Di lantai dua, ada ruangan buat swimming yang berisi dua bak dan ruangan buat pijet yang berisi 4/5 matras. Jadi, yg gw denger, di MOM N JO itu malah tiap bayi dikasih ruangan sendiri-sendiri termasuk kolam di ruangan pribadi.

Kalau di Toddie jadi satu sama bayi lain. Kalo gw pribadi sih ga masalah. Justru gw lebih suka ramean biar si Bayi Kelana ketemu muka orang baru. Gak cuma mak sama bapaknya mulu.

Sebelum swimming, si Bayi Kelana diajak ke ruang pijet dulu, dilucuti bajunya dan dikasih pemanasan. Awalnya sih doi udah merengut mau nangis, tapi berhubung si terapisnya lembut, doi ga jadi nangis tapi liatin gw mulu. Seakan protes: "MAK, GW MAU DIAPAIN?"

Sesi pemanasan selesai, doi diangkut sama terapis ke area swimming. Luas Kolamnya sih standard lah kaya baby spa pada umumnya. Kira2 1m x 1 m. Diisi air hangat (bisa request air dingin). Dan juga diisi bola2 plus mainan2 gitu deh.


Abis gt, si terapis dudukin si baby Kelana di pinggir kolam, gue amazed banget, ternyata Baby Kelana udah bisa duduk tegak, even masih dipegangin yaaaa... tapi dia udah gak lunglai gitu loh. Kuat menopang badannya sendiri.

Akhirnya gw bisa mematahkan anggapan orang2 bahwa anak gendut (Meskipun Baby Kelana tembem gitu, sebenernya dia malah hanya 50 % ideal dari BB seharusnya, tapi entah kenapa semua orang selalu ngatain doi gendats, mungkin gara2 pipinya 😂😂😂) susah buat tumbuh kembangnya agak lambat.

Sorry to say ya, tumbuh kembang tuh bukan karena badannya segede apa bisa cepet atau lambat, tapi serajin apa orangtuanya kasih stimulasi.

Skip, akhirnya si terapis makein Baby Swim Ring di leher Baby Kelana. Gw dan suami sama sekali gak ikut campur prosesi apapun. Alesannya, gw mau membiasakan Baby Kelana dipegang orang lain selain gw, dan biar dia mandiri aja gitu. Gw cuma mendampingi aja. Males jugakalo gw ikut campur, dikata mak2 rempong nanti.

Setelah Baby Kelana dirasa safety, si terapis masukin Baby kelana dengan dicelupn kaki2 nya dulu. Baru seluruh badan. Proses swimming cuma 10 menit, jadi gw dan suamik cuma mendampingi sama videoin dia aja yang gak rewel sama sekali. Video ada di IG gw @destianasekar kalo mau liat.

Setelah renang ke sana ke mari, Baby Kelana diangkut, dihandukin trus gabung sama bayi2 lainnya di sesi pijet di ruang pijet. Saat itu cuma ada 1 bayi yang baru dipijet. Selama pijet, Bayi Kelana juga gak rewel, malah sendawa ama kentutin si terapis beberapa kali. Bahahaha.

Keselnya, di pertengahan sesi, ada bayi lain masuk. Udah agak gedean, karena dia udah bisa duduk. Tapi, yang nganterin dese seRT. Mulai dari nanny nya 2, omanya, mak sama bapaknya. Itupun dia nangis kejer kaga mau dipijet samasekali. Padahal dia dikelilingi orang2 yang actually ada di rumahnya.

Lah Baby Kelana, cuma ditemenin Mak sama Bapaknya doang. Bapaknya juga nemenin enggak nemenin orang main games mulu. -_-

Bayi tsb, nangis sepanjang sesi pijet. Baby Kelana melongo aja liatin tuh Bayi. Sempet mau ikutan nangis juga, tapi gw alihin perhatiannya sama si Parker, boneka monyet kesayangan Baby Kelana yang doi bawa kemana2. Akhirnya kaga jadi nangis, malah ketawa2.

Si Bayi tetangga yang super rewel n crangky abis itu dibawa keluar, kayanya lagi diredemin emosinya sama si bapak n nanny nya.

Intinya selembut apapun terapis, ga jamin si bayi bakalan seneng dipijet. Sebanyak apapun orang yang nemenin dia, juga ga jamin dia seneng di pijet.

Setelah 30 menitan, si terapis mengakhiri sesi pijet dengan menimbang BB baby Kelana yang ternyata udah di angka 5.540 kg. Alhamdulillah naik banyak, kemarin pas terakhir nimbang 5.300an kg.

Setelah itu di mobil, perjalanan pulang, Baby Kelana minta nenen, gw nenenin sampe di rumah. Kata nyokap gw, kalo abis dipijet bayi suka tidur pules.

Kalo hari itu, gw ga tau bener apa gak, tapi si Baby Kelana udah pules dari jam stgah 7. Dan baru bangun minta susu lagi jam 11an gitu deh. Abis gitu standard aja 2 jam skali bangun minta susu lg.

Fyi aja, Baby Kelana selama ini sih tidur selalu pules. Kecuali lagi Growth Sprut Fase (appan tuh mak? Google aja sono!). Jadi gw jg ga bisa garansi bahwa perkataan nyokap gw itu benar apa gak soal bayi tidur pules setelah dipijet.

Friday, July 21, 2017

Booking Toddie Baby Spa Gading Serpong


Jadi, Baby Kelana sudah memasuki usia 3 bulan dan sudah bisa angkat2 kepala juga. Secara milestone perkembangan dan pertumbuhan bayi, doi normal. Gak kecepetan dan ga kelambatan. Sesuai yang gw mau. Gw gak mau paksakan dia berkembang kecepetan meskipun gw tetep kasih doi stimulasi sesuai buku yang gw dpt dari adik gw terbitan Rumah Dandelion.

Dan karena itu, gw akhirnya mutusin doi buat baby spa. Setelah banyak pertimbangan dan browsing sana-sini. Gw akhirnya daftarin Baby Kelana ke Toddies Baby Spa Gading Serpong. Dengan pertimbangan harganya lebih murah dari Mom n Jo, branches satu lagi yang lebih terkenal.

Secara review, banyak yang rekomendasiin di Mom n Jo, apalagi adik2 gw juga pakek jasa mereka untuk baby spa. Tapi, berhubung gw harus pandai2 ngatur duit Rumah Tangga gw yang notabene sekarang cuma ngandelin satu pemasukan aja, ya udah gw coba untuk makek jasa Toddies Baby Spa dan kebetulan juga gw bisa dapet voucher diskon di aplikasi Fave.

Untuk Baby Spa (organic massage n swimming) di Toddies Baby Spa harus booking maks. 1 hari sebelumnya, karena terapisnya terbatas. Jadi karena Baby Kelana mau Baby Spa di hari Sabtu, gw booking di hari Kamis. Kalo udah Jumat, gw kebiasaan kebanyakan lupanya.

Setelah booked, gw nanya ama mbak2 Toddies Baby Spa nya kalo buat swimming, apa syarat utamanya? Ternyata selain usia minimal 3 bulan dan BB minimal 5 kg, kepala si bayik harus bisa angkat2 jika posisi tengkurap.

Gw sih pikir, amanlah si Baby Kelana udah memenuhi persyaratan itu. Akhirnya gw pun booking Baby Spa di jam 12 karena cuma jam itu yang kosong. Gw ga tau ya, kalau di Mom N Jo gimana, apakah bisa langsung datang atau booking dulu.

Jujur aja gw jg ga tau kalo Baby Spa itu harus pakek baju renang apa enggak. Kalo postingan temen2 gw sih anak2nya pada bebugilan. Kalo adik gw, anaknya dikasi baju renang bayi. Karena gw juga ga punya baju renang, ada sih sebenernya, dikasi sama salah satu Grand Ma nya si Baby Kelana, tapi masih kegedean, jadi ga mungkin dipakek juga, ya udah kayanya besok gw bugilin anak gw aja.

Untuk review di Toddies Baby Spa gimana, gw posting di next post ya....

New Domain, New Diary

Welcome Back!

Well, akhirnya gw punya domain! Setelah jadi blogger aktif pasif selama kurang lebih 7 tahun, akhirnya tahun ini gw memutuskan untuk punya domain. Why baru sekarang? Gw juga ga tau kenapa tiba-tiba keinginan gw untuk menulis tumbuh lagi mengingat gw skrg sudah menjadi Full Time mom buat Baby Kelana.

Yeah, tahun 2016 kemarin banyak titik balik dalam hidup gw yg mengharuskan gw untuk menjadi Full time Mom, not a Carrier Wife (karena waktu itu gw blm hamil dan yeah good bye for good untuk masa2 ditindas makhluk bernama "Boss".)

Punya domain, ga lantas gw langsung bisa makeknya, kudu setting dulu. Dan penyettingan ini lumayan mengorek sisa-sisa daya skill IT gw yang telah terkubur tanpa sengaja di dalam rongga2 otak gw, ditimbun oleh rumus akuntansi, nama2 material dan sparepart, yg jauh dari gelar sarjana gw di tahun 2010. Njiirrr... lama banget yak.

Selama berhari2 gw dibantu suami gw (yap gaes,gw finally married dengan cowok yang ada di blog gw kemarin2 dulu) tapi gagal terus karena ternyata setting blogspot pindah ke .com(domain yang gw beli) susah2 gampang meskipun tutorialnya tersebar di google.

Semoga aja dengan adanya domain baru gw, gw makin rajin menulis mengingat status baru gw selain jadi mamak buat Baby Kelana, gw gak ngapa2in di rumah tiap suami udah berangkat kerja.

Its true, meskipun gw adalah tipikal yang enjoying doing nothing tapi kadang pengen mencurahkan isi hati gw ini entah kepada siapa, karena hampir semua mamak di dunia mengalami hal yang sama kali ya ma gw.

Daripada gw curcol ga jelas sama temen2 cewe gw yang status wanita karirnya lebih banyak dibanding Full time mom kaya gw, mendingan gw nulis aja. Biar bisa jadi diary perkembangan kehidupan gw juga apalagi gw udah kena sindrom emak2 di rumah yang gampang hilang ingatan tentang sesuatu.

Si suamik sempet nyaranin kenapa gak ngevlog aja? Kan lagi rame tuh di youtube. Hahaha. Mana bisa gw. Gw bukan tipikal yang bisa ngomong cas cis cus di depan lensa kamera.  Apalagi tar muka gw bakalan diliat seluruh Indonesia dan belom tentu mereka suka.

Kalo ga suka, mereka akan jadi hatters dan komen jahat2 di vlog gw. Ga mau dan gw ga sanggup untuk menghadapinya. Salut buat vlogger2 yang bisa tahan makian orang ga dikenal di dunia maya.

Btw gaes, gw liat desain blog gw dah jadul banget yak. Ini dulu gw desain sendiri, ngutek2 cms ama htmlnya. Gw pengen ngubah desain blog gw ini lebih simpel lagi. Moga2 gw masih ingat codingannya, yaaa kalopun ga inget jg sekarang apa2 tinggal google sih.

Tunggu yaaa, suatu hari gw akan ganti desain blog gw lebih simpel.

Last but not least. Enjoy every single word I said...