Wednesday, September 22, 2010

I am awake in the infinited cold

Pagi ini, saya bangun pukul lima dan nggak bisa tidur lagi padahal saya tidur hampir jam setengah 2 pagi ngobrol sama cowok saya. Sebuah sms dari sahabat saya, Ridho, langsung membuat saya terduduk di tepi tempat tidur saya. Speechless.

Saya lihat tanggalan. Astaga, waktu berlalu cepet banget. Dan saya terlena dengan liburan saya. Setelah kemaren saya itu bener-bener punya semangat ngerjain. Sekarang kemana semangat ngerjain skripsi saya lagi?

Saya liat diri saya di cermin. Rambut panjang saya masih acak-acakan, muka kucel dan bau. Tapi Sms Ridho berhasil membuat saya miris pada diri saya sendiri. Kayaknya dulu saya sama dia janjian wisudaan bareng, tapi akhirnya dia duluan yang dipanggil sidang skripsi. Saya bener-bener miris ketika dia minta doa. Sms itu nadanya bener-bener seakan-akan nanyain saya, “kapan giliranmu?”

September sudah mau berakhir, dear. Saya harus bangun, dan berjuang. Mungkin sementara saya ngga posting blog dulu. Banyak banget yang harus saya kerjakan. Masukin lamaran saya ke majalah, setelah temen saya minta saya mengisi lowongan field reporter di majalahnya. Saya harus ngumpulin uang buat perjalanan saya bulan Desember nanti. Dan untuk ke Desember saya harus sidang skripsi November. Saya harus bisa dapat jadwal sidang bulan November, mentok-mentoknya bulan Desember. Saya ngga mau mundur lagi. Ini adalah sebuah pembuktian ironis pada Ayah saya yang sok itu.

Well, blog, kalo nanti saya datang lagi, mungkin kamu udah bulukan, dipenuhi sarang laba-laba bahkan berantakan banget. Saat itu saya janji blog, saya harus sudah mau sidang skripsi. Love, you.
xoxo.

NB: Goodluck for my bestfriend, Ridho dan Victor. I’ll be runaway to hold you. Soon.



Dear God....
There's a song that inside of my soul
Its the one that I've tried to write over and over again
I'm awake in the infinite cold
but You sing to me over and over and over again
So I lay my head back down
And I lift my hands and pray to be only Yours
I pray to be only Yours
I know now You're my only hope


Ohya....
btw, saya ada titipan buat nge post :

CERPEN COMPETITION

SO, JUST JOIN WITH US....
kembangkan bakat menulismu hehehehehhehe :)
Good Luck then for everybody of you....

Saturday, September 18, 2010

When I'm speaking at the voice of someone else


There will always be "lie" in believe.

An "over" in lover.

And "end" in friends.

And "us" in trust.

And an "if" in life.







*repost dari Nova Kristya

Thursday, September 16, 2010

Love you lately... :(

Buat sahabat saya, lagu Lionel Richie- Hello, pas banget lho:

Hello! 
Is it me you're looking for? 
Because I wonder where you are 
And I wonder what you do 
Are you somewhere feeling lonely? 
Or is someone loving you? 
Tell me how to win your heart 
For I haven't got a clue 
But let me start by saying I love you

Oke. Postingan agak panjang! Soalnya saya habis dicurhati sahabat cewek saya via messenger. Waktu dia curhat, sahabat saya yang lain, Reynaldi, yang lagi chatting ma saya juga, langsung bilang: “Pasti bentar lagi ada postingan baru. Uhuy.” 

Saya ketawa. Bener yang dia bilang. Curhatan temen saya itu emang bisa dibikin topik baru buat di posting. Tapi saya ngga enak juga kalo belom izin sama yang punya cerita. Jadi setelah berargumen untuk ngga sebut nama asli, yeah, saya pun posting cerita ini. Thanks, for sharing with me, girl!

Sahabat cewek saya, sebut aja namanya Dinda, lagi bingung sama perasaannya. Pertama, dia udah 5 tahunan pacaran sama cowoknya (Wow, 5 tahun, menurut saya, angka yang besar banget untuk sebuah hubungan pacaran). Tapi, dia juga deket sama cowok lain. Kalo deket sama cowok lain sebagai sahabat, saya juga banyak (Iye, info ngga penting!). Tapi, kalo saya liat keknya si Dinda interest sama cowok ini.
Jangan suka meremehkan sesuatu. Sekecil apapun. Bisa saja, ada orang lain yang  berusaha merebut sesuatu yang menjadi milik kita. Maka, jaga apa yang kamu punya sebaik-baiknya.
Saya sebut cowok si Dinda dengan nama Abi dan cowok laennya adalah Beni (Sebenernya saya mau kasih nama samaran A dan B, tapi si Dinda keknya bakalan marah-marah. Akhirnya saya modifikasi A dan B itu jadi Abi dan Beni. :D).

Dua cowok ini tipikalnya beda banget. Tapi kalo saya liat, mereka sama-sama tumbuh di keluarga yang agamanya kuat banget (Dari sini kita tau, tipe cowok pertama Dinda: Agama diri sendiri/ keluarganya kuat.) terus sama sama pake kacamata (Jadi ini tipikal cowok kedua Dinda, harus pakek kacamata) àSumpah saya baca, kok saya Sotoy banget ya, wkwkwkwkkw.

All right. Kita mulai dengan Abi. Hmmm saya sampe buka facebooknya buat ngira-ngira orangnya kaya apa (Finally, sok tau aja deh, bodo amat). Abi tipe cowok yang dewasa banget. Kata Dinda, dia udah sering banget diem-diem main hati sama cowok lain. Tapi kalo Abi sampe tau, dia bukannya mutusin ato gimana, dia selalu tetep ada di sana buat Dinda. Dia selalu berusaha ngebuktiin kalo dia yang terbaik. Kaya seakan-akan bilang: “Silahkan berpaling sama cowok lain, tapi apa iya ada yang lebih baik daripada gue?”

Dan Abi, meskipun mukanya standar (Sorry ya Din, aku jujur banget, wkwkwkwk.). Tapi kayaknya dia orang yang baik banget. Setia pula (Setahu saya, kesetiaan cowok-cowok itu muncul kalo dia mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya. Tapi, pertanyaan saya sekarang, kapan mereka mendapatkan sesuatu yang menurut mereka terbaik?). Mungkin ya, di sini, berarti menurut Abi, Dinda yang sekarang saat ini terbaik buat dia.

Sekarang, orang seperti apakah Beni? Hmmm. Saya kenal juga dengan si Beni. Jauh lebih lama daripada Dinda malah. Sebenernya kita bertiga (Saya, Dinda dan Beni) ketemu di sebuah game online dan kebetulan kita satu guild(*Guild = sebuah komunitas di game online yang anggotanya bergabung berdasarkan tujuan tertentu.).

Jadi, in a fact, saya, Dinda dan Beni sama-sama belom pernah ketemu secara langsung. Kita ketemu di dalam game doang. Akhir-akhir ini kami semua udah saling bagi-bagi messenger sih, jadi tetep bisa keep in touch walo pas lagi ngga maen gamenya. Guild saya kebetulan orangnya seru-seru dan ngga pada kejar level game. Jadi lebih ke cari temen dan sahabat. Thats why I love them...

Back to Beni. Beni ini sukanya godain cewek di mana-mana (Sorry, Din, it’s a fact…). Beda banget sama si Abi kayaknya. Saya aja sering digodain via messenger. Tapi at least, satu-satunya cewek yang dipuji sama Beni sampe bilang: “Subhanallah…” (Setau saya itu ungkapan buat orang Muslim kalo mengagumi sesuatu. Btw, kalo saya salah, bilang ya…) itu cuma si Dinda. Yang ditelepon malam-malam, sampe curhatan Dinda terhenti sama saya, itu lagi-lagi cuma Dinda. Saya tau, kayaknya Beni interest juga sama Dinda.
Cinta diem diem itu seru, apalagi bagian sembunyi-sembunyinya. Tapi sifatnya selalu temporary saja.
Dinda dihadapkan pilihan yang sulit. Beni gencar banget ndeketin. Dan I think, Dinda ngga bisa bilang engga untuk Beni. Mungkin aja, di antara cowok-cowok laen yang pernah sama Dinda, Beni bisa aja jadi godaan terberat buatnya.

Kalo saya liat ya, ini semua tergantung sama orangnya. Kaya saya, saya itu tipe setia (Sial, nggak promosi! Saya cuma jujur. Wkwkwkwk). Beneran. Saya itu bisa jatuh cinta sama orang cuma karena dia menemani saya setiap hari dan kasih cerita lucu buat saya. Tapi kalo waktu itu saya masih ada cowok, saya ngga akan melangkah lebih jauh. Cukup mengagumi saja. Saya coba bikin batas-batas buat diri saya sendiri. Soalnya menurut saya, yang tau batas-batas diri kita itu, ya, cuma kita sendiri kan? Siapa lagi coba?

Soalnya, gini ini jeleknya manusia. Mereka ngga akan pernah puas sama apa yang didapatkan. Cuma, tinggal gimana kita mensyukuri apa yang udah kita punya. Dan saya tau, mensyukuri itu ngga gampang. Kadang, manusia ngerasa apa yang dipunya orang itu menarik daripada punya sendiri. Padahal, coba dekati. Bisa aja justru yang kalian punya sekarang, jauh, jauh lebih dari cukup. Kalian mau minta seperti apa lagi, kalian selalu meminta, dan terus meminta, tapi apakah kalian pernah memberi? Cobalah berpikir dari sisi orang lain sekali-kali.

Dinda secara terang-terangan bilang kalo kejadian ini nggak cuma sekali aja dalam 5 tahun. Makanya saya cuma nanya sama Dinda: “Apa Beni worth-it untuk menggantikan posisi Abi? Apa ada yang bisa mengerti kamu selain Abi? Apalagi kalian selama ini cuma deket via game, telepon, sms dan messenger.”

Kalo jawabannya iya, saya pikir, ada baiknya kamu ngomong sama Abi. Kejujuran itu pasti sakit. Tapi menurut saya lebih sakit kalo Abi tau sendiri atau dari orang lain (Apalagi tau dari tempat yang namanya fb).

Kalo nggak. Mungkin saya pikir kamu sedang dalam keadaan seperti ini, Dinda: “You are thinking that you are falling in love, You are just not really falling in love at all.” Alias Dinda cuma berpikir jatuh cinta, tapi nggak jatuh cinta beneran. Dia cuma jatuh cinta pada apa yang ngga dipunya Abi pada sosok Beni. Tapi hey, girls, nobody is perfect. And that’s why God created people, different each other. And we are, tried to completing each other as one. So take it easy girl, saya tau kamu sudah dewasa untuk mengambil sebuah keputusan.
Love is timeless. Just the human that make it fragile and unfaithfull.

Tuesday, September 14, 2010

A Letter to Juliet :)

Bukan. Saya bukan mau posting soal film barunya Amanda Seyfred, salah satu seleb favorit saya, atau soal tokoh utama di buku sastra karya William Shakespeare, Romeo and Juliet. Judul itu sebenernya cuma kiasan. Hehe, kebiasaan saya, berfilsafah, lagi kambuh.
Ini film juga soal surat. Saya juga penasaran mau nonton. Nanti saya bikin reviewnya deh. 
Kadang, teknologi udah maju seperti ini, masih ada orang tetap menulis surat dengan tangan kepada orang-orang yang disayanginya. Saya ngga pernah menyangka. Saya adalah salah satu orang yang beruntung dan menerima surat dari orang yang berpikiran seperti itu.

Kalian tahu, rasanya beda banget kalo dibanding menerima e-mail, postingan wall di facebook, sms, messenger, twitter (saya ngga tau nama pesan di twitter, ada yang tau?), comment di friendster (jejaring sosial pertama saya), notes kecil yang (dulu) ditempel kakak perempuan saya kalo ngga sempat ngomong sama saya sebelum kerja dan saya masih tidur, atau banyak kartu pos dari Om saya pergi ke Barcellona tahun lalu.

Surat, memang bener-bener mewakili perasaan atau keadaan yang membuatnya. Surat favorit saya tetep dong, surat izin sakit dari dokter, hahahahah. Soalnya saya bisa nggak masuk sekolah, kuliah atau bahkan kerja (kapan saya kerja, btw?) hanya dengan mengandalkan surat itu. Sedangkan kalo ngga ada surat itu, saya dianggap alpha alias ngga ada keterangan.

Orang yang memberi surat kepada saya, orang yang lucu, baik, dan ramah. Dan itu tersirat banget di tulisan dia. Surat itu harusnya sedih, tapi saya malah tertawa-tawa. Gila ya, memang nggak salah para mahasiswa psikolog belajar soal sifat manusia berdasarkan bentuk tulisan tangan. Soalnya, memang tulisan tanganmu itu mewakili bagaimana watak seseorang sebenernya.
Ngomong susah, nulis juga susah. Terus, kapan mau disampaikan?
Surat yang saya terima, cuma satu lembar halaman folio. Penuh dan bolak-balik. Dan kesannya niat banget di tulis buat saya. Saya tahu, kadang-kadang ada hal-hal yang ngga bisa dikatakan lewat ucapan. Seperti saya, makanya saya membuat blog. Seperti orang itu, yang ingin mengatakan sesuatu pada saya, tapi ngga sempat dan emang dia bukan tipe orang yang bisa mengutarakan apa yang dirasakannya sama saya, akhirnya menulis surat.

Ngga pernah ada yang salah dengan menulis surat. Kalo kalian ngerasa ada yang harus dikatakan, tapi kalian ngga pernah bisa katakan langsung karena kalian malu, marah, atau apa,  mungkin tulisan lebih mudah menjadi wakil dari kalian. Buat jaman serba canggih seperti sekarang, buat apa malu. Toh, banyak juga yang masih melakukannya.

So, sekarang, kalau mau, ambilah pena, kertas dan tulislah apa yang ingin kamu katakan pada siapapun yang kamu rasa sulit untuk membuatmu mengatakannya secara terang-terangan. Mungkin memalukan. Tapi, ketika orang yang kamu tuju menerimanya. Kamu tahu, ada perasaan bangga dan senang, menjadi orang yang telah membuatmu susah mengucapkan kalimat secara langsung. Hahahah. Nggak, maksud saya menjadi orang yang menjadi tujuan niatmu menulis. Sebuah perasaan amazing!

Salah satu sahabat saya, yang sudah meninggal sekarang, dulu seneng banget waktu saya jadiin dia tokoh utama cerpen saya ke tingkat Provinsi waktu SMA. Cerpen itu tentang biografinya secara singkat. Tentang perjuangan dia melawan penyakitnya. Dia ngga pernah bilang langsung sama saya sampai dia pergi selamanya, tapi saya tau, dia bangga, waktu saya membuatnya menjadi sebuah tujuan, untuk merangkai kata-kata.

You took a chance to Loving me, but you trashed me away....*Eps.3* THE END

postingan agak panjang lagi...

"Let me go let me walk away, walk away baby
 I can't stay let me walk away, walk away baby
 I'll be fine, I will recover
 And I will learn to love another
 Sometimes goodbye is the hardest thing to say
 So I'll walk away"

Saya nemu lagu itu waktu jalan ke mall, mampir ke toko cd musik, nemu cd barunya Martina Mcbride, trus saya coba setel, saya dengar satu-satu. Pas di track ini, saya berhenti, trus saya ulang lagi. Judulnya walk away. Keknya pas banget buat posting episode ketiga dari “You took a chance to falling love with me, but you trashed it away…”. By the way, akhirnya saya nggak jadi beli cdnya. Tapi malah sepupu saya yang beli. Yo wes, saya copy paste satu album trus saya denger lagi walk away, sambil melanjutkan postingan saya yang ketiga.

By the way, agak sedih juga malam ini. Ini malam terakhir saya dengan sepupu-sepupu cewek saya, soalnya mereka besok udah mulai kembali ke habitatnya. Liburan lebaran udah selesai. Gila, cepet banget ya. Kayaknya baru kemaren saya ngucapin Minal Aidzin sama kalian.

Nggak ada malam perpisahan. Mereka semua tertidur di tempat masing-masing. Semuanya capek habis jalan-jalan sendiri-sendiri hari ini. Cuma saya doang yang masih bertahan, di tengah kantuk, rasa capek dan rasa ingin menyelesaikan postingan saya. Hari rabu saya udah mulai sibuk lagi sama skripsi. Damn, kembalikan liburanku padaku!!!!

Oke, cukup basa-basinya. Menurut saya biar kalian ngga kejebak sama hubungan kayak gini, ada sedikit saran hasil sharing, saya ngga mau bilang tips, soalnya saya ngga ahli juga dalam urusan cinta-cintaan nggak jelas. Here we go!
  1. Dari awal, bedakanlah sebuah hubungan. Hubungan pacaran sama sahabatan itu jelas beda banget. Bahkan isi sms, isi obrolan telepon, isi pembicaraan kalo lagi berduaan, itu beda banget. Hey, kalo niat dari awal sahabatan, pasti juga jadi sahabat. Salah satu atau dua-duanya harus membuat jalur, di mana ketika kalian melewati jalur itu, ngga ada yang harus merasa tersakiti satu sama lain. Kalo sahabat pasti setulus kalimat di lagu I’ll stand by you nya The Pretenders, kaya gini:
“When you’re standing at the crossroads. Don’t know which path to choose. Let me come along. ‘Cause even if you are wrong.”
Bedanya sahabat, dia ada di sana untuk selamanya. 
  1. Kalo udah terlanjur, tegaskanlah hubungan kalian, siapapun, yang udah menyadari duluan ini salah. Sindir-sindir, kasih clue, kasih argument dengan mencontohkan orang lain, dan ujung-ujungnya tanyalah pada dia: “Kalo kita berdua sebenernya ngapain?” Ada dua kemungkinan. Siapkan hati kalian lebih dulu. Siap jatuh cinta, siap kehilangan juga ‘kan? Kemungkinan pertama, dia jawab kaya gini: “ Kamu maunya kaya gimana? Kamu tau kan, selama ini ak sayang sama kamu, bla bla bla bla…” Okey, happy ending stories kalo gitu. Nyeseknya kalo dia jawab kaya gini; “Aku sukanya kaya gini aja…,” hmmm. Helloooo? Kaya gini gimana? Emang ada apa di kaya gini antara kita? Kalo gini sih, udah jelas. Dia sendiri ngga tegas. Just take it, or leave it. Masih banyak cowok/cewek, dear. Kamu berhak untuk bahagia. Dengan siapapun. Pasti ada seseorang, untukmu.
Dengar lagu Avril yang judulnya My Happy Ending deh, saya suka kata-katanya yang ini:

Kamu, berhak bahagia. Dengan siapapun itu.
“It's nice to know that you were there. Thanks for acting like you care. And making me feel like I was the only one. It's nice to know we had it all. Thanks for watching as I fall. And letting me know we were done. You were everything, everything that I wanted. We were meant to be, supposed to be, but we lost it. And all of the memories, so close to me, just fade away. All this time you were pretending. So much for my happy ending.”

  1. Kalo ternyata kamu cuma nomor sekian dari sekian cewek/cowok, jangan pergi dulu. Saya pernah dapat kata-kata bagus dari kaskus, kaya gini:
“If you play a game to me, I play a game too.”

Yup. Jelas banget. Kalo dia mempermainkan kita doang. Jangan tinggalkan dulu. Mainkan juga perasaannya. Kalo perlu sampe dia jatuh cinta beneran. Jahat memang. Tapi berilah pelajaran secukupnya sama dia. Secukupnya saja. Sampai dia mengerti. Setelah itu pergi, dan cari cinta yang lain. Kalo perlu, pamerkan di depan dia. I know, its hurt. Tapi kita manusia normal, kita harus melindungi perasaan dan hati kita yang cuma satu-satunya ini. Siapa lagi yang mau melindungi? Kalo bukan diri kita. Kaya lagu Carrie Underwood di Someday When I Stop Loving You:

“I'll move on baby just like you. When the desert floods and the grass turns blue. When a sailing ship don't need a moon. It'll break my heart but I'll get through. Someday when I stop loving you
Kamu, berhak untuk bernapas lega.

  1. Banyak beramal, berdoa dan jangan tinggalkan orang-orang yang kamu sayangi. Ini sih klise dari orangtua saya, wkwkwkwkwk. Yup, kalo saya sedih, Tante saya selalu menghibur bilang kaya gitu. Dulu saya geli, ngga jadi sedih. Tapi sekarang, saya rasa itu bener banget.
Waktu beramal, biasanya sama orang kurang mampu, kita malah jadi sadar betapa beruntungnya kita. Patah hati doang sih ngga sebanding sama penderitaan mereka. Mereka bisa survive, bisa ketawa-tawa, bisa tegar, padahal mereka serba kekurangan. Sedangkan kita? Just thinking about it, guys. You are lucky, more than that you know.
Berdoa? Well, Tuhan itu sbeenarnya adil. Cuma keadilannya itu selalu ngga diliat manusia dari berbagai sisi. Kadang itu yang bikin kita nggak percaya lagi sama Dia. Kalo kalian patah hati sekarang misalnya, mungkin saja suatu saat nanti kalian akan dapat gantinya yang lebih baik. Sedangkan orang yang udah menyakiti kalian, bisa aja malah belum nemu-nemu jodohnya. Be positive then. Saya tau, kamu bisa.
Jangan tinggalkan orang-orang yang kamu sayangi. Banyak banget itu kan. Ada keluarga, sahabat, kerabat, dan laen-laen. Mereka selalu ada buat kita kok. Hanya saja sometimes, butuh mata lain untuk melihatnya. J
Thats why I love bestfriend so much. And its hard to find them.

Sunday, September 12, 2010

You took a chance to Loving me, but you trashed me away....*Eps.2*

Hollaaaa.... Next chapter, di judul yang sama. Ini tentang si Wiwit.

Wiwit, sahabat saya, dia itu cowok yang baik banget. Terlalu baik banget malah. Saya sama Nova kadang-kadang harus menyadarkan dia kalo kebaikannya udah kejauhan sama orang lain.

Wiwit, dia itu chinesse yang dibesarkan dalam budaya yang menurut saya Jawa banget. Cara berpikirnya, cara dia memperlakukan orang, cara dia mau melakukan sesuatu, dia itu kayak orang Jawa banget. Kata Wiwit, itu pengaruh kakeknya dia. Dan saya udah ketemu sama sodara Wiwit yang lain, cara berpikirnya sama persis sama dia. Hmmm, mereka berdua bener-bener pribadi yang menyenangkan. Saya betah banget ngobrol sama mereka.

Dengan perpaduan dua culture yang keren banget seperti itu, jadilah Wiwit yang saya kenal. Baik banget, ramah, royal, selengekan, humoris, dan kaya saya, dia suka banget jalan-jalan, ke mana aja, murah ato mahal dia nggak peduli. Yang penting jalan.

Sayangnya, Wiwit itu kadang ngga sadar dibegoin orang karena kebaikannya. Yup, masih ada ya, di dunia ini yang memanfaatkan kelemahan seseorang untuk keuntungan dirinya sendiri. Yang kedua, Wiwit itu gampang kepengaruh omongan orang. Prinsipnya agak-agak nggak kuat. (I’m sorry, koh, its true, wkwkwkwkwk….!)

Suatu hari, setelah saya putus, Wiwit termasuk salah seorang yang kasih saya semangat. Niatnya sih begitu. Dia sharing juga soal kisah cintanya yang nggak pernah berjalan mulus. Waktu itu saya geli, dia niat banget mau ngehibur saya dengan ceritanya dia, tapi justru gantian dia yang sedih.

Saya mulai. Mungkin, ini sering banget dialami oleh siapapun atau cowok di manapun.

Ada seorang cewek adik kelasnya SMA yang bikin dia jatuh cinta sampe sekarang. Saya pernah ditunjukkin orangnya. Sebut aja namanya Lala. Cantik, yeah, dia seorang model, tajir banget, dan saya pernah dikenalin sih, orangnya ramah banget. Selama jatuh cinta sama cewek ini, Wiwit udah ngelakuin cara apa aja. Saya ngga begitu jelas udah sampe nembak ato belum. Tapi cewek ini, meskipun ngga nerima-nerima cintanya Wiwit, dia juga ngga ngelepasin Wiwit.
Kaya ni cowok. Wiwit ga mau move on. Kejebak sama cewek yang sama berulang-ulang.
Waktu Wiwit pedekate sama dia, dia enggak ngerespon serius. Tapi, Waktu Wiwit menjauh, dia tiba-tiba ngedeket lagi. Sumpah, nyebelin banget. Wiwit jadi niat pedekate lagi, eh dia ngejauh lagi. Begitu terus berulang-ulang. Sampe suatu hari akhirnya Wiwit udah nyerah dan nembak cewek laen. Kita sebut aja nama cewek baru Wiwit adalah Gina.

Jadian sama Gina pun, Wiwit masih dikuntit sama Lala. Malah Lala yang terang-terangan ngedeket. Wiwit sampe bilang sama saya, meskipun dia jadian sama Gina, waktu dia justru lebih banyak sama Lala. Wiwit bilang, dia emang jadian sama Gina, tapi Lala itu seperti sebuah candu. Nggak bisa jauh-jauh. Dan Lala adalah godaan terberat buat Wiwit untuk setia. Karena Lala adalah sesuatu yang belum di dapatkannya sejak lama. Sifat dasar cowok yang nggak akan berhenti sebelum dapet, membuatnya seakan-akan menduakan Gina.
Capek juga kalo nahan sakit hati. Kayak pengen teriak di manaaa gitu.
Lala pinter banget ambil kesempatan mempermainkan hati sahabat saya. Dia mengaduk-aduknya seperti semen. Menatanya hati-hati di sebuah dinding, dan ketika sudah habis, dia tinggal mengambil semen yang baru lagi, mengaduk-aduknya lagi.

Finally, setelah cukup lama kucing-kucingan, Wiwit dan Gina bubaran. Herannya, Lala ngejauh lagi. Kesan banget dia ngga mau kehilangan Wiwit kalo ada cewek lain di sampingnya. Kalo Wiwit ngejomblo, Lala pergi jauh-jauh. Bahkan kaya orang ngga pernah kenal.
Hey, jangan mau kejebak. Merenung. Hidupmu terlalu singkat untuk dibuang waktunya.
Kejebak di dua situasi seperti sahabat saya, sumpah, itu nggak enak banget. Setelah saya ngobrol sama mereka, saya akan kasih sedikit saran buat kalian, saya udah diskusi sama mereka berdua juga soalnya. Semoga aja, ketika kalian menghadapi hal yang sama, kalian bisa seenggaknya sedikit mengurangi kesedihan yang harusnya kalian rasakan. So, tunggu posting episode ke 3. Iya, suer, itu the end.

You took a chance to Loving me, but you trashed me away....*Eps.1*

Postingan ini agak tertunda, sebelumnya mau saya posting berminggu-minggu yang lalu. Dan temen-temen saya udah nanyain terus. (Kapan? Kapan? Kapan? Iye, nyet, udah aku posting neh, enjoy ya!)

Akhirnya setelah agak nggak sibuk di hari lebaran, saya putuskan untuk mempostingnya hari ini. Padahal topiknya udah mateng banget. Udah ada di draft saya, tinggal posting doang. Dan sorry ini postingannya agak panjang. jadi kalo nggak mau terusin, stop saja di sini.

Nova curhat sama saya soal kisah cintanya sama cowok ganteng di kampus saya. Wiwit beberapa saat kemudian juga cerita soal cewek yang dia taksir. Dan semuanya sama sekali ngga menyenangkan. Kalo Raditya Dika di bukunya ada ngebahas soal jatuh cinta diam-diam. Saya memilih untuk menyebut kisah cinta mereka, berjuang diam-diam.

Kita awali dengan kisah cinta Nova dulu. Dan saya yakin banget, kalian, cewe-cewe, pasti sering banget ngalamin kejadian kaya gini.

Kalo menurut cara pandang saya, ngga ada yang salah sebenernya. Timing udah pas, mengingat dua-duanya setahu saya lagi sama-sama jomblo. Dan mereka itu high quality jomblo. Yang jomblo karena pilihan, dan sebenernya selama saat-saat menjomblo itu, Nova dan nih cowok ya, yang ngedeketin sama-sama banyak.

Dari cuma sekelas di sebuah kelas yang iseng kita berdua ambil, buat nambah-nambahin sks kita yang kurang dikit, Nova ketemu cowok itu. Sebut aja namanya Hans.

Di kelas saya ini, banyak banget mahasiswa angkatan 2 tahun di bawah saya. Kalo saya liat, bahkan yang angkatan 2006 itu cuma saya dan Nova doang. Lainnya 2007 ke bawah. Berasa paling tua,  dan berhubung dosennya itu kenal banget sama kita berdua, kita sama-sama ngga enak kalo duduk di belakang (Spot favorit saya sama Nova itu di belakang, hahahha). Akhirnya duduk di depan lah kita berdua.

Di belakang saya ada Hans dan temen-temennya. Saya kenal baik sama beberapa di antaranya, soalnya saya yang ngospekin mereka waktu mereka masuk. Hans ini cukup populer di angkatannya. Soalnya dia dan temen-temen satu gengnya lolos masuk di tim basket universitas. Dan fisik mereka menonjol banget. Rata-rata 180cm ke atas. Hans sendiri 190an.

Saya ngga kaget kalo Nova langsung ditaksir sama Hans. Nova ini, emang selalu banyak banget yang naksir. Sahabat saya emang cakep sih secara fisik. Tapi, namanya Nova, orangnya agak susah didekati. Itulah kenapa dia menjomblo seperti sekarang.

Padahal sejak kenal dia di awal-awal kuliah saya udah pacaran sampai dua kali, beberapa kali TTM an sama cowok, beberapa kali patah hati, beberapa kali mengalami kisah melodramatic, ya pokoknya gitu-gitu deh. Nova masih aja ngejomblo. Terakhir kemaren jadian sama cowok brengsek kakak angkatan saya. Itu juga ngga lama-lama banget.

Hans itu walopun angkatannya di bawah kita, dia sebenernya satu angkatan di atas saya. Cuma dia pindah ke kampus saya dan mendaftar sebagai angkatan 2007. Saya akui, dia yang paling keliatan bener dibanding temen-temennya. Lainnya mukanya lumayan muka-muka cowok brengsek ato cowok sok karena populer.

Hans ini beda. Dari cara ngomong, cara dia jalan, cara dia ngeliatin orang, beda banget sama yang lain. Itulah kenapa, waktu Hans mulai PDKT sama Nova, Nova agak interest sama cowok ini.

Finally, mereka akhirnya deket. Dan saya liat sering banget jalan bareng, walo cuma sekedar dinner ke mana ato Nova nemenin si Hans latian basket di stadium kampus.

Berhari-hari dan berbulan-bulan pun berlalu. Saya liat hubungan mereka gitu-gitu aja, ketemu, makan, ngobrol di sana sini ngga jelas. SMSan. Telpon telponan. You know, kayak orang pacaran. Saya ngga tahan. Masalahnya, saya itu dulu sering banget TTMan sama orang (dulu ya dulu!). Dan ujung-ujungnya, selalu saya yang minta kejelasan hubungan seperti apa. L

Saya bilang, TTMan itu ngga enak banget. Mau minta hak kita, kita itu bukan siapa-siapa. Tapi kalo ngga minta hak, dia udah bawa kita terlalu jauh. Takutnya, tiba-tiba dia jadian sama orang lain. Sedangkan kita, always, sebagai cewek, udah selalu yang paling berharap banyak dan menunggunya.

Akhirnya, saya bilang sama dia. Tegaskanlah hubungan dia dan Hans seperti apa. Cowok itu gitu. Mereka selalu aja ngga sadar udah bawa kita terlalu jauh. Saking ngga sadar dan keenakan, mereka jadi lupa tujuan mereka sebelumnya.

Nova pun setuju sama saya. Dia akhirnya negasin hubungan mereka mo di bawa ke mana. Hey, guys, kita bukan anak SMA. Kedekatan ama cowok yang murni berteman sama ngga itu bedanya jelas sekali. Dan lagi-lagi si Hans masih ngga bisa memberi kejelasan hubungan mereka mau seperti apa.
Alasannya klise: beda agama.

Saya yang meradang. “Hey, bukannya dia tahu sejak awal kalo naksir kamu bakalan ngehadapi resiko itu? Lalu kenapa? Aku ngga percaya. Sekarang, kamu pikir-pikir lagi deh. Kalo dia yang ngga bisa menjauh, kamulah yang menjauh.”

Nova nurut. Tapi cuma sebentar. Hans lagi-lagi bersikap seolah-olah berusaha keras untuk ngedapetin Nova. And like every girls in this world, like me too, dia luluh lagi. Pas mereka deket, Hans lagi-lagi ngga menyatakan perasaannya, lagi-lagi ngga nembak-nembak.

Saya yang udah kesel banget, akhirnya membiarkan mereka aja kayak gitu. Saya dulu juga sering TTMan. Tapi saya ngga mau, sahabat saya juga jadi korban hubungan yang ngga jelas. Indah sih, tapi itu cuma mimpi. Dan harus ada orang yang menyadarkan kita untuk memberitahu, it just a fuckin shit dream. Ngga akan pernah jadi nyata kalo ngga ada yang memperjelas status hubungan.
A dream that hard to catch, it was a fuckin shit dream. So leave it up, girls.

Actually, suatu hari Nova memberitahu saya kalo Hans kelietan belangnya di belakang dia. Hans ternyata suka muji-muji cewek-cewek cantik lain di facebook. Dari mulai mantan terus ampe orang-orang yang nggak dikenal. Nova keliatannya sakit banget sama kejadian satu ini. Tapi mau disalahkan siapa, dua duanya membuatnya mengalir seperti itu. 

Dan parahnya, kadang saya liat, cuma Nova yang berjuang sendirian. Nova yang nyamperin waktu latian basket, Nova yang ngajak keluar, Nova yang sms, Nova yang nyapa duluan, pokoknya dia yang duluan. Beda banget waktu Hans awal-awal kenal sama dia.

Oke itu cerita soal Nova, saya akan balik lagi sama cerita soal Wiwit. Pasti kalian juga sering ngalami hal yang sama.

BERSAMBUNG….

Thursday, September 9, 2010

Very Long Road to Forgiven, yeah, But Not Forgotten

Wow,  H-1 menuju hari raya. Ngga nyangka secepat ini. Kayaknya baru kemaren saya ribut-ribut ngebayar puasa saya yang bolong taun lalu, dan sekarang udah menit-menit sebelum sahur terakhir di bulan ramadhan. Dan besok, hari kemenangan!
Saya nemu iklan lebaran kocak banget di devianart. wkwkwkwk. Hedonis banget.
Hmmm, ini puasa pertama saya yang bener-bener kusyuk. Saya sempet beberapa kali baca Qur’an, setelah sebelumnya, saya melirik pun ngga pada kitab suci saya itu yang saya letakkan di rak paling atas di kamar tidur saya.

Saya menjalankan tarawih hampir setengah bulan penuh, setelah sebelumnya saya bahkan ngga pernah ada niat buat tarawih di bulan-bulan sebelumnya. Saya bangun malam-malam dan menjalankan solat tahajud, yang saya udah ngga ingat lagi kapan terakhir kali saya lakukan di taun-taun sebelumnya. Dan yang paling bikin saya merinding kalo ingat, saya menangis waktu menjalankan solat isya malam-malam, di entah hari ke berapa puasa kemarin.

Saya harap sih, saya mulai bener-bener serius lagi mempelajari agama ini setelah beberapa saat saya vakum. Maaf Tuhan, kesannya saya main-main dengan Mu. Tapi itu kenyataan. Tahun-tahun kemaren adalah tahun-tahun krisis kepercayaan saya kepada Mu.

Tapi, setelah banyak peristiwa yang saya lalui dan saya sadari, saya jadi sadar. Damn, saya begitu jauh dan lama meninggalkan Mu. But, You always there, tertawa melihat kebodohan-kebodohan saya dan kadang-kadang menyentil untuk menyadarkan saya, tapi nggak pernah saya pedulikan.

So, sebelum saya minta maaf pada orang lain, saya akan minta maaf pada diri saya sendiri dulu. Saya nggak akan lupa gimana saya mulai nggak percaya pada Mu. Bagaimana saya kemudian menjalani hari-hari saya tenang banget walo ngga ngejalanin ibadah wajib saya sedikitpun.

Saya iri pada Monna, sahabat saya. Dia seorang kristiani. Tapi dia selalu meluangkan waktu dari 7 hari dalam seminggunya untuk melakukan pelayanan di gereja seharian. Dan dia kaya ngga ada beban melakukannya. Dan saya yang cuma mungkin 5 menit kali 5 dari 24 jam saya, selalu masih pura-pura melupakannya. Well, God, I’ve learning to felt guilty and I’ve learning to forgiven.

Oke, cukup. Saya akan belajar memaafkan diri saya. Kemudian memaafkanmu, guys. Yeah, saya sedang belajar memaafkan siapapun. Melupakan? Tentu saja tidak. Bukan untuk sebuah dendam. Tapi untuk sebuah reminders, agar saya tidak mengulanginya lagi. Cowok saya paling benci ungkapan-ungkapan filsafat saya. Dia selalu bilang. “Nggak semua orang kaya kamu, Ndut…”

Hmmm, Ramadhan. Saya masih ingin bertemu lagi tahun depan. Agar bisa belajar lagi untuk menjadi ramadhan yang sempurna.

Saya akan merindukan masa-masa berjalan di kegelapan bersama tetangga saya ke masjid di kampung kami buat tarawih bareng, suara-suara muazin meneriakkan “Imsaaaak…”, sms dan upaya cowok saya membangunkan saya untuk sahur sampai dia rela ngga tidur semalaman dan mengubah jam tidurnya menjadi siang, es kolak di waktu berbuka (Gila, rasanya beda banget kalo dimakan waktu hari biasa!), acara menghabiskan uang bersama sahabat-sahabat dengan judul “buka bareng”, kehausan dan kelaparan di siang hari sambil menelan ludah waktu liat anak kecil makan es krim, malam spesial bernama Lailatul Qodar, yang katanya kalo berdoa di malam itu, segala doa terkabul (Amin!), dan laen-laen deh. Banyak banget pokoknya.

By the way, MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN, guys. Maap lahir batin yah. Saya bakalan posting lagi mungkin abis lebaran. Soalnya saya tuan rumah sendirian kali ini. And well, sodara saya itu walopun yang datang kali ini dikit, tetep aja banyak banget buat saya. Bakalan capek. Cowok saya udah kirim sms mewanti-wanti saya untuk ngga tidur malam-malam, dan kalo bisa dibagi pekerjaannya sama yang lain. But, itulah serunya lebaran. Abis maap-maapan kita bikin dosa lagi, wkwkwkwkwkwk. Nggak-nggak. Maksud saya, capek buat sodara sendiri. Why not?
Dulu waktu kecil, lebaran itu saat paling asyik buat saya. Dapet duit ama ketemu sodara-sodara saya yang gila2.

Tuesday, September 7, 2010

You Are Too Closest to Heaven, that I'll ever be....

Lagi. Berita duka masuk ke inbox saya. Ayah teman baik lama saya, Sanaiskara Wening Pramuditya, yang biasa saya panggil Chika, dipanggil Yang Maha Kuasa. Innalillahi Wainnalillahi Rojiun. Yang tabah ya, Chik. Kita semua, mau nggak mau akan mengalami hal kayak gini. Inilah yang saya bilang bagian dari The Cosmological Coincidence (lagi).

Dan mendadak saya, jadi ingat banyak orang di sekitar saya yang sudah datang dan pergi.
*sighs.

Kadang manusia itu aneh. Mereka seakan terpuruk banget waktu putus cinta, ditinggal selingkuh, ditinggal merantau, pokoknya ditinggal pergi orang ke belahan dunia lain. You know, seakan-akan, langit runtuh di kepala mereka.

Di antara semua itu, rasa sedih kalian masih lebih ringan tau, dibanding ditinggal pergi orang yang kita sayangi selama-lamanya.

Bukannya sok tau, atau sok pengen dikasihani. Tapi saya udah mengalaminya berkali-kali. Saya sampai takut kalo hati saya lama-lama mati, ngga bisa ngerasain apa-apa lagi.

Makanya, saya ngga pernah sedih-sedih banget waktu putus cinta atau gagal. Orang bisa lihat saya kejam. Hey, saya juga menangis kali. Tapi ngga di depan kalian. Saya ngga mau keliatan terpuruk. Karena saya, udah pernah mengalami yang lebih parah. Dan itu, seperti sebuah kekuatan entah dari mana, yang selalu bikin saya kuat dari hari ke hari.
kata Dewa di lagunya sih, menangislah bila harus menangis, karena kita semua manusia....
Seperti Chika, saya kehilangan Ibu saya waktu umur 3 tahun. Kalo Chika, dia masih bisa merasakan kehangatan Ayahnya sampai umur 22 tahun, saya bahkan seperti nggak kenal dengan Ibu saya. Saya pernah tanya kan di posting saya sebelumnya, apa yang bisa dirasakan kalau saya hanya bisa mengenal Ibu saya selama 3 tahun? Saya masih kecil banget. Memori saya masih terbatas. Saya bahkan belum bisa ngomong lancar.

Saya menyayanginya cuma lewat foto, cerita masa lalu dari orang-orang, jejak langkah, melihat kemiripan di sosok kakak saya, sampai hanya dari melihat kesendirian ayah saya selama bertahun-tahun. Dan perasaan kehilangan saya, selalu muncul, waktu ngeliat sepupu saya bertengkar dengan saya, dan dia dibela mati-matian oleh Ibunya. Saya selalu berpikir, siapa yang membela saya? Tidak ada.

Ketika saya jatuh cinta pertama kali, kalian bisa sharing dengan Ibu kalian ketika di dapur menyiapkan makan malam atau saat mau tidur untuk minta pendapat, saya cuma bisa diam dan menulis, sampai kadang seperti orang gila, menganggap jurnal saya seolah-olah Ibu saya. Ketika kalian hendak memilih kebaya untuk acara khusus, seperti pernikahan atau wisuda, saya hanya bisa mantap dengan pilihan saya sendiri, kadang cuma bisa dibantu sahabat-sahabat saya (Thanks, God! I always have them.)

Itu adalah salah satu perasaan-perasaan yang bakalan kalian rasakan ketika kalian kehilangan. Perasaan merindukan kehadiran mereka. Perasaan seperti: “Hey, elo harusnya di sini nemenin gue!”

Memori saya loncat di tahun 2001-2002, ketika Nenek (Ibu dari Ibu saya) meninggal dunia. Damn, saya sedih banget. Nenek saya wanita kedua yang baik sama saya setelah Ibu saya, tentunya. Selama hampir belasan tahun, saya selalu menghabiskan liburan panjang saya di rumahnya. Dia selalu bertanya: “Kamu mau titip apa, nduk?” kalo dia mau ke pasar. Saya selalu aja titip banyak banget makanan. Atau waktu malam-malam, saya intip ke kamarnya, dia memanggil saya untuk mendekat. “Ayo dengar radio,” ujarnya sambil mengambil radio tua kesayangannya. Dan ketika bangun di pagi harinya, makanan sudah ada di meja, saya tinggal makan dan menonton kartun favorit saya.

Itu masih belum cukup. Om saya, tempat Ayah saya menitipkan saya dan kakak saya kepadanya, bersama istrinya, wanita ketiga yang baik dalam hidup saya, Sakit parah dan juga meninggal dunia. Saya melihat sepupu saya seperti kehilangan pegangan hidup. Karena kami sebaya, saya bisa merasakan apa yang dia rasakan. Saya merasakan sama kehilangannya dengan dia. Meskipun saya sama sekali ngga menangis, saya sedih melihat sepupu saya. Nggak akan ada lagi jajanan diam-diam untuk kami, ngga ada piknik di akhir pekan walaupun cuma ke alun-alun kota, ngga ada lagi keliling-keliling dengan mobil tua kesayangannya yang selalu berdecit kalau dia menginjak rem, ngga ada lagi Om saya yang itu.

Bahkan saya sempat bertanya pada Tuhan saya, mau siapa lagi yang diambilnya dari saya. Apakah itu normal bagi anak-anak seperti kami, kehilangan pegangan hidup di usia semuda itu. Tapi, waktu saya lihat anak-anak di jalanan, yang mengemis, kumal, ngga tau di mana orangtuanya, makan sehari sekali aja harus berjuang dulu. Saya tau, saya masih lebih beruntung daripada mereka.

That’s life, man. Saya, kamu, dia dan orang-orang itu akan datang dan pergi sesuai jadwal yang ditentukan oleh Tuhan. Di sebuah film Korea yang saya tonton, Brilliant Legacy, salah satu tokohnya mengatakan seperti ini:

“Manusia itu seperti punya jadwal sendiri-sendiri. Kalau dia harus datang di kehidupan kita, dia pasti akan datang. Kalau dia harus pergi, dia akan pergi, sekuat apapun kita mengikatnya.”

Jadi, saya pikir, ngga usah terpuruk berlebihan karena cuma patah hati, ditinggal selingkuh, atau ditinggal merantau nggak pulang-pulang. Hey, setidaknya mereka masih ada di dunia ini. Kamu masih bisa mengejar mereka, masih bisa memaki-maki mereka, masih bisa mencari keberadaan mereka.

Kalau kamu ditinggal selama-lamanya, bagaimana kamu mau mengejar, memaki-maki, mencari-cari, kalau kalian sudah hidup di dunia yang berbeda. Yang bisa kamu lakukan cuma menunggu saat kamu dipanggil Yang Maha Kuasa. Jadi bersiaplah, kita ngga tau kapan dipanggil untuk selama-lamanya. Selama menunggu panggilan itu, nikmatilah hidup ini, seakan-akan kamu mau mati besok.

Sunday, September 5, 2010

The Cosmological Coincidence of Raditya Dika

“And I know that it's a wonderful world
But I can't feel it right now
Well I thought that I was doing well
But I just want to cry now
Well I know that it's a wonderful world
From the sky down to the sea
But I can only see it when you're here, here with me

James Morrison – Wonderful World

Saya baca buku Raditya Dika yang keempat, judulnya Marmut Merah Jambu. Saya terhenti di bab “How I Meet You, Not Your Mother”. Bukan, saya bukan concerned sama kisah cinta dia sama Sherina. Tapi tentang ideologi The Cosmological Coincidence, yang dia tulis.
Baca deh, ngga nyesel. Banyak pelajaran cinta di dalamnya. Hehe.

Saya, dan seorang cowok, mengalaminya hari ini. Berhari-hari bersama-sama, berbulan-bulan membagi apa saja, nonton bareng via messenger, mendengarkan lagu lewat sharing video, smsan, semunya, ternyata ngga cukup untuk membangun sebuah kesepakatan dengan alam. Dengan takdir. Dan di antara itu semua, dengan yang memiliki mereka, Tuhan.

Masih belum mengerti?

Saya mau review sebentar apa sih The Cosmological Coincidence menurut Raditya Dika? Hmmm…. Karena novelnya udah ngga saya bawa, saya akan kasih tau kalian dengan bahasa saya sendiri. J

The Cosmological Coincidence adalah keadaan di mana alam mengatur semua yang kamu lakukan hari itu. Intinya sih gitu kalo saya baca. Mungkin hampir sama dengan takdir. Apapun itu, semuanya yang punya bukan saya, dia atau kamu. Yang punya kewenangan untuk mengaturnya adalah Dia, yang menciptakan kita semua.
bahkan batu-batu bertabrakan pun, alam yang mengaturnya sedemikian rupa.

Tapi Radit, dengan bahasa cintanya, mengartikan lebih ke tentang pertemuan antara seseorang yang satu dan seseorang lainnya, nggak ada yang kebetulan, semuanya diatur oleh alam. Kalo kamu belum saatnya bertemu dengan orang itu, sedekat apapun kalian, nggak akan dipertemukan. Tapi kalo kalian ditakdirkan ketemu, sepasang sahabat lama pun bisa ketemu hanya karena duduk bersebelahan di Times Square, meskipun, Times Square itu ada di New York atau New Delhi sekalipun, dan menikmati kopi yang sama.
Ayah dan anak, terpisah bertahun-tahun, duduk di satu kursi yang sama, tapi sama-sama ngga tau mereka berbagi kursi satu sama lain.

Saya setuju banget sama Radit. Dan ini kejadian yang terjadi pada saya hari ini. Cowok yang deket sama saya sekarang, tinggal bermil-mil jauhnya di Jakarta. Saya, di Semarang. Saya, juga punya rumah di Jakarta. Ayah dan Ibu baru saya menetap di sana. Dia, juga punya saudara di Semarang. Dan karena ini mau lebaran, kami diatur oleh alam sedang berada di satu titik yang sama. Kota Semarang.

Dia, dengan keluarganya singgah sebentar ke kota ini, sebelum bertolak ke kampung halamannya di Surabaya. Saudaranya tinggal cuma beberapa kilometer dari pusat kota, Simpang Lima. Tempat di mana saya, dan adik sepupu saya, si Otong, sedang hunting frame kacamata dari satu spot ke spot lainnya hari ini. Kami berjuang melewati manusia-manusia haus diskon yang mencari-cari barang-barang untuk berlebaran. Kalo bukan karena frame kacamata, saya memilih makan di Pisa Caffe di jalan Diponegoro, daripada mendaftar waiting list di Pizza Hut Simpang Lima. (Sumpah naik escalator aja kami berdua harus antri.)

Dan dia, finally, dengan keluarganya pergi ke luar, dan makan malam dengan jarak yang sepersekian kilometer lagi lebih dekat dengan saya. Kami smsan, mencari celah untuk ketemu. Adik saya, Otong, sebenernya bersedia menemani saya. Tapi, kalian tau kan, pergi bareng keluarga, ngga pernah gampang untuk menyelinap keluar rombongan. Dan dia, sepertinya kesusahan banget untuk mencari celah itu.

Saya dan dia, biasanya dengan jarak sejauh itu (Jakarta-Semarang), selalu cari cara gimana biar ngerasa deket. Sekarang dengan jarak sedekat ini, entah kenapa saya ngerasa jauh. Hahaha, kayak lagu aja. Tapi pernah ngga sih kalian ngerasa kayak gini? Sedekat itu, mungkin cuma dibatasi satu seberang jalan dan satu bangunan, atau bahkan satu tembok, tapi kalian ngga melihat satu sama lain?
Kepisah tembok, satu gedung, beda lift doang.

Inilah The Cosmological Coincidence. Saya dan dia belom ditakdirkan oleh alam untuk ketemu. Padahal jelas-jelas di bawah langit yang sama. Hawa panas yang sama. Keriuhan orang-orang yang sama. Lampu-lampu jalanan yang sama. Mungkin saja, orang yang melewati dia, juga melewati saya. Atau jalan yang saya lewati, kemudian dia lewati juga.

Kata sahabat saya, Nova, (Hey, saya buka sms kamu lagi untuk mengutip, Va!) yang lebih dulu membaca Marmut Merah Jambu, kaya gini:

“Gila, padahal, cuma beda beberapa meter doang. Dunia memang aneh. Mungkin saja alam semesta belom berkonspirasi untuk mempertemukan kalian sekarang. Just waiting, dear.”

Saya mau menunggu. Sampai alam berkonspirasi mempertemukan kami. Entah kami tidak rencanakan, seperti ketemu di sebuah desa antah berantah, bertabrakan, buku-buku kami jatuh (kayak sinetron ya?) wkwkwkwkwkw. Atau mungkin di peron stasiun, menuju ke kota Yogyakarta, ditemani pengamen jalanan. Atau sebuah toko musik kecil di salah satu sudut mall, ketika saya sedang memilih cd, dan menemukan cd Lady Antebellum, band country kesukaan kami, tinggal satu, dan dia yang membelinya. (Betewe, adik saya suka versi yang terakhir, saya pun juga.)

Dan yang kami rencanakan, akhir tahun ini, menemani saya dan menghabiskan waktu di Dufan bersama teman-teman kaskus saya yang sedang heboh merencanakan gathering di sana. Atau maju lagi di bulan Oktober, kalau alam berkonspirasi memenangkan kami berdua masing-masing tiket ke Singapura, di mana itu hadiah utama sebuah event perlombaan edit pictures yang kami berdua sama-sama ikuti.

Saya, dan dia, sama-sama ngga tau. Kalau saya percaya doa, saya berdoa untuk itu. Dan dia, yang ngga percaya doa, dan lebih mempercayai keberuntungannya, mungkin dia berharap menghabiskan keseluruhan keberuntungannya tahun ini di antara hari-hari itu.

Someday, my dear.

Saturday, September 4, 2010

When You Walk Away, I Count the Steps that You Take....

Saya itu bingung sama perasaan saya sendiri. Kemaren saya bisa bilang sama sahabat-sahabat saya kalo saya udah ngga papa. Nyatanya, ketika kemaren saya ketemu lagi sama mantan saya, perasaan saya mendadak kacau. Bukan karena saya masih ada perasaan atau apa. Tapi kemaren mantan saya bilang, dia akhirnya keterima kerja di Jakarta, dan bakalan berangkat tanggal 15 bulan ini.

Saya ikut senang. Dengan sok tahu (seperti yang biasa saya lakukan), saya kasih nasehat-nasehat sedikit buat dia. Actually, as a bestfriends, off course. Habis gitu, saya cepet-cepet pergi karena ada janji buka bareng sama sahabat-sahabat saya, si Monna, Nova dan Ferry.

Acara buka bareng awalnya lancar-lancar aja, sampai mantan saya sms lagi. Ada barang yang ketinggalan. Akhirnya kita sepakat ketemu lagi walopun posisinya saya masih sama sahabat-sahabat saya.

Ketika dia datang, kita semua bercandaan bareng. Dia orang yang baik dan ramah, dan itu nggak pernah berubah sama sekali. Setelah menyelesaikan urusan dengan saya, dia pamit pulang. Pas saat itu, saya melihat dia dan motornya pergi, saya baru tahu, dia bawa helm 1 lagi. Helm yang biasa dia bawakan kalo dia menjemput saya. Dan kebiasaaan itu masih dia lakukan. Padahal saya jelas-jelas ngga minta jemput. Perasaan saya mulai nggak beres. Dan saya fokuskan untuk memakan roti bakar saya yang udah mulai dingin.

Ketika dia berlalu pergi, saya ngerasa perasaan saya langsung nggak karu-karuan. Apalagi mendapati kenyataan itu kemungkinan itu adalah saat-saat terakhir saya bertemu dengan dia. Dan kita ngga akan ngerti, kapan kita dipertemukan lagi. Dan pada saat dipertemukan lagi itu pun, saya sudah seperti apa, dia sudah seperti apa.
Sampai di rumah, entah kenapa saya buka folder lama foto saya sama dia. Saya ngga berusaha buat menghapus, karena ketika saya ambil foto-foto itu, ada beberapa even yang selalu berbarengan dengan foto teman-teman lainnya. Dan tau nggak, saya menangis.
Saya malu banget. Apalagi ngga tau kenapa, Monna menelepon. Dia nanya alamat website sama saya. Dengar nada suara saya, Monna tau, saya menangis. Dan dari semua yang dia bilang sama saya, saya paling ingat dengan kata-katanya yang ini:

“Kamu, wajar untuk menangis. 3 tahun itu waktu yang lama. Kamu ngga bisa melupakan gitu aja, itu wajar. Meskipun nanti kamu sama orang laen, atau menjalin hubungan yang lebih lama lagi pun, ini nggak akan pernah kamu lupakan. Karena itu adalah jalan hidup kamu. Dia yang menentukan perubahan yang ada dalam hidupmu. Bagaimana bisa kamu paksa diri kamu untuk melupakan sesuatu yang mempengaruhi hidupmu selama 3 tahun? Jadi, menangislah. Untuk hari ini saja. Dan berdoa, dia menemukan orang lain yang pastinya lebih baik atau sama baiknya denganmu.”

Saya sadar. Kalo kita kenal orang 1 hari, belum tentu dia mempengaruhi hidup kita selama satu hari itu. Tapi ketika kamu mengenal orang selama 3 tahun. Kamu seperti membuat sebuah buku cerita. Dan di dalam buku cerita itu, dibagi dalam banyak bagian.

Ketika kamu bertemu, ketika kamu mulai pacaran, ketika kamu bertengkar, ketika kamu saling mendukung, ketika kamu menghabiskan semalam suntuk hanya untuk menelepon, ketika kamu mengenalnya lebih jauh, ketika kamu dan dia berandai-andai memiliki sebuah masa depan, ketika menyadari jalan tak lagi sama, dan ketika memutuskan untuk berpisah. Dan ini adalah bagian terakhir dari buku saya. Ketika saya berusaha untuk bangkit dan berjalan lagi. Meskipun sulit, dan merangkak menyelesaikan buku ini.

Ya, saya harus menyelesaikannya. Karena kamu tahu, you can write a new book, if you haven’t finished the one. And I’m sorry, ini adalah akhir cerita saya. Nggak akan ada lagi tentangmu di sini. Saya cuma berharap, ketika kita nanti bertemu lagi, kamu, dan aku, adalah sepasang sahabat lama, yang saling bertukar cerita, dan membagi pengalaman-pengalaman kita saat kita menyusuri jalan kita sendiri-sendiri ini.


Kamu, aku, adalah bagian dari buku itu. Tapi sudah selesai sekarang. Aku harus menulis bukuku sendiri lagi, kamu juga. Dan apapun itu, buku kita adalah sebuah buku yang bagus. Buku yang indah untuk dibacakan kepada orang lain.

Kamu dan aku, bukan bagian dari masa lalu siapapun. Tapi kamu adalah bagian dari hidupku. Membuatku seperti ini, sekuat ini, setegar ini. Di manapun kamu, apapun yang kamu lakukan, bersama siapapun nantinya, aku harap kamu bahagia. *sighs.

"The time has come,
For closing books and long last looks must end,
And as I leave,
I know that I am leaving my best friend,
A friend who taught me right from wrong, 
And weak from strong,
That's a lot to learn,
What, what can I give you in return?"


lulu-To Sir with Love

be happy, promised me.

Wednesday, September 1, 2010

Bonjour, September!

Oh, great! It was September. And so sunny outside. Everyday. Herannya, kadang diselingi hujan. Seharusnya ini sudah mau masuk musim hujan lagi. Yeah,mulainya di bulan Oktober seharusnya. Soalnya saya inget banget, setiap bulan Desember, saya selalu merayakan ulangtahun saya dengan hujan-hujanan. (musim penghujan seharusnya Oktober-Maret di Indonesia)
hujan mulu, kapan redanya? Saya soalnya alergi udara yang berubah drastis. Aneh ya.


Tapi kayaknya sekarang smuanya serba mundur. Jadi ini bakalan bener-bener bakalan jadi entah September apa. Soalnya meskipun summer and so sunny, sore hari ato malam saya masih sering bertemu hujan. Bener-bener hujan deras kaya di musim penghujan.

Dan time is running out. Saya masih saja dikejar-kejar deadline skripsi yang lagi-lagi harus mundur. Salah satu teman baik saya, yang udah lulus duluan, lagi-lagi harus merantau ke Jakarta untuk pekerjaan yang didapatkannya. Sudah tiga teman baik saya pergi. Saya di sini seperti menunggu giliran ke sana. Yup, Jakarta was my new hometown now since my father getting married again.

Orang-orang sekitar saya terus bertanya, kapan wisuda. Damn, saya agak risih sebenernya ditanya begitu. Tapi kita ngga bisa menghindar. Dan saya sedang berusaha menuju ke sana. Just sit back and relax, saya sendiri ngga sabar pengen lulus.

Okay, welcome September. Saya harap, saya bisa menyelesaikan puasa saya dengan baik. Berlebaran dengan orang-orang yang saya sayangi.  Menyelesaikan kewajiban saya sebagai mahasiswa tingkat akhir, lulus dengan nilai yang baik juga. Dan cowok saya, bulan ini dia wisuda. Semoga dia bisa melewatinya dengan baik. Kemudian mendapat pekerjaan yang baik juga. (Amieen, dia berteriak di messengernya, hahahah!)
Oh September, be sunny then!!!!
Paling suka musim kemarau jemuran pada kering. Saya jadi suka gonta ganti pakaian.
Goodbye August! It was so August Rush, hahahaha. Orang-orang di sekitar saya saling berkejaran menyelesaikan skripsi untuk wisuda Oktober. Dan saya seperti slow motion di dekat mereka. Saya berdoa untuk dua sahabat saya, Victor dan Ridho, agar mereka bisa menyelesaikannya sebaik 3 teman baik saya sebelumnya. Good luck, my dear friends!