Sunday, November 28, 2010

People and Potraits. #Classic

Aaaaaaa!!!!!
You know what, I have searched some portraits that would being used for this blog. And whoa! I found many many many thousands of amazing classic portraits.

Their face, their wardrobes, their stuff, oh my… AWESOME!!!! Errrr, I can’t describe it, enjoy!

These are the faces of the man, soooo Franche, Spanish, Portugal, British - Europe's faces, a face that so classic, just not like the Americans.

oooooohhhh, my.....
Their so classic, prestigious, cool, combination of beauty and georgeous, and their tuxedo...
Ewwww....
Oh, dear, who's your name, by the way? :D *Okay, the next picture....
Ehmmm.....

I think you should be understand why I'm being crazy about these picture.

Look at their eyes. They totally have different eyes with the Americans and Asian, off course. 

The lips, mandible of their face, their nose....

God!

My sister said: " Ah, yeah, We both know now what the reason of why the god's myth come from the Greece. Look at their faces. If the god have face like that, I will be not married human. And choose one of Hercules, or, Percy Jackson, or Zeus, or whatever..." *And she caress her pregnancy, I think she started hopes her child, if he was a boy, have a face like them.

Stop talking about the man, I started crazy and scare, how about if I falling love with one of them just becaused their picture?
Hahahaha, no no no.  :D

And now the girls....

The girls, they have different style, passion when they focus for cameras.
The classic girls face always have different features.They too silent, they were just looks good from up to down.

They have their own taste, dark hair, dark make up, dark smookey eyes.

Very classic.
Emmm, this girl...
I like her hair, her clothes, what she did with her hair and the eyes.

yeah, the nose. Thought, I dont have that beauty nose.... :(

Hiks.

What? What? What?

I am a javanesse, and almost the javanesse girls don't have the beauty nose but WE ALL HAVE THE BEAUTY FACE... :p hahahahahahaha...

Anyway, there are some classic face on Hollywood, just like: Zoey Deschannel, Katy Perry, Lilly Allen, Madonna, and many many many more. Hoahhhmmmm... :O

Dear Boyfriend... #2

Ah, its 28th  again!!!
Yeah, I think may be you will be forget or don’t realize that this is 28th! But I just wanna say this:
“Happy anniversary 6 months!”
And I found a beautiful song. It’s a remake. But mmm its piano!

and my favourite words:

There ain't nothin' that I wouldn't do
Go to the ends of the earth for you
Make you happy, make your dreams come true
To make you feel my love




"If you can't have the best of what you want, learn to make the best of what you have." -Douglas Adams
And I will keep try to be the best.

Friday, November 26, 2010

Won't sing the blues with you, anymore

“What the part of friendship that feel so hurt? Yes, it was. When it ends.”

Oke, sebenernya saya nggak mau tulis ini. Saya tahu, kalo dia membacanya, ada dua pilihan. Hubungan kami membaik atau dia semakin membenci saya. Tapi, saya pikir – pikir, someday, dia harus membaca ini. Paling nggak, dia tahu, apa yang saya rasakan dalam diam saya.

Anyway, saya ngerasa beruntung, sahabat saya itu banyak banget. Dan mereka kesebar di mana – mana. di kampus, sekitaran rumah, sahabat SMA, SMP, SD, yang masih keep contact sama saya terus. Bahkan saya suka dilemma waktu ulangtahun saya tiba. Saya pengen adil untuk ntraktir mereka tanpa salah satu dari mereka ngerasa lebih mahal atau lebih murah dibanding yang lain. Kalo udah bingung, saya akhirnya ngga memilih untuk nraktir siapapun, dan akan mentraktir mereka lain hari tanpa ada embel – embel ulang tahun dalam event yang berbeda – beda.

Jadi, kalo ada yang kerasa kesindir atas apa yang saya tulis, sorry, may be its really you. And I just wanna you know, I know everything thought everything that you do, were hurting me behind.

Dear my (ex-)bestfriend…

Thanks for everything that you do to me, the crazy things that we’ve done, the laugh that we shared together, the cry that always make we give our shoulder each other, the stories that we told and we try to find the solution. Everything. Its beauty.

Tapi…

Saya cuma cewek biasa, kawan. Dan saya tahu, kamu juga bukan cowok super. Kita nggak punya kekuatan untuk membaca pikiran satu sama lain. Tapi, saya nggak kenal kamu barang sehari dua hari. Saya kenal kamu itu 3 tahun.

Saya ingat warna rambut apa saja yang pernah mewarnai rambutmu selama itu. Saya tahu, tipe – tipe cewek yang kamu sukai. Saya hapal sekali, kamu tidak pernah belajar dari pengalaman ketika kamu jatuh. Saya tertawa mengejek ketika kamu selalu jatuh cinta pada cewek – cewek yang salah dan besoknya patah hati.

Saya ingat 3 tahun itu apa yang sudah kita lakukan sama – sama. Saya masih ingat, kawan, kita rela tungguin jam 3 tepat di parkiran depan KFC sambil dipelototin tukang parkir, supaya dapat paket makan paling murah, karena kita sama – sama bokek. Saya ingat kita keliling kota sambil curhat – curhatan nggak jelas.

Kawan, saya ingat ituuuuu. Ituuu semua. Apakah kamu mengingatnya? Apakah itu tidak cukup indah untukmu dan begitu mudahnya kamu berpikiran seperti itu pada saya?

Oh, kawan…

Kamu pikir mengambil keputusan seperti itu nggak sulit buat saya?

Tapi, kalo matamu sudah tertutup semua pikiran burukmu, apakah saya juga akan mengejarmu untuk memberikan penjelasan? Nggak, kawan. Saya akan tetap diam di sini. Dan memperhatikanmu. Menunggumu mengerti. Menunggumu dewasa.

Kawan, saya tahu, saya nggak akan ada di sampingmu lagi ketika kamu berbuat bodoh. Tapi berhentilah membuat drama seakan – akan kamu adalah cowok paling sengsara di dunia karena semua hal ngga berjalan seperti maumu. Fokuslah pada apa yang kamu kerjakan. Dan berhentilah bermain – main. Waktu kita semakin sempit, dan kamu terus saja seperti itu.

Terimakasih untuk 3 tahun itu, kawan. Its hard to letting you go. But, I don’t have another choice, I just choose what you choosen. I just started what are you started. Its hard to just smile when we were met each other. Goodbye. Semoga sahabat – sahabatmu yang sekarang dapat membuatmu jadi lebih baik, sesuatu yang menurutmu saya tidak pernah bisa lakukan. :)

“Friendship is like a tree, it’s not MEASURED on how TALL it could be, but is on how DEEP the ROOTS HAVE GROWN.”

Wednesday, November 24, 2010

A very Busy Week

Wow….

Saya kebangun setelah bisa tidur nyenyak setengah jam (baca: ketiduran). Saya ngga tau mau ngapain. Sms si pacar nggak di balas, keknya sih udah ikutan tidur dia ato mungkin juga maen game saya nggak tau. 


Saya BUZZ temen – temen saya yang masih pada begadang nggak ada respon balik. Saya berharap yang ketiduran bukan cuma saya. Tapi yang kebangun jam segini, kenapa cuma saya. -_-

Dua hari ini, saya udah nggak berbentuk manusia. Muka kucel, hasil pertahanan diri dengan kopi untuk menjaga saya tetap sadar. Nggak mandi, suer itu beneran, ini rekor nggak mandi terlama saya, 2 hari, 48 jam. Gara – garanya (sok – sokan) nggak sempat berjalan menuju kamar mandi. 


Saya cuma disuplay sepiring nasi waktu kakak perempuan saya datang siang hari, sisanya saya bertahan dengan kopi dan roti. Dan udah kaya sok sibuk aja, roti dan kopi pun saya nikmati di depan lappie sambil tetap mengetik. Saya berasa penulis yang dikejar deadline penerbit! (Amin…)

Jam tidur saya kacau. Jadi maaf ya teman – teman kalo saya nggak keliatan cantik lagi. :D saya udah nggak punya waktu buat sleeping beauty. Eits, nggak usah protes. Maksud saya tidur berkualitas. Tidur beneran dengan rata – rata waktu 6 – 8 jam sehari.

Saya tidur sehari 2 jam selama 3 hari berturut – turut. Itu jatuh di pagi hari antara jam 5 sampe jam 8. Sisanya saya di depan lappie atau udah tidur – tiduran tapi enggak tidur – tidur sampe si pacar kadang – kadang kesel sendiri dan dia yang malah ketiduran duluan. 


Hahaha niat yang bagus sekali, menidurkan orang malah ketiduran sendiri. Dan masih dengan earphone yang terpasang di telinga kami masing – masing. Berasa saya bayi dan dia babysitter nyanyiin Nina Bobo tapi malah dia yang ketiduran sendiri. -_-

Tapi, ngga ada yang sia – sia kawan. Lihat tuh (*melirik bangga) BAB 4 dan 5 saya sudah jadi dengan total ketebalan halaman 76 lembar A4! Gila nggak tuh, saya nulis skripsi atau nulis skrip- sinetron?

Itu aja belom digabung sama BAB 1, 2, 3 nya. Yang keknya udah saya total hampir mencapai 50an lembar. Dan, itu belum direvisi BAB 4 dan 5nya. Jadi kemungkinan bisa nambah dan berkurang. 


Gila. Saya enggak percaya. Terimakasih kepada Ibu dan Bapak telah menganugerahkan bakat mengarang indah kepada saya.76 lembar selama 3 hari dengan menghias setiap lembar dengan screenshoot dan code program? 


Pantesan badan saya rasanya remuk gini, otak pun cuma nyambung sama satu topik, skripsi. Saya aja ngabisin waktu hampir 2 jam penuh ngediamin si pacar di telepon, nggak ngerti mau ngomong apa. Padahal saya biasanya ngga bisa diam barang semenit doang.

Sampe akhirnya dia yang ngalah, mendadak dia ngomong terus, nyeritain cerita – cerita lucu, ngebacain artikel nggak jelas, nyanyiin saya lagu, ngejek – ngejekin saya, ngerumpi soal temen – temennya, dengan harapan saya segera tidur. Saat itu bukannya tidur, saya malah sadar satu hal, on that moment, may be I am the luckiest girl in the world. :)

Doain saya, besok, errr, nggak, ding ternyata udah ganti hari. Siang nanti saya bisa ngasih BAB 4 dan 5 itu tanpa halangan apa – apa. Jadi besok tinggal konsen ke Daftar pustaka, Daftar Isi, Jurnal, Abstract dan yang paling saya sukai dari skripsi, Kata Pengantar!  

Huayo, siapa sih yang enggak suka Kata Pengantar, tempat buat nulis daftar orang – orang saya repotin selama ini. Nanti saya bakalan share isi kata pengantar saya. (*penting nggak sih?) jiakakakakakak.

Emmm, streaming Fashion tv ah. Siapa tau liat cowo - cowo ganteng saya jadi cepet – cepet ngantuk, segera ngimpiin mereka, mumpung si pacar dah tidur, hahahaha. :D  Adios!!!

*niat jelek jangan ditiru, jam segini isinya cewek semua. Errr.


Mau streaming FTV juga?
klik di sini
(saran doang ntn di mozila, saya pakek Google Chrome suaranya kek orang bisik - bisik)

*ntar gambar2nya nyusul ye, sepi aje ni posting isinya tulisan doang. 

Saturday, November 20, 2010

His Fashion Minded

Started addicted with sunglasses? Yeah, me too. But, the summer has gone, and welcome home the raindrop! Emmm, Is it okay still wear sunglasses?

Anyway, talk about sunglasses, make me remember about my conversation with him, again, a few nights ago. My boyfriend was a man-who-cares-his-personal style, that’s why I don’t feel weird to talk everything about fashion with him. And I don’t know why, he started addicted with Rob Pattinson since we were watching Twilight’s movies a few months ago. Yeah, I think he were decided become his fans since we were finished watch that movies.

Him : “Hey, babe, what do you think if I buy a Ray-Ban sunglasses?”
Me  : “Aaah, Ray Ban… that’s cool one. What shape that you want?”
Him : “Mmm, something that closed with Rob Pattinson’s sunglasses, may be.”
Me  : *rolling eyes. Well, he was good wear that sunglasses, I don’t know, Is that good for you too?”
Him : “Errr, I don’t know. But that’s a cool one. And I finally found the name of that sunglasses. Ray-ban Wayfarer. Search it, hon!”

And I found this picture. His number one Idol for now. 
ROB PATTINSON WITH HIS WAYFARER.
-__-

And this is the close up picture of my bf-sunglasses-want-to-buy, The Wayfarer.

Me  : “Yeah, I found it. Are you sure you want to buy that sunglasses, baby?”
Him : “Off course, why not. And I will wear it with some kind of a leather jacket and jeans. How cool is that?”

Errr, I think my boyfriend started too much care with his dressing up.

Me  : “Ah, dear, you forget some stuff that must you bring them too with your cool style.”
Him : “What?”
Me  : “ An I-pad, Blackberry, and a stylish girlfriend beside you.”

    It sounds like a Hollywood Celebrities.
   Emma Roberts with her I-pad and Ray-Ban Sunglasses. Cool.

Him : “Ah, that’s right! I think that you’ve must find your sunglasses too. And we can wear them when we are hanging out together. I can imagine how cool couple we are.”
Me  : “….”

Well, anyway, its funny hear your lovely boyfriend was talking too much about style. Because we all know, sometimes they were looked autism with their hobbies, just like my boyfriend with his online games.

At least, yeah, I do want Ray-Ban sunglasses too. But, I want some kind of Ray-Ban sunglasses that similar with Kristen Steward and Dakota Fanning’s dressing in The Runaways movie poster.

THIS ONE.....

Yeah, the vintage one. >,<

Friday, November 19, 2010

My (Not Yet) Happy Ending #2

I’m just an ordinary girl, baby... :)

Last night, was a lil nightmare for me and him. Kita berdua terperangkap dalam percakapan tentang mantan, yang mana, sedikit membuat suasana berubah nggak nyaman sama sekali sampai akhirnya masing-masing dari kami jatuh tertidur dengan earphone masih nempel di telinga.

And becaused, I was a lil sleepy dan setengah sadar antara alam nyata dan enggak, jadi kira-kira percakapannya begini. Saya agak lupa kenapa bisa bahas soal mantan saya, tapi beginilah alur cerita selanjutnya setelah bahas si mantan.

Him     : “Kalo denger ceritamu setiap hari dan bilang, wah itu kayak mantanku yang A. Lain hari beda yang dibahas, kamu bilang itu kayak mantanku yang B, lain hari bakalan ada cerita soal mantan C, D ,E,F, bla bla bla. Ternyata mantan cowok kamu banyak juga, ya? Nggak takut dibilang gonta-ganti cowok?”

*sigh. Hey girls, punya mantan banyak itu salah ya?

Me       : “Oke, aku emang gonta ganti cowok. At least, cepetlah dapat pacar lagi.”

Him     : “Ciee, artis nih.”

Me       : “Bukan gitu, yank. Tapi emang salah ya gonta ganti cowok? Yang pasti setiap menjalin satu hubungan dengan cowok, aku nggak pernah selingkuh.”

Him     : “Iya, tapi kan orang – orang kadang mikirnya jelek.”

Me       : “Aku nggak peduli orang – orang. Aku nggak peduli mereka mau bilang apa soal aku. Yang penting keluargaku, sahabat, dan pacar aku tahu aku kayak gimana.”

*kami berdua terdiam sekian detik.

Him     : “ Ya, mungkin kalo soal pengalaman pacaran, kamu lebih berpengalaman dibanding aku.”

Me       : “Hey, maksudnya apa tuh? Pengalaman gimana? Ah kamu yank, coba kamu jadi aku, aku nggak minta lho mereka jatuh cinta sama aku terus nembak cewek nggak tegaan kayak aku. Aku nggak pernah nolak cowok, bukannya sok playgirl. Kadang, buat cewek, kenapa susah – susah nunggu orang yang kita sukai suka sama kita, sedangkan ada orang lain di luar sana yang suka sama kita dengan tulus?”

Him     : “Lah, terus, kamu sering jadian sama orang tapi kamu nggak suka ma dia gitu?”

Me       : “Nah, aku kan berusaha tapi waktu udah nerima dia. Kalo akhirnya nggak bisa ya udah kita diskusiin bareng, harus gimana. Mau lanjut jalan sama cewek yang ngga bisa balas perasaan dia atau putus. Kalo putus ya udah, kita temenan lagi. Untungnya sampe sekarang aku nggak pernah ada sejarah ketemu mantan musuh – musuhan. Emangnya ada yang salah dengan kita berusaha mencari yang terbaik buat diri kita sendiri. Kalo dibilang egois, manusia itu pasti egois. Dan aku cuma cewek biasa yank, aku nggak akan pernah berhenti mencoba. Kita nggak bakalan tahu gimana hasilnya kalo belum dicoba.”

Him     : “Iya, orang beda – beda sih. Kalo aku, mending yang pasti – pasti aja.”

Me       : “Gimana ya yank. Aku soalnya tipe orang yang ngga bisa nyerah gitu aja. Oke mungkin aku putus sama si A terus jadian sama si B. Tapi bukan berarti aku nggak sakit hati, aku nggak nangis, aku nggak ngerasa nyesek. Satu hal yang pasti, aku tuh nggak mau jadi kenangan buruk buat orang lain. Jadi ketika aku pacaran sama seseorang, aku selalu berusaha jadi yang terbaik buat orang itu, jadi ketika akhirnya putus, kita sama – sama  nggak saling benci. Kalo akhirnya enggak, aku tinggal terus menjaga posisiku untuk terus jadi orang yang terbaik di sisinya.”

*setelah tanggapan panjang itu, saya dan si pacar memutuskan berhenti ngomongin, dan kita balik lagi dengan topik – topik basa - basi sampe tertidur.

Hey, dear you, baby, nggak ada sebuah garansi dalam sebuah hubungan itu akan berjalan baik, mudah dan indah selamanya. Just as you know, babe, aku cuma cewek biasa. Aku cuma berusaha melakukan hal terbaik yang bisa aku lakukan untuk siapapun dan apapun, and off course for this relationship too.

Baby, I know, what kind of man that you are. Bukan karena aku peramal :D, but its easily come in my head and heart when I’m in love with you. Anyway, aku selalu berharap sebuah perjalanan selalu ada akhirnya. Dan aku berharap ini adalah pemberhentianku yang terakhir. Rasanya di pemberhentian ini aku bisa merasa aman dan nyaman, may be because there was a human like you inside.


This old song was amazing, it just like words that I can't tell to you everytime...
Hear it...

Wednesday, November 17, 2010

Conversation with the Neighbours

Happy Idul Adha everyone!

Errr, abis solat ied saya tidur lagi. Mengingat jam biologis saya sudah banyak berubah gara-gara skripsi. Saya ngerasa nguantuk setengah mati justru kalo siang-siang sampe menjelang sore, malam, saya bahkan bisa nggak tidur sama sekali sampai 12 jam. Gila! Lama-lama saya bakalan daftar rekruitmen petugas ronda malam kampung saya kalo skripsi saya sudah selese dan menyisakan kebiasaan itu.

Kalo lagi idul adha, ada kejadian yang berulang terus selama 3 tahun terakhir, dengan orang yang berbeda-beda tentunya. Soalnya yang tugas ngebagiin daging beda-beda juga. Percakapan yang hampir sama. Dan ending yang hampir sama pula.

Saya tahu, siang gini, kalo pintu rumah diketuk, itu berarti tetangga saya ngebagiin daging kurban sama warga sekitar. At least, dua tetangga saya. Sebut saja mereka Si Mas A dan Ibu T. Seperti tahun sebelumnya, saya selalu terlibat dalam percakapan seperti ini dengan tetangga yang bertugas mengantar daging kurban:

Mas A  : Walah, baru bangun. Ni mbak biasaaaa, daging.
Saya     : Emmm, buat mas A aja. *setengah sadar
Mas A  : Hah? Ini jatah lho dari mejid.
Saya     : Iya, tau. Buat mas A aja.
Mas A  : Ew, gimana bu? *cengok noleh sama si Ibu T
Ibu T    : Errr, kenapa?
Saya     : Nggak bisa masak. *padahal ngga suka juga
Ibu T    : Ya udah saya masakin gimana? Sekalian.
Saya     : Emmm, ngga, Bu, saya nggak makan daging sapi ato kambing.
Mas A  : Loh, kamu vege?
Saya     : Udah jalan dua tahun lebih, 3 tahun kayaknya.
Mas A  : Baru tau, aku. Padahal tetanggaan. Trus, ini gimana dagingnya? Buat aku? Serius nih? *menyerahkan daging ke Ibu T
Saya     : Iya.

Mereka sama-sama ngucapin makasih nggak berenti-berenti.

Habis itu, Ibu T balik ke rumahnya sambil cengar cengir dapet tambahan daging. Jumlah orang di rumahnya banyak banget. Sekitar 8 orang, termasuk si Mas A yang keponakannya. Mas A malah nongkrong di rumah saya nanya tertarik sama keputusan saya jadi vegetarian.

Mas A  : Tapi aku masih sering liat kamu beli sate ayam, bakso kalo enggak minum susu pagi-pagi.
Saya     : Saya vegetarian yang nggak makan daging merah doang. Kalo olahan masih bisa makan, terus susu, telur, daging unggas sama ikan. Istilahnya vegetarian pollo. Kalo yang murni sayur-sayuran itu real vegetarian. Kalo itu, Kayaknya aku ngga bisa sampe ke sana.
Mas A  : Baru tau aku kalo vegetarian ada macemnya. Trus ngefeknya ke badan kamu apa? Selain agak  kurusan sih dibanding waktu SMA.

*Notes: waktu SMA emang saya parah banget, berat badan saya mencapai 64 kilo di tinggi saya yang 163 cm doang ini. Sekarang sih udah 55 kilo, bersyukur banget saya bisa nurunin sampe segitu. Tapi itu bukan karena saya jadi vegetarian pollo.

Saya     : Emmm, nggak tau efeknya apa. Tapi yang pasti aku lagi berusaha ngehindarin penyakit kolesterol sama diabetes.
Mas A  : Oh iya, keluargamu ya riwayatnya begitu sih. Ntar deh searching di internet soal vegetarian pollo.

Begitulah akhir percakapan saya. Kayaknya Mas A tertarik untuk mengikuti jejak saya. Haha. Kapan-kapan deh saya posting kenapa saya memilih menjadi vegetarian pollo. Anyway selamat menikmati apapun yang kamu hari ini masak dan olah dengan daging kurban. Hoahhhm, good day everybody! Have a nice meatballs….




I'm sorry, I didn't interested to consumed them. Enjoy it!

Tuesday, November 16, 2010

Prepare for the Jakarta Trip #1

Whoa, tinggal menghitung hari keberangkatan saya liburan ke Jakarta. Saya bakalan tetep menyebutnya liburan, walopun kota itu adalah hometown saya. Yeah hometown orangtua saya sih, lebih tepatnya, soalnya saya sendiri ngga ngerasa hommy di kota itu. Dari kecil saya udah tinggal jauh dari orangtua, anyway, Jakarta mungkin cuma bakalan jadi kota berlibur saya, hahahahha.

Setelah diskusi sama si pacar soal keberangkatan saya enaknya jatuh tanggal berapa, akhirnya kita sepakat buat pilih tanggal 9 Desember. Dengan pertimbangan acara gathering dufan kami jatuh tanggal 12 di Hari Minggu. Dan kalo saya berangkat tanggal 11 (rencana awal) bakalan mepet banget sama hari H, inti acara liburan saya. Takutnya capek, dan tanggal 11 itu SABTU, di mana sebagian besar warga Jakarta bakalan keluar buat weekend, dan nggak kebayang betapa macetnya hari itu.

Sebenernya saya nggak musingin banget soal itu. Saya deg-degan banget soalnya, he will pick me up in airport and it will be the first moment for us to meet each other, as a boyfriend and girlfriend. Pikiran-pikiran buruk dan baik berperang di kepala saya. Pikiran buruk: ilfil, mendadak salting, dan ujung-ujungnya saya melakukan kebiasaan bodoh saya (jatuh, kepleset, salah masuk, dsb.). Pikiran baik: saya sampe di rumah dengan aman, hahahahha.

Si pacar, nggak tahu sih dia itu deg-degan apa enggak, tapi dia malah pengen banget bawa puppies Siberian Husky, buat nyambut kedatangan saya.
 -____-“ Berasa film Marley and Me. Jemput-jemput ceweknya pakek surprise anjing.

Yeah btw, kita berdua lagi tergila-gila sama anjing ras Siberian Husky, yang kenyataannya enggak bisa dipelihara di lingkungan keluarga Muslim seperti saya dan dia. Di film Eight Bellow, mereka keliatan keren banget. Makanya saya total jatuh cinta sama anjing itu dan bertahun-tahun memendam rasa keinginan saya buat memiliki mereka. Dan sampe sekarang cuma bisa berangan-angan.



Lupakan soal Husky :(, saya akhirnya dapet tiket mandala air PP dengan harga murah banget. 77ribu buat pulang dan 300an buat berangkat, totalnya nggak nyampe 400rb. Gila, udah berasa naek bis ato kereta ekonomi aja.

Anyway, kenapa saya pilih pesawat? Orang-orang bakalan ngira saya hidup kegayaan banget, cuma ke Jakarta doang aja naek pesawat. Tapi setelah banyak pertimbangan, di antaranya: saya pengen sampe Jakarta sore ato malem, kasian si pacar kalo saya sampe Jakarta pagi-pagi, dan kereta itu harganya lagi muahal banget, dan bakalan jauh lebih mahal harganya kalo kita milih yang sampenya sore. Gila, 380rb sekali jalan! PP bisa-bisa 760ribuan. Mana harus menempuh perjalanan 8 jam plus belum kena macetnya pas otw ke rumah. Btw, itu harga tiket eksekutif ya, saya takut naek kereta ekonomi ato bisnis kalo perjalanan saya sendirian. Jakarta itu kota yang jahat, kawan. Dan saya seorang cewek. Nggak tegaan, gampang diboongin, bego pula.

Pertimbangan lain adalah, saya itu buta Jakarta walopun saya udah sering bolak-balik ke sana. Soalnya, hampir seluruh keluarga besar saya tersebar tinggal di Jakarta. Tapi, karena kebegoan saya, saya nggak hapal-hapal jalan sampe sekarang. Andalan saya jalan-jalan di Jakarta adalah, diantar ke mana-mana, nebeng sodara yang mau kuliah, ato taksi.

Dan si pacar yang belum tahu rumah saya, pengen sekalian tahu juga, jadi waktu acara gathering Dufan itu, dia nggak kagok dan muter-muter nyari rumah cuma buat jemput saya. Mendingan kita tersesat sama-sama sebelum hari H. :D Jadilah daripada menghabiskan waktu di jalan sebelum gathering, kami sepakat buat dia menjemput saya tanggal 9 Desember itu di bandara.

Tips #1 sebelum travelling dari saya:
Rajin-rajin cari informasi buat harga semua jenis kendaraan menuju kota travelling kamu. Dan pilih-pilih secara cerdas kendaraan apa yang harga dan resikonya seimbang sesuai dengan kebutuhan kamu.

Selain  kendaraan menuju kota tujuan, kamu juga harus memikirkan hari yang tepat buat berangkat, jam, tempat transit, kendaraan yang bakalan membawa kamu dari tempat pemberhentian macam stasiun ato bandara menuju tempat tujuanmu. Kalo kata sodara saya, mending naek busway, tapi saya engga mau naek busway sendirian waktu pertama kali naek, soalnya saya udah denger-denger cerita serem soal busway. Kalo kamu takut naek apapun, sedangkan bajaj pun kamu juga takut. Percayalah pada armada taksi. Tapi dengan merek tertentu. Taksi di Jakarta banyak yang jahat. Dan kalo taksi saya cuma percaya sama Blue Bird.

Oke, see ya on the next topic sebelum keberangkatan liburan saya. Whoaaaa, the next, saya lagi mikirin jenis tas yang harus dibawa, travel bag ato tas tenteng biasa. Xoxo.

Anyway, Happy Iedul Adha everyone!!!! And goodbye for all cows, sheeps, goats and camels that dead today and tomorrow! Dan selamat menikmati jamuan daging merah sepanjang hari, hoek….

Monday, November 15, 2010

Dear Past.... :'(

Well, past, I know you are some kind a part of my life.
You and the people around you was amazing journey that I’ve ever had.
But past, please listened this song carefully….
So, you can let me be free….


It seems all of these words couldn't be further from the truth
How did I get here? What did I do?

Your eyes, telling me lies
And making me find myself
While you have your agenda, a life to pursue

So please,
Let me be free from you.
And please, let me be free
I can face the truth.

I'm blind to all of your colors
That used to be rainbow then
My eyes, where did they go to?
Why disappear?

It's hard to be all alone
I never got through your disguise
I guess I'll just go, and face all my fear

So please,
Let me be free from you
And please, let me be free
I can face the truth.

Put down your world
Just for one night
Pick me again

So please,
Let me be free from you
And please, let me be free
I can face the truth

(Secondhand Serenade-Pretend)

Saturday, November 13, 2010

Fams, The Important things of Life

Saya itu lebih dekat sama sodara-sodara sepupu, dibanding keluarga inti saya sendiri. Aneh ya? Yup. Soalnya dari kecil saya jarang banget ngabisin waktu sama keluarga inti saya. Mentok-mentok sama kakak perempuan saya, tapi itu pun udah jarang banget sekarang, becaused she was getting married and build her own small family with her husband.

Dari kecil, saya udah nggak tinggal sama si Bapak, sejak Ibu saya pergi dipanggil sama Dia, our Owner of Life. Kakek nenek saya penganut Kejawen yang taat, dan baru mengenal agama Muslim di masa-masa akhir usia mereka. Tapi, meskipun begitu, mereka masih aja menjalani dan mempercayai hal-hal berbau Kejawen macam keris, perhitungan hari berdasarkan weton, tanggal lahir dan bla bla bla lainnya yang nggak make sense buat saya sekarang.

Anyway, itulah yang membuat saya tinggal sama si Eyang Putri dan Eyang Kakung sejak saat itu, -begitulah cara saya panggil Kakek dan Nenek saya, like the other Javanesse peoples called their Grandpa and Grandma.

Yeah, I’m a trully javanesse people, btw. And you can see it on how I spoke, I told to anybody, and my face, fisically. Eyang, percaya bahwa hari weton saya dan si Bapak yang kebetulan sama itu nggak bisa digabungin dalam satu rumah, karena kita bakalan sering berantem dan beda pendapat. Saya nggak percaya sih, tapi kenyataannya, emang saya sama si Bapak nggak pernah nyambung kalo ngomong bareng.

That’s why, saya lebih deket sama sodara sepupu-sepupu saya. Biasa, rumah Eyang adalah rumah berkumpul semua anak, menantu dan cucu-cucunya. Kakak saya pendiam dan saya hyperaktif. Selain itu, jarak usia kita berdua lima tahun, cukup jauh buat kita berdua untuk hidup di jaman yang berbeda. Ibaratnya, waktu saya SMP saya udah kenal Handphone butut Nokia 3210, yang motonya begitu kecil begitu cerdas itu, sedangkan waktu kakak saya SMP, dia masih sibuk ikut korespondensi, surat menyurat sama apa yang disebutnya sebagai sahabat pena, orang yang dikenalnya lewat majalah, or whatever.

Tapi, walo saya tinggal sendiri di rumah terpisah, sepupu-sepupu saya masih suka datang, apalagi mereka yang harus kuliah di kota-kota terdekat. Kita ngobrol nggak jelas sampai malam, karokean, curhat-curhatan sampe jadi bahan ledekan, jalan-jalan keliling-keliling sambil cari makanan di emperan, kegiatan favorit saya dan sepupu-sepupu kalo sepanjang hari itu nggak ada kerjaan. Dan hari saya kembali bakalan sepi ketika mereka pulang.

Bencana Merapi membuat salah satu sepupu saya yang kuliah di Jogja ngungsi ke rumah. Udah beberapa hari dia menemani saya. Kita makan bareng, internetan, ngegosip, jalan ke mall, apapun yang dilakuin orang kurang kerjaan seperti kami. Dan rumah saya mendadak rame ketika akhirnya sepupu saya yang kuliah di Undip datang dan ikut-ikutan gabung bareng kami. Semalaman kami ngobrol bareng, paginya, sepedaan keliling kota dan berakhir makan di emperan alun-alun kota menikmati es buah dan jajanan pasar.

Saya masih bersyukur banget, walopun si Bapak cuek dan selalu aja nggak pernah punya kesan peduli sama saya, saya masih punya mereka. The cousins. Enggak tau kenapa, tapi nyenengin aja ngabisin waktu sama mereka. Mereka adalah bagian dari hidup saya, kenakalan-kenakalan remaja kami yang hampir sama, memiliki darah keluarga yang sama, sama-sama hidup di perantauan dan rumah ini selalu jadi tujuan mereka untuk pulang.

How old are you may be, fams is the most important things of life. I know, maybe I’m not having a perfect family, like yours, a perfect Dad that always be there read his newspaper and drink the beer and also pick up you from your school, a beautiful Mom with her amazing food for dinner and always be there when you told how you broke your day, boyfriend, bestfriend or whatever, anything about your drama of life. Or may be a sister that shared with you her clothes, her first kiss, her experienced of make up, fashion or everything about the girls things. Or a brother, that help you learn how drive a car or cycle, fight for you when someone else makes you cry, pick you up from your dates with a boyfriend, something like that. Yeah, I don’t have it.



Tapi, saya tahu, Dia itu selalu adil. Hanya mungkin Dia mengatakannya pada satu orang dengan orang lainnya dengan berbeda cara. Dia mengganti semua itu dengan kehadiran orang-orang lain yang selalu ada di samping saya. The cousins, the other parents that I called Mom and Dad, bestfriends, boyfriend that one come and one go, pets, everyone in my life. Yang datang dan pergi dengan tujuan mereka masing-masing. Saya selalu percaya orang dipertemuin dengan orang yang satu, pasti ada tujuannya. Mereka membuat hidup kita berwarna. Sometimes, dari mereka kita belajar hal-hal yang membuat kita bisa tetap menjalani hidup.

So, whoever you are, dear. Bersyukurlah jika kamu masih punya keluarga yang lengkap. Manfaatkan waktumu sebaik-baiknya saat kamu masih punya kesempatan itu. Kalopun enggak, saya yakin ada harta-harta lain dalam kehidupan ini yang belum kamu sadari adalah sesuatu yang berharga sekali.

Oke times up, saya harus lanjut ngerevisi skripsi. Thanks for the days, cousins. :)


And, oh yeah, congratulations for your big day, honey. Sometimes, I wish I could be there, watch you with your best clothes, giving you the congratulations speech :D, but you know I can’t do that for some reasons. And you know I love you too much. :)  

Wednesday, November 10, 2010

My (Not Yet) Happy Ending #1

The started….



Saya sama si pacar paling enggak udah hampir setengah tahun pacaran jarak jauh. Usia yang masih muda banget buat saya mengingat rekor pacaran terlama saya itu 3 tahun, itu pun nggak jarak jauh. Pacaran jarak jauh saya itu dua kali kalo dihitung sama yang sekarang. 


Tapi yang pertama diakhiri saya diselingkuhi waktu jalan setahun pacaran. Rada trauma juga sih, tapi gimana lagi, saya ngga bisa nyerah gitu aja, saya suka sama resiko, suka bagaimana passionnya, prosesnya, hingga kita tau itu harus berakhir atau berlanjut. Dan ngerasain gimana kita jatuh, berdiri, jatuh hingga berdiri lagi.

Walopun ini terbentang jarak, dan syukur banget deh belom terbentang waktu, saya selalu berharap setiap kali menjalin hubungan sama seseorang, siapapun dia adalah hubungan pacaran yang terakhir. Saya selalu bertanya-tanya apakah itu adalah The Last Stand, pemberhentian terakhir saya. Atau justru sebaliknya.

Tapi kalopun akhirnya enggak, dan Dia menghendaki saya masih harus melanjutkan perjalanan, saya nggak punya pilihan lain. I’m just an ordinary girl.

Saya orang yang open-minded, saya enggak pernah punya kriteria tertentu waktu pacaran sama seseorang. Kalo ditelusuri, dari pacaran main-main saya waktu SD sampai pacaran serius seperti sekarang, saya nggak pernah menjalin hubungan dengan orang yang punya ciri khas tertentu. Istilahnya random. Misal ada cewek yang suka sama cowok tinggi, cowok berkulit putih, cowok smart, dan laen-laen, -cowok dengan kriteria tertentu seperti itu. Saya enggak sama sekali.



Pastinya, bener kata Mario Teguh, orang baik akan mendapatkan orang baik pula. Saya bukannya sok baik atau gimana. Anyway, tapi jujur, saya nggak pernah tuh dapat cowok yang macem-macem. Kalo nakal-nakal khas cowok itu sih biasalah, kayak kebut-kebutan, cabut dari kelas, ngerokok, sesekali nyobain minuman alkohol buat seru-seruan, hal-hal yang nyerempet bahaya semacam itu. Kenakalan khas cowok di masa mudanya, wajarlah.

Btw, saya garis bawahi nyerempet ya. Bukan bahaya beneran macam nge-druggs, mabok-mabokan, free sex, clubbing sama orang-orang nggak jelas, bersyukur banget saya nggak pernah dideketin orang macem gitu. Bukan gaya hidup kaya gitu salah ya, karena buat saya, yang menentukan sesuatu itu benar atau salah, cuma diri kita sendiri. :)

Pacar saya ini aja saya kenalan lewat game online. Yeah, game online (*rolling eyes). Rasanya konyol banget, tapi begitulah kejadiannya. Saya itu diam-diam gamers, cuma beberapa orang yang tahu kalo saya suka begadang cuma karena maen game online, bahkan keluarga saya pun mikirnya saya ngehabisin waktu masih maen game The Sims, satu-satunya jenis game yang mereka tahu karena user interfacenya yang menarik banget untuk segala umur.


Di game, orang bisa berinteraksi sama orang walopun belum ketemu. Kayak chattingan, perang ngelawan musuh sama-sama, sampe ajang curhat sama-sama yang mungkin bikin kita tertarik satu sama lain. Tadinya cuma tukeran ym, fb, standarlah, sampe nomor telepon. Dari cuma curhat, ngobrol serius, dengerin musik yang sama, ngebagi cerita lucu, konyol-konyolan nggak jelas, saling kasih semangat, saya akhirnya bisa jatuh cinta beneran sama dia. Anyway, kita bahkan belum ketemu secara langsung, pasti dan lama. Konyol kan?

Jaman sekarang, orang bisa dengan mudah jatuh cinta cuma karena kita nyaman ngobrol padahal jelas-jelas belum ketemu, nggak kayak jaman dulu. Apalagi sekarang udah dipermudah dengan adanya jejaring sosial, kita bisa liat orang itu seperti apa, cuma dengan liat akun yang dia miliki, komentar teman-temannya, foto-fotonya atau apapun yang kita masukkan sebagai biografi di akun kita.

Tapi, bener kata Raditya Dika di bukunya Marmut Merah Jambu, kenal seseorang lewat dunia maya seperti tebak-tebakan buah manggis. Kita bener-bener ngga bisa percaya akun itu seratus persen berisi informasi yang benar. Semua orang bisa membuat image dia sendiri dengan tulisan. Kita bahkan bisa menyembunyikan sifat-sifat asli kita karena kita cuma bisa mengandalkan satu hal, tulisan tulisan itu. Tulisan nggak pernah bisa mewakili segalanya.

Saya sama si pacar juga sadar hal itu. Hubungan kayak gini, gak ada interaksi langsung bahkan sampai selama setengah tahun lebih mengenalnya, itu nggak cukup. Nggak pernah cukup. Kita putuskan, kita harus ketemu. Saya harus bisa jatuh cinta sama hal lain dalam diri dia. Bukan cuma tulisan dan suara di telepon.

Saya ingin jatuh cinta juga sama cara dia ketawa, cara dia berjalan, cara dia mungkin memandang saya, cara dia makan, bahkan hingga keburukannya seperti mungkin ngupil, kentut sembarangan sampai cara dia marah atau cemburu. Saya tetep pengen jatuh cinta dengan normal.

Namun jika akhirnya dia enggak sebegitu interest dengan kita nggak seperti ketika dia di dunia maya, kita harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Karena selama ini kita hanya hidup lewat bayang-bayang. Ibaratnya, kita kayak jatuh cinta sama bayangan kita sendiri, dia ada, dia mengikuti kita, dia merasakan kita ada, dan kita bisa merasakan dia ada, tapi kita nggak bisa menyentuhnya. :)

Anyway, saya yakin, kamu pernah mengalami cyber love, cinta dunia maya. Ada ribuan orang di dunia ini yang sama kayak saya. Saya di sini cuma berdoa, saya cuma berusaha menemukan orang yang tepat, kalo akhirnya dialah orang yang tepat itu, saya akan membagi apapun dalam hidup saya sama dia entah sampai nanti. Tapi kalo ternyata enggak, saya akan coba menerima kenyataan. Well, kita kadang harus bertemu orang yang salah dulu, banyak sekali orang yang salah, untuk sampai bertemu orang yang benar.

Untuk sampai ke sana, ada ribuan jalan harus dilewati, nggak gampang. Bahkan kadang kita harus dihantui rasa curiga, kekecewaan, ketidakpedulian, tangis, segala bentuk yang bersifat emosional sampai tawa dan kebahagiaan.  Tapi begitulah manusia, kadang udah sampai mati rasa, kita nggak pernah ngerasa kapok untuk mencari sesuatu yang kita inginkan.

Saya nggak percaya sama orang yang bilang udah nggak mau ngerasain jatuh cinta. Its beauty you know, bahkan hingga rasa sakitnya kalo kamu kenang bertahun-tahun lagi dari sekarang. Saat itu, saat ketika kamu udah merasa forgive and forget, justru bisa membuat kamu tertawa-tawa.

At least, setiap orang pengen punya kisah happy ending. Saya juga. Kamu juga pastinya. Ayo kita berjuang sama-sama mencari ending itu. Gimanapun caranya.

Cause if one day you wake up and find that you're missing me
And your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thinking maybe you'll come back here to the place that we'd meet
And you'll see me waiting for you on our corner of the street
So I'm not moving, I'm not moving
(The Script-The man who can’t be moved)

Story of a Foolish-man #1

Pernah ngga kalian diajakin kenalan sama orang lewat sms cuma gara-gara orang itu sms nyasar sama kita. Beberapa ada yang emang iseng. Kadang memang ada yang beneran nyasar, apalagi kalo kita punya nomer cantik yang nomernya gampang diingat kaya punya saya, kebalik dikit udah pasti mungkin ada orang di luar sana yang punya nomor tersebut.

Soal ngubah sedikit dijit nomor, saya sebenernya engga percaya sama kebetulan tersebut. Kayak di bukunya Dan Brown, Deception Point kalo nggak salah, kemungkinan kombinasi nomor telepon itu bisa menghasilkan sebuah nomer telepon yang bisa dihubungi itu caranya:

Jumlah dijit nomor telepon dipangkatin jumlah dijit nomor telepon. Hitung aja sendiri. Misalnya nomor digit handphone kita itu 12 ya uda dipangkatin aja sama 12. Hasilnya 8.916.100.448.256 kemungkinannya menghasilkan nomor telepon yang benar untuk dihubungi.

Jadi, hey kalian para cewek (*kebanyakan cewek nih dikibulin), kalo ada sms minta kenalan dengan alasan ngutak atik nomor dan eh ternyata nyambung ke nomor kamu, bla bla bla, that’s ridiculous reason, jawab aja dengan hasil kemungkinan di atas. Pastilah dia akan berhenti mengganggumu, karena ada dua kemungkinan di sini. Dia pikir kamu adalah cewek freak yang suka banget matematika dan yang kedua adalah orang gila.

Saya enggak pernah masalah dipikir dua cewek seperti itu sama orang yang ngajak kenalan nggak jelas kaya gitu.

Back to the topic. Jadi, siang tadi ada beberapa sms nyasar ke nomer saya. Konyol aja ingat ending dari cerita ini.

Pertama ada sms yang isinya ngisiin pulsa saya. Lumayan. 5000 perak. Saya sempet mikir itu kakak saya ato suaminya, soalnya mereka kadang gitu kalo lagi baek. Tapi saya buru-buru sadar mereka kalo ngisiin pulsa itu banyak-banyak, dari 25 ribu sampe seratus ribu. Ini 5000 doang. Duh.

Setelah sms ngisiin pulsa itu ada sms berbunyi, sumpah bahasanya alay banget. Kayak gini:

“Aeeee. Nech no.nya cher bukand? Ud masuk khand puLs4nyah?”

Saya ngebaca sms itu walo singkat pun mata masih ngerasa jereng. Akhirnya saya balas, soalnya nih kayaknya dia yang kirim pulsa sama saya. Padahal nama saya ngga ada cher-cher-nya.

“Ni sp y?”

Beberapa menit kemudian, dia balas lagi.

“Aq junpiu, dh msk yum cher, puLsanyah?”’

Yam yum yam yum. Udah alay, sok imut pula ni orang. Kayaknya sih cowok.

“Errr, kayaknya mas slh krm. Ak bkn cher. G kenal org nm junpiu jg. Tp ni pulsanya gmn?”

Dia balas lagi.

“Oh, bukand yach. Y udh. puLsanya bwad kmuh ajjah…. Sorry…”

Lumayan, batin saya. 5000 sih bisa buat nelepon sama internetan lebih dari cukup.

“OK. Tengkiu.”

Padahal saya sebenernya ada niat entar habis pulang kuliah mau nuker pulsanya dia. Soalnya saya orangnya nggak enakan. Apalagi sama orang yang nggak dikenal kayak gini.

Pas saya pikir dia udah mengakhiri smsnya sama saya dan menyerah atau mungkin seperti dalam bayangan saya dia akhirnya berusaha menghubungi cher yang dia maksud itu, eh dia sms saya lagi.

“KaLo kmuh bukand cher, boLeh gga kenaLan? Nama amu ciapaah?”

Oh oke. Saya mulai males kalo kayak gini. Ujung2nya minta kenalan. Hallloooo? Nyasar, nyasar aja kali. Kok ujung2nya kepedean minta kenalan. Apakah orang ini nggak tau malu? Coba kalo yang dia sasarin smsnya ini bukan saya, cewek cantik yang berusia 21 tahun? Wkwkwkwkwkwkwk, nggak usah iri saya bilang gitu. Muntah muntah aja deh, saya udah duluan kok. :D

Tapi sumpah deh, nih cowok ngga tau malu banget. Coba kalo saya itu ternyata ibu-ibu rumah tangga usia kepala 5. Apa nggak malu dia?

Terbersit niat saya buat ngerjain. Hahahahaha. Tapi, ah malas juga nanggepin sms konyol kayak gini. Akhirnya saya milih nggak balas sms dia lagi dan berkutat dengan kesibukan saya hari itu. Sahabat saya, yeah, si Nova, ngakak-ngakak waktu saya kasih liat sms cowok nggak jelas bernama junpiu itu.

Sorenya, pas saya udah sampe rumah, dia sms lagi. Dua kali.

Sms pertama: “Duh. kaLo kmuuh bukand cher, baLikind puLsanya dunk.”

Mantap. Udah nggak jelas, ngeselin eh plin-plan pula. Apakah cowok yang saya hadapi adalah anak SMA? Saya sih nggak peduli dia anak SMA atau bukan.

Sms kedua: “Ayo dunk baLikind puLsanyah. Nama amu ciapaaa cih?”

Oke. Enough. Ujan deres banget di luar dan saya malas keluar rumah cuma buat ngisiin pulsa orang kayak gini. Akhirnya, saya sms temen saya yang jualan pulsa, minta dia kirimin 5000 itu ke cowok bernama junpiu ini.

Setelah berapa lama dan mungkin karena pulsa itu dah balik lagi ke dia, nggak ada sms dari si junpiu itu lagi.  Dia berhenti. Haha.

Oh, oke, hey, cher, di manapun kamu berada, terimakasih ya udah kasih nomor yang salah sama cowok kenalan kamu? Atau tulisanmu terlalu bagus untuk dia baca sebagai nomor kamu sendiri? Atau hey, kamu junpiu, lain kali nggak usah kirimin pulsa dulu. Yakinin dulu nomornya bener atau enggak. Kalo kamu mutusin buat ngiklasin 5000 perak itu sama orang yang salah, serius dong iklasinnya. Jangan minta balik lagi. Lagian 5000 doang. -_-

Malamnya pas saya lagi benerin printer yang ngadat (baca keadaan saya sama si printer: kesel, pengen ngebanting si printer dan tangan belepotan tinta), ada sms masuk. Saya pikir si pacar makanya saya bela-belain buka sms itu dengan belepotan tinta, eh ternyata….

“Kamuhh beneran bukand cher?”

Dammit. Tuhan telah menambahkan satu makhluk bodoh lagi di dunia.